Gender Judith Lorber (1994) berpendapat bahwa gender adalah sistem sosial yang mengatur perbedaan-perbedaan antara laki-laki dan perempuan, serta menciptakan struktur dan norma-norma yang mempengaruhi interaksi sosial dan pembagian peran dalam masyarakat. Sedangkan Anne Fausto-Sterling menekankan pendekatan yang lebih luas terhadap gender, mengakui kompleksitas interaksi antara faktor biologis, sosial, dan budaya dalam membentuk identitas gender. Pendapat lain tender sebagai performative, yaitu tindakan yang terus menerus berulang dalam membentuk identitas individu. Dalam tulisan ini, untuk memudahkan dalam pembahasan gender kita artikan sebagai peran laki-laki atau perempuan dalam kegiatan di lingkungan sosialnya. Lingkungan sosial dimulai dari keluarga, sampai dengan masyarakat luas. Kesetaraan gender Kesetaraan gender adalah prinsip fundamental yang memandang bahwa semua individu, tanpa memandang jenis kelamin, memiliki hak yang sama untuk mengakses sumber daya, kesempatan, dan keputusan yang memengaruhi kehidupan mereka, termasuk menikmati hasil dari pemanfaatan sumberdaya tersebut. Hal ini mencakup penghapusan diskriminasi berdasarkan jenis kelamin, serta memastikan partisipasi aktif dan setara dari pria dan wanita dalam semua aspek kehidupan sosial, politik, dan ekonomi. Beberapa implementasi dalam kesetaraan gender adalah kesempatan yang sama untuk mengikuti pendidikan, bekerja, berpolitik, Implikasi Positif Kesetaraan Gender: Peningkatan Pertumbuhan Ekonomi, Kesetaraan gender dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi dengan memanfaatkan potensi penuh dari seluruh angkatan kerja dan pengusaha. Kesejahteraan Keluarga yang Lebih Baik, Kesetaraan gender membawa manfaat bagi keluarga dengan mendorong keseimbangan peran dalam rumah tangga, meningkatkan kesejahteraan anak-anak, dan mendukung pembagian tanggung jawab yang adil antara pria dan wanita. Penguatan Hubungan Sosial, Mendorong kesetaraan gender memperkuat hubungan sosial dan mengurangi ketegangan dalam masyarakat dengan menciptakan lingkungan yang inklusif dan adil bagi semua individu. Peran Anggota Keluarga dalam Ketahanan Pangan Keluarga Keluarga memainkan peran kunci dalam memastikan ketahanan pangan, yang melibatkan akses yang memadai terhadap makanan yang bergizi, aman, dan mencukupi untuk semua anggota keluarga. Dalam konteks ini, peran anggota keluarga, termasuk pria dan wanita, sangat penting untuk memastikan keberlanjutan dan keberhasilan ketahanan pangan keluarga. Pemenuhan Kebutuhan Makanan: Anggota keluarga bertanggung jawab untuk berkontribusi dalam memastikan tersedianya makanan yang cukup dan bergizi bagi keluarga. Ini melibatkan peran dalam memproduksi, membeli, atau mengelola sumber daya untuk memperoleh makanan. Pendapatan dan Pekerjaan: Pria biasanya bertanggung jawab untuk menyediakan pendapatan keluarga melalui pekerjaan formal atau usaha mandiri. Pekerjaan pria sering kali berkontribusi pada sumber daya finansial yang diperlukan untuk membeli makanan dan memenuhi kebutuhan keluarga. Wanita selain memainkan peran dalam memperoleh pendapatan, wanita juga sering kali bertanggung jawab untuk mengelola anggaran keluarga, membeli makanan, dan memasak untuk keluarga. Mereka sering menjadi pengelola utama ketahanan pangan di rumah tangga. Peran Rumah Tangga, Anggota keluarga, terutama wanita, juga bertanggung jawab untuk mengelola persediaan makanan di rumah tangga. Ini meliputi penyimpanan, pengolahan, dan pengawetan makanan agar tetap segar dan tersedia sepanjang waktu. Pendidikan dan Kesadaran Gizi, Semua anggota keluarga, baik pria maupun wanita, berperan dalam meningkatkan kesadaran akan pentingnya gizi dan pola makan sehat. Mereka dapat saling mendukung untuk mengadopsi praktik makan yang sehat dan memastikan anak-anak mendapatkan asupan gizi yang cukup. Peran sekarang dan masa datang Terdapat hubungan antara tingkat pendapatan keluara dengan partisipasi anggota keluarga dalam ketahanan pangannya. Semakin kecil pendapatan keluarga maka tuntutan peran seluruh anggota keluarga terhadap ketahanan pangan keluarga semakin besar. Batasan-batasan seringkali kurang dipatuhi, semisal anak-anak harus ikut mencari uang dengan berbagai cara, seperti buruh angkut, mensortir produk, berjualan keliling dan sebagainya yang sebenarnya tidak diperbolehkan. Keluarga dengan tingkat penghasilan rendah orientasinya cenderung jangka pendek, yaitu untuk makan hari ini dan esok. Sementara untuk keluarga dengan pendapatan tinggi, pembagian peran akan semakin jelas. Kondisi tersebut misalnya kepala keluarga/ayah bekerja mencari nafkah, ibu fokus pada pengelolaan rumah tangga, dan anak bersekolah. Orientasi keluarga dengan tingkat ekonomi yang semakin baik, maka orientasinya adalah ke masa depan, sebab kebutuhan pokok tidak lagi menjadi persoalan. Pemikiran makanan sehat, estafet kekuasaan atau usaha menjadi pemikiran keluarga ini. Namun demikian, peran anggota keluara juga dapat dipengaruhi oleh kompetensi dari setiap anggotanya, misal suami bekerja, istri bekerja, anak berjualan online. Meskipun demikian peran utamanya tetap dijalankan dengan berbagai toleran. Karena istri bekerja maka suami akan memberikan tolerasi apabila istri tidak sepenuhnya mengurus rumah tangga, atau siap setiap saat berinteraksi tatap muka saat di rumah, demikian pula bila istri bekerja, maka akan toleran bila istri juga membelanjakan penghasilannya untuk kebutuhan kelurga. (Edp/AI/Penyuluh)