Penulis : Jhonny BM Silitonga, Junier Sibarani dan Lamsihar Diana Hutabarat Kompos dengan bahan dasar jerami akan meningkatkan C-Organik dan P-Tersedia dalam tanah. Selain itu dapat juga meningkatkan serapan unsur Nitrogen dan Fosfor yang secara tidak langsung akan berpengaruh pada pertumbuhan vegetatif dan generatif tanaman. Aplikasi kompos sebaiknya ditambahkan bahan yang kaya unsur Nitrogen seperti pupuk kandang atau bahan tambahan lain sehingga pemupukan menjadi lebih eï¬Âsien. Alat dan Bahan Pembuatan Kompos Jerami Alat yang digunakan dalam pembuatan kompos jerami meliputi cangkul, gayung dan terpal. Bahan yang digunakan yaitu jerami, air, dekomposer serta bahan sumber N bila diinginkan. Air bermanfaat menjaga bagian dalam jerami tetap lembab dan s e b a g a i s u m b e r o k s i g e n u n t u k p r o s e s dekomposisi. Dekomposer digunakan untuk membantu mempercepat proses dekomposisi jerami. Salah satu dekomposer yang dapat digunakan adalah M-Dec. Satu kg M-Dec dapat digunakan untuk 1 ton bahan organik/jerami. M- Dec berfungsi mempercepat proses penghancuran jerami dan mencegah berbagai penyakit tular tanah. Salah satu dekomposer yang dapat digunakan adalah M-Dec. Satu kg M-Dec dapat digunakan untuk 1 ton bahan organik/jerami. M- Dec berfungsi mempercepat proses penghancuran jerami dan mencegah berbagai penyakit tular tanah. Proses Pembuatan Kompos dari Jerami 1. Persiapan tempat Sebaiknya dilakukan pada tanah datar dengan tambahan sedikit luasan untuk memudahkan proses pemeliharaan. Bagian bawah kompos dapat digunakan terpal sebagai alasnya ataupun langsung tanah. Apabila menggunakan terpal, perlu dikelola airnya agar tidak terlalu banyak tertampung. Sedangkan bila bagian bawahnya langsung tanah, perlu dijaga agar kompos tidak terlalu kering 2. Teknis pengomposan Seluruh jerami diatur dengan ketinggian 80- 100 cm tergantung luasan lahan yang Semakin luas sebaiknya semakin rendah tumpukan sehingga mempermudah proses pembalikan dan proses pematangan lebih merata. Tumpukan jerami tersebut diberikan 1 kg M- Dec (untuk asumsi 1 ton jerami) bagian atas sampai dengan permukaan secara Siram air untuk menjaga Proses penambahan air dan M-Dec dilakukan sekaligus dengan pemadatan dengan cara diinjak-injak. Proses dekomposisi akan lebih cepat dengan kadar oksigen yang optimal, sehingga dapat ditambahkan selang bening kecil sebagai sumber oksigen bagi bakteri untuk melakukan dekomposisi bahan Selanjutnya tumpukan jerami dapat ditutup Kompos jerami dapat digunakan setelah kurang lebih 14 hari jika bakteri dekomposisi dan kondisi lingkungan normal. Pengairan dan pembalikan dilakukan setiap 3 hari sekali atau dapat lebih cepat bila kompos mulai mengering Hal-hal yang Perlu Diperhatikan dalam Pengomposan Jerami Kondisi pengomposan Panjang dan lebar menyesuaikan tempat yang digunakan, sedangkan ketinggian umumnya digunakan 80-100 cm agar mudah dilakukan pembalikan dan kelembapan dapat merata dari bawah sampai Sirkulasi udara dalam kompos diperlukan karena bakteri dekomposisi memerlukan makanan dan oksigen. Temperatur kompos umumnya berkisar 40- 60 o Selama proses pengomposan kelembapan harus tetap terjaga, jangan sampai kompos terlalu kering atau terlalu basah Memperkaya kandungan hara pada kompos Kompos mengandung nitrogen cukup rendah sehingga dapat ditambahkan pupuk kandang sapi, kambing ataupun ayam. Selain itu dapat juga ditambahkan bahan organik lain yang mengandung nitrogen. Penggunaan Kompos Kompos jerami siap digunakan jika sudah matang yang ditandai dengan suhu sudah tidak panas dan tidak berbau. Secara visual sudah matang dapat dilihat pada bahan utama penyusun sudah hancur terdekomposisi.