Jelang masa tanam petani di Desa Teluk Mesjid Kecamatan Sungai Pandan, Kabupaten Hulu Sungai Utara, berkonsultasi ke BPP Sungai Pandan, Kamis 19 Januari 2023. Permasalahan yang dikonsultasikan kelompok tani ketika berkunjung ke BPP Sungai Pandan yaitu : Petani lebih memilih pupuk kimia, karena dianggap lebih praktis dan cepat kelihatan hasilnya. Penggunaan pupuk kimia yang terus-menerus dan penggunaan urea yang berlebihan sehingga mengakibatkan tanah menjadi padat dan lengket. Pupuk kimia yang diberikan tidak bisa terserap secara maksimal ( hanya 30 % ) karena kandungan organik dalam tanah rata- rata kurang dari 5 %. Ketersediaan pupuk bersubsidi yang semakin terbatas, sehingga petani merasa kekurangan pupuk. Apakah ada solusi supaya petani tidak lagi ketergantungan pupuk kimia Pada kesempatan tersebut BPP Sungai Pandan memberikan solusi mengenalkan Biosaka sebagai metode pertanian ramah lingkungan. Dalam rangka mewujudkan pertanian yang maju, mandiri dan modern sesuai semboyan Menteri Pertanian, pemerintah mendukung penerapan hasil-hasil inovasi sederhana terutama yang dikembangkan oleh petani, salah satunya adalah Biosaka. Biosaka merupakan larutan ekstrak tumbuhan yang berperan sebagai elisitor yang dapat meningkatkan produktivitas tanaman. Penggunaan Biosaka dalam usahatani adalah sebagai salah satu upaya perlindungan tanaman berbasis ekologi untuk menjaga kelestarian lingkungan. Penggagas Biosaka, Muhammad Ansar menyebutkan, bahwa keberhasilan petani di Blitar dalam peningkatan hasil dan kualitas hasil produksi padinya menggunakan bahan alami Biosaka yang terdapat di sekitar areal pertanaman. Menggaris-bawahi penggagas Biosaka, Prof Dr. Robert Manurung Dosen dan Guru Besar ITB menyatakan bahwa biosaka sebagai elicitor yang dapat merangsang sel-sel pada tanaman sehingga dapat tumbuh dengan baik. Sejarah Singkat dan Manfaatnya: Elisitor Biosaka pertama dicoba sejak tahun 2006 oleh Petani dari Blitar, Bernama Muhamad Anshar, Biosaka adalah bahan dari larutan tumbuhan atau rerumputan yang diketahui mampu melindungi tanaman dari serangan hama dan penyakit dan mampu menekan penggunaan pupuk mencapai 50-90 persen. Biosaka terdiri dari suku kata Bio dan Saka, Bio singkatan dari Biologi, dan Saka singkatan dari Soko Alam Kembali Ke Alam atau dari Alam Kembali ke Alam adalah inovasi yang telah dikembangkan oleh petani dari bahan baru-terbarukan yang tersedia melimpah di alam. Elisitor Biosaka tidak menggunakan mikroba maupun proses fermentasi dalam pembuatannya,” dan bukan teknologi yang rumit, tapi hanya sesuatu yang sederhana sekali. “Dalam membuatnya tidak menggunakan mesin, hanya dengan tangan menurut M. Anshar. Ansar mengakui, awalnya dirinya hanya ingin membantu petani, namun malah kini berkembang dengan baik di Blitar. Sebagai penggagas Biosaka, ia mulai melakukan riset sejak tahun 2006. Kemudian mulai dikembangkan secara masif pada tahun 2011 melalui pemberdayaan petani. “Kami memberikan pendampingan dan observasi langsung pada lahan milik petani,” ujarnya. Kemudian sejak pertengahan tahun 2019, Ansar mulai melakukan pendampingan di wilayah Kabupaten Blitar, khususnya petani di wilayah Kecamatan Wates. Saat itu jumlahnya hanya 1-2 petani. Namun melalui getuk-tular dan dibantu petugas pertanian lapangan, perkembangan selama 2 tahun pendampingan teknologi Biosaka sudah mulai diuji coba pada skala luas. “Kini hampir setiap kecamatan wilayah Blitar sudah menerapkan. Kami belum bisa pastikan berapa petani yang menerapkan, tapi terus bertambah,” ujarnya. Manfaatnya: Kelebihan bahan ini menurut penemunya yaitu: Pertama, efektifitas kinerja yang baik. Reaksi biosaka dapat dilihat dalam waktu 24 jam setelah aplikasi. Kedua, dapat digunakan pada seluruh fase tanaman, mulai dari benih sampai panen, Ketiga, proses produksinya pun sangat cepat karena tidak menggunakan metode fermentasi yang biasanya memakan waktu paling cepat 1 minggu. Keempat, cara penggunaannya mudah dan penggunaan dosis yang sangat sedikit, cukup 40 ml dicampur 15 liter air untuk satu kali penyemprotan untuk luasan 1.000 m2, atau 400 ml untuk 1 ha tanaman padi. “Penyemprotan dari mulai tanam sampai panen dilakukan sekitar 7 kali aplikasi, Kelima, dapat diterapkan pada semua komoditas, termasuk tanaman perkebunan. Keenam, dapat mengurangi penggunaan pupuk kimia hingga 50-90 persen, sehingga jauh menghemat biaya produksi. Ketujuh bahan baku Biosaka juga tersedia setiap saat di lingkungan petani, dimana dan kapanpun. Namun demikian kekurangan Biosaka adalah tidak dapat diproduksi dengan mesin. Kekurangan lain, bahan baku yang terus berganti pada saat pembuatan.