Loading...

KLENTEK DAN PENYIANGAN TANAMAN TEBU SEBAGAI UPAYA PENINGKATAN PRODUKTIVITAS DAN RENDEMEN TEBU

KLENTEK DAN PENYIANGAN TANAMAN TEBU SEBAGAI UPAYA PENINGKATAN PRODUKTIVITAS DAN RENDEMEN TEBU
Peningkatan produktivitas dan rendemen gula dapat dilakukan melalui perbaikan dan peningkatan budidaya tebu dengan Good Agricultural Procedure dan sistem budidaya yang baik. Selama ini petani sudah mengadopsi teknologi budidaya tebu yang ada, tetapi dalam penerapannya umumnya belum dilakukan secara tepat dan konsisten. Salah satu aktifitas budidaya tebu yang mempengaruhi terhadap pencapaian produktivitas tebu dan rendemen gula adalah klentek dan penyiangan. Klentek Klentek merupakan pengelupasan atau melepaskan daun kering/kuning atau daun yang tidak berguna dari batang tebu. Daun tanaman tebu yang sudah kering/kuning perlu dibuang karena daun tersebut sudah tidak berfungsi lagi dalam fotosintesis dan pertumbuhan. Untuk itu aktifitas klentek dilakukan agar meringankan beban tanaman sehingga tidak mudah roboh, memperlancar sirkulasi udara dalam kebun, memudahkan sinar matahari masuk, mengurangi terjadinya serangan hama dan penyakit, merangsang pertumbuhan batang dan memperkeras kulit batang, mempertinggi rendemen, mencegah keluarnya akar dan tunas dari ruas batang yang dapat menghambat pertumbuhan dan perkembangan tanaman, mengurangi resiko kebakaran, menjaga kebersihan lahan dan memudahkan kontrol dan pemeliharaan tanaman serta memudahkan tebang angkut. Klentek sebaiknya dilakukan 3 kali selama pertumbuhan tanaman tebu, yaitu pada umur 4 – 5 bulan setelah tanam, umur 7 – 8 bulan dan umur 1 bulan sebelum tebang. Daun klentekan dikumpulkan dan dikeluarkan dari lahan pertanaman untuk dimanfaatkan sebagai pakan ternak atau bahan pembuatan kompos. Penyiangan Tanaman Tebu Penyiangan merupakan salah satu kegiatan untuk pengendalian gulma yang tumbuh di sela-sela tanaman. Selain untuk pengendalian gulma, aktifitas penyiangan pada tanaman tebu bermanfaat untuk menggemburkan tanah supaya aerasi menjadi lebih baik sehingga pertumbuhan akar tanaman lebih baik dan memperbanyak produksi anakan, mengurangi persaingan penyerapan unsur hara, air dan sinar matahari. Pada tanaman tebu, gulma merupakan tanaman pengganggu yang penting untuk mendapatkan perhatian. Hal ini dikarenakan tanaman tebu termasuk tanaman yang sangat peka terhadap gulma terutama pada stadia awal pertumbuhannya. Gulma yang tumbuh di pertanaman tebu akan berkompetisi dengan tumbuhan pokok sehingga kebutuhan unsur hara untuk tanaman pokok tidak terpenuhi secara optimal yang mengakibatkan penurunan produksi tanaman. Untuk itu apabila penyiangan gulma tidak dilakukan akan mengakibatkan penurunan bobot tebu sampai dengan 53% pada tanaman tebu di lahan sawah dan penurunan bobot tebu 22 – 45% pada tanaman tebu lahan tegal atau lahan kering. Selain itu pertumbuhan gulma di tanaman tebu akan menghambat aliran air irigasi pada saluran/parit, tempat berkumpulnya serangga hama dan penyakit serta menghambat operasinal alat mekanisasi. Untuk itu perlu dilakukan kegiatan penyiangan dengan membersihkan atau mematikan gulma di lahan pertanaman. Penyiangan dapat dilakukan secara manual dengan tangan, secara mekanis menggunakan alat atau mesin, secara kimia dengan herbisida dan secara biologi dengan agent hayati. Penyiangan sebaiknya dilakukan secara terpadu dengan mengkombinasikan beberapa cara yang kompatibel, agar diperoleh hasil pengendalian yang ekonomis dan berkelanjutan serta tidak menimbulkan permasalahan lingkungan. Mugi Lestari (PP BPPSDMP Kementan) Sumber : Siswanto, Saefudin, H. Praptani dan N. Yuniarti, 2019. Klentek, Penyiangan dan Pengendalian OPT Untuk Peningkatan Produktivitas dan Rendemen Tebu. Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan.