Loading...

KESIAPAN SUMBERDAYA MANUSIA MENANGGULANGI KEBAKARAN HUTAN

KESIAPAN SUMBERDAYA MANUSIA  MENANGGULANGI KEBAKARAN HUTAN
Pencegahan lebih baik daripada pengobatan, pernyataan ini juga berlaku untuk kebakaran hutan. Dengan program pencegahan yang baik maka kebakaran tidak perlu terjadi, sehingga biaya pemadaman dapat diperkecil serta kerusakan akibat kebakaran dapat dihindarkan. Hal ini dapat dicapai melalui pendidikan/penyuluhan, praktek silvikultur yang tepat, modifikasi bahan bakar, serta penegakan peraturan perundang-undangan. Pendidikan/penyuluhan. Sebagian besar kebakaran di Indonesia disebabkan oleh manusia, baik oleh sebab kelalaian maupun kesengajaan, maka dukungan dan kerjasama masyarakat menjadi penting agar program perlindungan hutan dan lingkungan dapat berhasil. Untuk itu sangat perlu adanya penyuluhan dan pendidikan untuk menarik minat masyarakat terhadap perlindungan hutan dan membuat mereka peduli terhadap kelestarian hutan. Pendidikan harus mencakup: 1) Pemanfaatan tokoh-tokoh masyarakat yang terorganisasi untuk pekerjaan pencegahan kebakaran; 2) publikasi media massa setempat; 3) Publikasi audio-visual; 4) surat-surat edaran dan selebaran; dan 5) penerbitan buku saku yang mudah dibawa-bawa. Peran dan tugas penyuluh Agar kebakaran hutan dan lahan sampai ke masyarakat, petani/pekebun, tentunya perlu melakukan upaya yang intensif melalui kegiatan penyuluhan. Sehubungan dengan hal tersebut dipandang perlu melakukan peningkatan peran dan tugas tenaga penyuluh pertanian antara lain melalui: 1) Memfasilitasi kegiatan penyuluhan tentang kebakaran hutan dan pencegahannya; 2) Mengupayakan kemudahan akses ke sumber informasi, teknologi, dan sumberdaya lainnya yang terkait dengan kebakaran hutan dan pencegahannya; 3) Membantu menganalisis dan memecahkan masalah serta merespon peluang dan tantangan dalam mengatasi dampak kebakaran hutan; 4) Menumbuhkan kesadaran terhadap kelestarian lingkungan; dan 5) Melembagakan nilai-nilai budaya pembangunan pertanian yang berkelanjutan Untuk memperoleh informasi iklim yang akurat, penyuluh pertanian perlu ditingkatkan tugasnya yaitu dengan melakukan kegiatan sebagai berikut: 1) mencari informasi tentang kebakaran hutan dan pencegahannya; 2) melakukan pemetaan dan inventariasi daerah rawan kebakaran baik yang disebabakan oleh ulah/kelalaian manusia atau sebagai dampak perubahan iklim; 3) melakukan pemetaan terhadap faktor agronomis diwilayah kerjanya; 4) melakukan pemetaan dan inventarisasi terhadap wilayah rawan kebakaran hutan dan lahan di wilayah kerjanya; 5) penyuluh melakukan pembinaan/bimbingan secara intensif tentang teknis dan penyuluhan mengenai bagaimana mencegah dan pengendalian kebakaran hutan dan lahan agar tidak merusak bio-fisik, lingkungan serta merugikan sosial ekonomi masyarakat disekitarnya dan pembangunan nasional umumnya. Pengawasan dan koordinasi Pengawasan diperlukan pada saat sebelum terjadinya kebakaran khususnya dilokasi titik rawan kebakaran maupun pada tahapan saat pemadaman kebakaran, sehingga tidak lagi terjadi percikan api. Tujuan pengawasan adalah untuk mencari dan memadamkan sisa-sisa bara api di dalam areal yang terbakar, yang kemungkinan akan menyala kembali dan merembet keluar ilaran api. Pentingnya sangat ditekankan, baik pada waktu setelah terjadi kebakaran dalam beberapa jam, atau lewat sehari atau bahkan setelah seminggu. Hal ini untuk memastikan bahwa kebakaran sudah tidak berpengaruh lagi terhadap lingkungannya. Selain itu, perlu dilakukan peningkatkan koordinasi dengan instansi terkait di tingkat pusat melalui PUSDALKARHUTNAS dan di tingkat daerah melalui PUSDALKARHUTDA Tk I dan SATLAK kebakaran hutan dan lahan. Mobilitasi dan pemberdayaan masyarakat Untuk mengantisipasi dan pencegahan kebakaran hutan, dapat dilakukan melalui mobilitas semua sumberdaya (manusia, peralatan & dana) di semua tingkatan, baik di jajaran Departemen Kehutanan maupun instansi lainnya, maupun perusahaan-perusahaan. Selain itu juga dilkukan dengan melakukan pemberdayaan posko-posko kebakaran hutan di semua tingkat, serta melakukan pembinaan mengenai hal-hal yang harus dilakukan selama situasi siaga I dan II. Bantuan ke luar negeri Apabila kebakaran terjadi secara besar-besaran dan mengganggu kenyamanan negara tetangga, perlu dilakukan dengan meminta bantuan luar negeri untuk memadamkan kebakaran seperti pasukan BOMBA dari Malaysia yang bekerjasama untuk menanggulangi kebakaran hutan di Riau, Jambi, Sumsel dan Kalbar. Bantuan pesawat AT 130 dari Australia dan Herkulis dari USA untuk kebakaran di Lampung.   Oleh : Ir.Sri Puji Rahayu, MM/ yayuk_edi@yahoo.com Sumber : Pedoman Teknis Pembukaan Lahan Tanpa Bakar, Ditjen Perkebunan, Departemen Pertanian, Jakarta, 2007 dan Dari berbagai sumber. Sumber gambar:http://www.gogle.com/imagres...