Loading...

KENALI HAMA TANAMAN CABAI DAN PENGENDALIANNYA

KENALI HAMA TANAMAN CABAI DAN PENGENDALIANNYA
Kutu Kebul, Besisia tabaci Kutu kebul adalah hama yang sangat polifag,menyerang berbagai jenis tanaman seperti tanaman sayuran, buah-buahan, tanaman hias, maupun tumbuhan liar, terutama family Solanaceace. Kerusakan langsung pada tanaman disebakan oleh imago dan nimfa B. tabaci yang mengisap cairan daun, berupa gejala bercak nekrotik pada daun akibat rusaknya sel-sel dan jaringan daun. Selain kerusakan langsung oleh isapan imago dan nimfa, kutu kebul sangat berbahaya karena dapat bertindak sebagai vector virus, terutama Geminivirus, Closterovirus, Nepovirus, Carlavirus, Nepovirus, Carlavirus, Potyvirus dan Red-shape DNA Virus. Pengendalian: Kultur Teknis: a) menanam pinggiran lahan dengan tanaman jagung, orok-orok dan kacang panjang sebagai barier, b) pola tanaman tumpangsari dua baris yanaman cabai dengan satu baris tanaman jagung, c) pergiliran tanaman, d) sanitasi lingkungan, e) tumpang sari tanaman cabai atau tomat dengan tagetes untuk mengurangi resiko serangan, dan f) pengaturan jarak tanam yang tidak terlalu rapat Fisik/mekanik: a) pemasangan perangkap likat berwarna kuning (40 buah per ha), b) pemasangan kelambu di pembibitan atau membuat rumah pembibitan yang terbuat dari kain kasa, c) sisa tanaman yang terserang dikumpulkan dan dimusnahkan. Biologi: a) pemanfaatan musuh alami seperti parasitoid Encarcia formosa, predator Coccinella septempunctate, Coenosia attenuate, pathogen serangga, dan b) penggunaan pestisida nabati Nimba, Tagetes, Eceng Gondok, atau Rumput Laut. Kimiawi: jika pada saat pengamatan ditemukan 7 ekor kutu daun/10 tanaman contoh atau presentase kerusakan oleh serangan hama pengisap telah mencapai 15% per tanaman contoh, dianjurkan menggunakan pestisida kimia sintetik yang terdaftar dan diizinkan oleh Menteri Pertanian, misalnya yang berbahan aktif seperti diafetiuron dan tiametoksam. Thrips, Thrips parvispinus (Karny.) Hama ini menyerang tanaman dengan mengisap cairan permukaan bawah daun (terutama daun-daun muda). Serangan ditandai dengan adanya bercak-bercak putih/ keperak-perakan. Daun yang terserang berubah warna menjadi coklat tembaga, mengeriting atau keriput dan akhirnya mati. Pada serangan berat menyebabkan daun, tunas atau pusuk menggulung ke dalam dan muncul benjolan seperti tumor, pertumbuhan tanaman terhambat dan kerdil bahkan pucuk tanaman menjadi mati. Pengendalian: Kultur teknis: a) penggunaan mulsa plastic MPHP yang dikombinasikan dengan tanaman perangkap. Cara ini cukup efektif untuk menunda serangan yang biasanya terjadi pada umur 14 HST menjadi 41 HST. b) populasi thrips biasanya meningkat pada musim kemarau pada kondisi cuaca kering dan tidak menyukai kondisi yang lembab. Pengairan yang cukup merupakan salah satu cara pengendalian untuk thrips, misalnya mempertahankan permukaan air di parit pada ketinggian 15-20 cm dari permukaan bedengan untuk menciptakan kondisi yang lembab di sekitar tanaman. c) tumpang sari tanaman cabai dengan kubis atau tomat dapat menekan populasi T. parvispinus, B. tabaci, dan B. dorsalis dan pengaturan jarak tanamn yang tidak terlalu rapat. Fisik/ mekanik: a)sanitasi lingkungan, b) mengambil thrips dengan menggunakan kapas (cooton bud) Biologi: pemanfaatan musuh alami seperti predator Coccinella rapanda, jamur pathogen Verticillium lecani (konsentrasi 3 x 108 spora/ml) dan Entomophthora sp. Kimiawi: jika pada saat pengamatan ditemukan 0,7 ekor kutu daun/ tanaman contoh (7 ekor nimfa/10 daun) atau presentase kerusakan oleh serangan hama pengisap telah mencapai 15% per tanaman contoh dianjurkan menggunakan pestisida kimia sintetik yang terdaftar dan diizinkan oleh Menteri Pertanian, misalnya yang berbahan aktif seperti abamectin, spinosad, imidakloprid, karbosulfan dan diafentiuron. Tungau, Polyhagotarsonemus latus Banks Hama mengisap cairan tanaman dan menyebabkan kerusakan, sehingga terjadi perubahan bentuk menjadi abnormal seperti daun menebal dan perubahan warna daun menjadi tembaga/kecoklatan, terpuntir, menyusut serta keriting, tunas dan bunga gugur. Pengendalian: Kultur Teknis: a) sanitasi dengan memusnahkan tanaman yang terserang Biologi: pemanfaatan musuh alami seperti predator (Amblyseius cucumeris) Kimiawi: apabila cara lain tidak dapat menekan populasi hama, dapat diaplikasikan dengan pestisida efektif dan terdatar Kutu Daun Persik, Myzus persicae Sulz Menyerang tanaman dengancara mengisap cairan daun muda dan bagian pucuk tanaman. Cairan yang dikeluarkan kutu daun ini mengandung madu yang dapat mendorong tumbuhnya cendawan jelaga pada daun sehingga menghambat proses fotosintetis Pegendalian: Kultur tenis: a) melakukan eradikasi gulma dan bagian-bagian tanaman yang terserang kemudian dibakar, b) tumpangsari tanaman cabai merah dengan bawan daun dapat menekan serangan kutu daun persik karena bawang daun bersifat pengusir hama ini, c) penggunaan tanaman perangkap seperti tanaman caisin yang ditanam disekeliling tanaman cabai merah karena caisin lebih disukai kutu daun persik dari pada cabai merah. Biologi: musuh alami yang potensial menyerang kutu daun persik dilapangan antara lain parasitoid Aphidius sp, predator kumbang Coccinella transversalis, larva Microphis lineate, Veranius sp dan pathogen Entomopthora sp. Kimiawi: apabila jumlah kutu daun lebih dari 7 ekor per 10 daun atau kerusakan tanamna lebih dari 15% per tanaman penyemprotan yang efektif sebaiknya dilakukan pada senja hari sesuai dengan anjuran. Lalat Buah, Bactrocera sp. Lalat buah merusak buah cabai dengan cara merusak dan meletakkan telur dibawah kulit buah yang lunak, baik pada buah matang atau pada buah yang masih hijau. Telur menetas dan memakan buah bagian dalam yang menyebabkan buah menjadi busuk akibatnya buah tidak dapat dipasarkan. Luka-luka pada buah yang disebabkan oleh larva lalat buah memberi peluang untuk organisme sekunder menyerang seperti bakteri dan cendawan yang selanjutnya berkontribusi menyebabkan kerusakan buah. Pengendalian. Kultur teknis: a) sanitasi, buah yang memperlihatkan gejala terserang lalat buah seharusnya dilepas dari pohonnya dan dimushkan. Praktek ini dapat mengurangi tingkat populasi awal lalat buah untuk priode tanaman berikutnya. b) panen lebih awal, tanaman cabai memungkinkan panen buah lebih awal untuk menghindari serangan lalat buah karena lalat buah lebih sukamenyerang buah pada fase matang. c) tumpang sari tanaman cabai dengan kubis atau tomat dapat menekan populasi lalat buah dan pengaturan jarak tanam yang tidak terlalu rapat Biologi: pemanfaatan musuh alami seperti parasitoid family (Biosteres sp., Opius sp.), predator family Formicidae (semut), Solnopsis geminate, Arachinidae (laba-laba), Staphylinidae (kumbang), Dermaptera (cocopet) dan pathogen serangan Bacillus thungiensis. Kimiawi: menggunakan pestisida kimia sintentik yang terdaftar dan diizinkan oleh Menteri Pertanian, misalnya yang berbahan aktif profenofos, deltametrin, beta siflutrin dan imidakloprid. Ulat Grayak, Spodoptera litura Fabricius Ulat grayak salah satu hama penting tanaman cabai yang bersifat polifag. Gejala kerusakan pada tanaman ini diserangnya beragam tergantung pada tingkat perkembangan ulat. Larva yang masih kecil merusak daun dengan meninggalkan sisa-sisa epidermis bagian atas, transparan dan tinggal tulang-tulang daun saja. Larva instar lanjut merusak tulang daun dan kadang menyerang buah. Biasanya larva berada dibawah permukaan daun, menyerang secara serentak berkelompok. Gejala serangan pada buah ditandai dengan timbulnya lubang tidak beraturan pada buah. Serangan berat menyebabkan tanaman gundul karena daun dan buah habis dimakan ulat. Umumnya terjadi pada musim kemarau. Pengendalian: Kultur teknis: sanitasi lahan dari gulma dan pengolahan tanah yang intensif Biologi: pemanfaatan musuh alami pathogen seranggan SI-NPV (Spodoptera litura-Nuclear Polyhedrosis Virus), Beauveria bassiana, Bacillus thuringiensis, Metarhizium anisopliae, Aspergillus flavus, predator (Carabidae, Andrallus sp. Rhinocoris fuscipes), parasitoid (Cotesia ruficrus, Apanteles sp., Telonomus spodopterae, Trichogramma sp., Eriborus argenteopilosus) Kimiawi: jika serangan ulat grayak sudah mencapai ambang pengendalian yaitu kerusakan daun sebesar 12,5% pertanaman contoh, baru digunakan pestisida kimia sintetik yang terdaftar dan diizinkan oleh Menteri Pertanian, misalnya yang berbahan aktif seperti betasiflutrin, klorfluazuron, lufenuron dan sipermetrin Ditulis Oleh: Yesika Resonya Silitonga, SP Sumber Bacaan: Petunjuk Teknis Budidaya Cabai Merah Ramah Lingkungan, Loka Pengkajian Teknologi Pertanian Sulawesi Barat 2012