Loading...

KETAHANAN VARIETAS JAGUNG PADA CEKAMAN KEKERINGAN

KETAHANAN VARIETAS JAGUNG PADA CEKAMAN KEKERINGAN
Jagung (Zea mays L.) merupakan tanaman pangan dunia yang terpenting selain gandum dan padi sebagai karbohidrat utama. Manfaat jagung tidak hanya sebagai bahan pangan, tetapi juga bahan pakan dan bahan industri lainnya. Diperkirakan lebih dari 55% kebutuhan jagung dalam negeri digunakan untuk pakan 30% untuk konsumsi pangan, selebihnya untuk kebutuhan industri lainnya dan bibit. Permintaan jagung terus berlanjut sesuai dengan manfaatnya, hal ini menyebabkan kebutuhan akan jagung terus mengalami peningkatan.Upaya peningkatan produksi jagung untuk mengurangi impor mengalami berbagai kendala, dimana sebagian besar budidaya jagung dilakukan di lahan kering sekitar 69% dan sawah irigasi 21%. Kendala utama yang dihadapi pada lahan kering adalah terbatasnya ketersediaan air dan unsur hara N dalam tanah sehingga tidak mencukupi kebutuhan tanaman jagung.Saat ini sering terjadi perubahan iklim yang tidak menentu sehingga mengakibatkan tanaman musiman khususnya jagung sangat terganggu terutama akibat cekaman kekeringan dan cekaman genangan air. Pengembangan pertanian pada kawasan lahan kering yang pada umumnya didominasi oleh jenis tanah ultisol yang banyak memiliki keterbatasan terutama rendahnya ketersediaan kadar air tanah. Tanaman jagung yang tumbuh pada kondisi keterbatasan air dapat mengalami defisit air sehingga sulit memberikan hasil sesuai dengan potensi yang dimilikinya, dan berpengaruh secara langsung terhadap berbagai proses fisiologi dalam tanaman, defisit air juga mengurangi daya serap tanaman terhadap unsur hara.Pertanaman jagung yang mendapat cekaman kekeringan secara umum ditandai dengan menggulungnya daun yang terjadi pada siang hari yang bertujuan untuk mengurangi dehidrasi pada daun. Dengan menggulungnya daun laju asimilasi neto berkurang. Kekeringan pada masa vegetatif tidak berakibat langsung terhadap hasil, sedangkan kekeringan menjelang pembungaan, saat berbunga dan setelah pembungaan menurunkan hasil masing-masing 25%, 50% dan 20%Hasil pengujian terhadap tiga varietas jagung yaitu Bima 3 Bantimurung, Srikandi Kuning, dan Bisi 2 dengan jarak tanam 75 cm x 40 cm, 2 tanaman/lubang. Dosis pupuk yang digunakan 300 kg Urea, 200 kg SP-36, 50 kg KCl, dan 2 t pupuk kandang/ha pada kondisi curah hujan hanya 100 mm/bulan dan hari hujan 8 hari, yang dilakukan di Desa Waihatu, Kairatu, kabupaten Seram Bagian Barat pada tahun 2009, varietas Srikandi Kuning dan Bima-3 Bantimurung cukup toleran terhadap cekaman lingkungan (kekeringan). Varietas hibrida Bima-3 Bantimurung memberikan rata-rata hasil pipilan kering tertinggi (8,71 t/ha), menyusul Srikandi Kuning (6,42 t/ha), dan Bisi-2 (4,50 t/ha). Oleh karena itu pengembangan varietas Bima-3 Bantimurung dan Srikandi Kuning sangat dianjurkan pada kondisi cekaman kekeringan. Selain itu Varietas Bima 3 Bantimurung sangat potensial diintegrasikan dengan ternak karena tanaman tetap hijau sampai panen dan mempunyai biomas yang cukup tinggi, sedangkan Srikandi Kuning sangat sesuai untuk dikonsumsi karena kandungan protein cukup tinggi. Sumber: M. P. Sirappa dan Nasruddin Razak. Prosiding Pekan Serealia Nasional, 2010. ISBN : 978-979-8940-29-3 (Ahmad Damiri).