Loading...

KOMPARASI PRODUKTIVITAS BEBERAPA VARIETAS UNGGUL BARU PADI SAWAH

KOMPARASI PRODUKTIVITAS BEBERAPA VARIETAS UNGGUL BARU PADI SAWAH
Padi merupakan komponen utama dalam sistem ketahanan pangan nasional. Usahatani padi masih merupakan tulang punggung sistem perekonomian pedesaan, namun produktivitas padi nasional masih rendah. Untuk itu perlu dilakukan berbagai upaya agar produktivitas dapat ditingkatkan. Salah satu upaya peningkatan produktivitas padi tersebut, dapat diupayakan melalui penggunaan varietas unggul baru. Kontribusi varietas unggul baru terhadap peningkatan produksi sangat tinggi, varietas sebagai salah satu komponen produksi telah memberikan sumbangan sebesar 56%. Varietas unggul memberikan manfaat teknis dan ekonomis yang banyak bagi perkembangan suatu usaha pertanian, diantaranya: pertumbuhan tanaman menjadi seragam sehingga panen menjadi serempak, rendemen lebih tinggi, mutu hasil lebih tinggi dan sesuai dengan selera konsumen, dan tanaman akan mempunyai ketahanan yang tinggi terhadap gangguan hama dan penyakit serta mempunyai daya adaptasi yang tinggi terhadap lingkungan. Pelandaian produktivitas lahan sawah dapat disebabkan oleh banyak faktor, antara lain penurunan kandungan bahan organik tanah, penurunan penambatan N2 udara pada tanah sawah, penurunan kecepatan penyediaan hara N, P dan K dalam tanah, penimbunan senyawa - senyawa toksik bagi tanaman (gas H2S), asam - asam organik, ketidak seimbangan penyediaan hara, kahat hara mikro (Cu, Zn), kahat Fe dan S, tanah terlalu reduktif, penyimpangan iklim, tekanan biotik dan varietas yang digunakan. Sampai saat ini sudah banyak varietas unggul baru padi sawah yang telah dirilis Kementerian Pertanian. Varietas padi sawah yang baik adalah varietas yang memiliki efisiensi dalam pemanfaatan unsur hara yang ada di dalam tanah dan mampu beradaptasi pada kondisi lingkungan setempat. Agroekosistem setiap daerah berbeda, maka produksi suatu varietas sangat dipengaruhi oleh genotip dan lingkungan. Salah satu indikator bahwa suatu varietas unggul dapat beradaptasi baik dengan lingkungannya adalah produktivitas yang dicapai. Pengkajian yang dilakukan oleh Kusyaeri dan kawan – kawan pada MK II bulan Juni – September Thun 2020 di Desa Cinta Ratu Kecamatan Lakbok untuk membandingkan pertumbuhan dan produksi enam varietas padi sawah yaitu: 1) Inpari 32; 2) Inpari 42; 3) Padjadjaran Agritan; 4) Cakrabuana Agritan; 5) Inpari IR Nutri Zinc; dan 6) Siliwangi Agritan. Masing-masing lahan pengkajian untuk setiap varietas diberi pupuk anorganik NPK Phonska sebanyak 200 kg/ha dan Urea sebanyak 200 kg/ha. Pemupukan NPK Phonska diberikan semua pada saat tanaman berumur 10 hst, sedangkan Urea diberikan masing-masing 1/3 dosis pada umur 10 hst, 30 hst, dan 45 hst. Perbandingan produktivitas yang dicapai oleh masing-masing varietas: Inpari 32, Inpari 42 GSR, Padjadjaran Agritan, Cakrabuana Agritan, Inpari IR Nutri Zinc, dan Siliwangi Agritan yaitu: 6,56b : 6,88a : 5,60c : 6,48b : 5,36d : 6,40b. Hasil ini menunjukkan bahwa ada 4 tingkat produktivitas yang dicapai dari tingkatan produktivitas tertinggi sampai produktivitas yang terendah yaitu: produktivitas tertinggi dicapai oleh varietas Inpari 42 GSR sebesar 6,88 t/ha GKP. Produktivitas yang lebih rendah dicapai oleh varietas Inpari 32, Cakrabuanan Agritan, dan Siliwangi Agritan. Produktivitas yang lebih rendah selanjutnya dicapai oleh varietas Padjadjaran Agritan, dan produktivitas terendah dicapai oleh Inpari IR Nutri Zinc. Produktivitas Inpari 42 GSR (Green Super Rice) yang paling tinggi dapat dimaklumi karena Inpari 42 GSR merupakan teknologi dimana tanaman padi yang telah dirancang tetap mampu berdaya hasil tinggi baik pada kondisi optimum maupun pada kondisi terbatas, misalkan air atau hara terbatas (Ahmad Damiri). Sumber: Kusyaeri K, Hamdani, dan Yati H. 2021. Komparasi Potensi Hasil Dari Beberapa arietas Unggul Padi Sawah. Jurnal Ilmu Pertanian AGRIC. 33 (1): 57 – 66.