Loading...

KEUNTUNGAN BUDIDAYA TANAMAN LADA (PIPER NIGRUM L) BAGI KESEJAHTERAHAN MASYARAKAT PEDESAAAN

KEUNTUNGAN BUDIDAYA TANAMAN LADA (PIPER NIGRUM L) BAGI KESEJAHTERAHAN MASYARAKAT PEDESAAAN
Kecamatan Padureso merupakan salah satu wilayah dataran tinggi dari 26 kecamatan se-Kabupaten Kebumen. Kecamatan Padureso berpotensi untuk mengembangkan potensinya dalam mengembangkan produksi tanaman rempah-rempahan. Didukung dengan kondisi wilayah yang sebagian besar dataran tinggi serta kemudahan akses pasar, memungkinkan untuk memaksimalkan fungsi lahan.Hasil produksi tanaman rempah-rempah yang semakin bernilai ekonomis tinggi. Hal ini menyebabkan masyarakat Padureso makin banyak menanam tanaman perkebunan berupa rempah-rempah. Tanaman perkebunan yang banyak diminati oleh masyarakat Padureso adalah tanaman lada. Produktivitas tanaman lada masih berpotensi dapat ditingkatkan dengan melalui penerapan teknologi budidaya mulai dari persiapan lahan, pembibitan, penanaman, pemeliharaan dan penanganan pasca panen yang baik.Tanaman lada selain mudah dibudidayakan, nilai harga jual juga tinggi. sehingga kesejahteraan masyarakat Padureso akan terjamin. Selain itu lada mempunyai banyak manfaat untuk kesehatan tubuh. Pada umumnya lada juga dimanfaatkan bagi masyarakat sebagai bumbu masak. Syarat TumbuhWilayah Kecamatan Padureso memiliki ketinggian antara 700 mdpl dansangat baik untuk budidaya tanaman lada. Penyebaran tanaman lada sangat luasberada di wilayah tropika antara 200 LU dan 200 LS, dengan curah hujan dari1.000-3.000 mm per tahun, merata sepanjang tahun dan mempunyai hari hujan 110-170 hari per tahun, musim kemarau hanya 2-3 bulan per tahun. Kelembaban udara63-98% selama musim hujan, dengan suhu maksimum 350C dan suhu minimum200C. Lada dapat tumbuh pada semua jenis tanah, terutama tanah berpasir dangembur dengan unsur hara cukup, drainase (air tanah) baik, tingkat kemasamantanah (pH) 5,0-6,5.PembibitanTanaman lada memiliki beberapa macam varietas, diantaranya: Varietas Jambi dan Lampung Varietas Bulok Belantung Varietas Muntok atau BangkaPerbanyakan bibit tanaman lada yang paling mudah dan efektif yaitu menggunakan cara vegetatif dengan stek batang. Keuntungan menggunakan stek batang adalah bibit yang dihasilkan identik sama dengan induknya. Stek tanaman lada dapat diambil dari sulur panjat, sulur gantung, sulur tanah dan sulur buah (cabang buah).Sulur panjat adalah sulur yang tumbuh memanjat tanaman penegak, mempunyai cukup akar lekat pada setiap buku, apabila ditanam akan menghasilkan tunas dan akar lekat yang dapat langsung melekat pada penegak lada.Sulur gantung adalah sulur panjat yang menggantung atau tidak tumbuh memanjat pada tanaman penegak, tidak mempunyai akar lekat, apabila ditanam akan menghasilkan tunas yang tidak dapat langsung melekat pada tanaman penegak, cabang buah/buah keluarnya lambat (3-4 tahun).Sulur tanah adalah sulur yang tumbuh merayap dipermukaan tanah, akar lekatnya terbatas, tiap buku tidak keluar akar, apabila di tanam akan menghasilkan tunas yang tidak dapat langsung melekat pada tanaman penegak, cabang buah/buah keluarnya lambat (3-4 tahun).Sulur buah (cabang buah) adalah cabang buah, tidak mempunyai akar lekat, apabila ditanam akan cepat menghasilkan buah, tetapi tanaman lada tidak dapat tumbuh tinggi dan tidak melekat pada tanaman penegak, perakarannya dangkal, mudah stres apabila ketersediaan air tanah terbatas, keluarnya cabang buah cepat, pada umur 1 tahun sudah menghasilkan buah.Teknik Budidaya Tanaman LadaUntuk menghasilkan tanaman lada yang dapat tumbuh dengan baik dandapat tumbuh pada tanaman penegak, sebaiknya menggunakan bibit yang berasal dari sulur panjat. Persiapan lahan tanamLahan dibersihkan, kemudian dilakukan pengajiran (jarak 2,5 m). Pembuatan lubang tanam (ukuran 40x40x40 cm)Lubang sebaiknya diisi campuran tanah dengan pupuk kandang sampai membentuk guludan setinggi ± 20 cm. Guludan dibiarkan selama 2-4 minggu sampai kondisinya baik. Guludan yang susut karena terkikis air harus diperbaiki dan wilayah sekitar guludan ditanami tanaman panjatan (tajar) untuk merambat tanaman lada. Penanaman bibit ladaBibit lada setelah dilepaskan dari polibag atau stek 5-7 buku yang sudah tumbuh dan berakar ditanam dengan cara meletakkan miring (30-450) mengarah ke tajar, 3-4 buku/stek bagian pangkal tanpa daun dibenamkan mengarah ke tajar, sedangkan 2-3 ruas sisanya (berdaun) disandarkan dan diikatan pada tajar. Selanjutnya tanah disekitar tanaman dipadatkan dan di atas tanaman lada diberi naungan yang diikatkan pada tajar agar tanaman lada yang baru ditanam terlindungi dari teriknya sinar matahari. Pemeliharaan tanaman Pemangkasan dan pengikatan sulur panjatApabila pada tanaman lada telah tumbuh 8-10 buku (umur 5-6 bulan), dilakukan pemangkasan pada ketinggian 25-30 cm dari permukaan tanah. Pemangkasan dilakukan di atas 2-3 buku. Tujuan pemangkasan untuk merangsang pembentukan 3 sulur panjat baru. Sulur baru tersebut harus dilekatkan dan diikatkan pada tajar lada. Pengikatan dilakukan menggunakan tali rafia yang dibelah 2-4 agar tali rafia tidak menggangu pertumbuhan lada. Pemangkasan berikutnya dilakukan apabila telah keluar tunas baru dan telah mencapai 7-9 buku pada umur sekitar 12 bulan, yaitu pada buku yang tidak mengeluarkan cabang buah. Pemangkasan berikutnya dilakukan pada umur 2 tahun, sehingga terbentuk kerangka tanaman yang mempunyai banyak cabang produktif. Hasil pemangkasan sulur panjat tersebut dapat digunakan sebagai sumber bahan tanaman/setek untuk pengembangan pembibitan lada. Pemangkasan sulur gantungSulur gantung adalah sulur panjat yang tumbuhnya tidak melekat pada tajar, karena tidak dilakukan pengikatan pada tajar. Sulur gantung yang terus tumbuh tidak diikuti dengan tumbuhnya akar lekat. Untuk itu sulur gantung sebaiknya secara teratur dipangkas agar tidak mengganggu pertumbuhan tanaman dan produksi lada. Pemangkasan sulur cacingSulur cacing adalah sulur panjat yang keluar dari pangkal batang tanaman lada dan tumbuhnya tidak melekat pada tajar, tetapi menjalar di permukaan tanah. Sulur cacing tidak mempunyai cabang buah dan mengganggu pertumbuhan tanaman. Untuk itu sulur cacing harus dipangkas agar pertumbuhan tanaman lada normal, pangkal batang lada tidak lembab dan tidak mengggangu pembokoran dan pemupukan tanaman lada. Pengendalian gulmaGulma di kebun lada dikendalikan dengan cara dipangkas, agar gulma tetap tumbuh namun tidak menggangu tanaman lada, sehingga keragaman hayati di kebun lada stabil. Pemupukan Pupuk Organis/Kandang : 5 – 10 kg per lobang tanam. Tahun I (tanaman berumur 8 – 12 bulan) : 100 gr NPK 2 : 1 : 1/ pohon atau 50 gr urea, 25 gr DS dan 25 gr Potash. Tahun ke II 200 gr/pohon dari pupuk NPK dilakukan setiap 4 bulan sekali. Tahun ke III 400 gr/pohon diberikan 6 bulan sekali. Tahun-tahun selanjutnya 600 gr/ pohon menjelang pembentukan bunga dan 600 gr/ pohon setelah selesai panen.Hama dan Penyakit Nematoda (cacing) terutama Rotylencuhus similes yang menyerang akar lada dengan gejala primer daun lada menguning. Pengendalian secara preventif dengan Temik 10 G dan Nemagon. Kumbang Lophobaris piperis menyerang pucuk daun muda, cabang dan ranting, mulai buah dan buah yang muda. Ranting muda akan mati yang akan mengakibatkan terhambatnya pertumbuhan tanaman maupun kemunduran produksi. Pengendalian secara preventif dengan Thiodan dengan dosis 1,5 – 2 cc/liter air atau Lanate 5 gr/ 10 liter air. Diplogophus Hewitti Dist yaitu sejenis wereng yang dapat merusak produksi lada. Pengendalian seperti pada pengendalian hama wereng tanaman padi. Penyakit busuk pangkal batang akibat cendawan Phytophtora Palmivora yang akan mematikan tanaman. Pengendalian secara prevenrif dengan fungsida Dithane M. 45 dengan dosis 0,18 – 0,24 % atau 180 – 240 gram per 100 liter air, Maneb dan Brestan.PanenBuah lada yang telah siap dipanen untuk lada hitam ditandai dengan warna hijau tua, buah telah berumur 6 – 7 bulan. Untuk mengetahui buah lada siap dipanen untuk lada hitam dengan cara memencet/memijit buah lada, bila keluar cairan putih maka buah lada tersebut belum siap dipanen.Buah lada siap dipanen apabila dalam satu tandan buah terdiri atas buah lada merah (2%), kuning (23%) dan hijau tua (75%). Buah lada dipanen sekaligus dengan tangkainya (tandan buah) dengan cara dipetik menggunakan tangan. Tangkai buah yang tua tidak liat, mudah dipetik dan mudah dipatahkan. Pemetikan dilakukan dengan hati-hati agar tidak merusak. Pemetikan dilakukan sekaligus atau bertahap sesuai perkembangan buah lada. Penulis : Sri Maryuti, S.PKPBalai Penyuluhan Pertanian Kec. Padureso Artikel ditulis pada: 23-07-2018Sumber: Balai Pengkajian Teknologi Pertanian