Loading...

KOMPOS DARI KULIT BUAH KAKAO

KOMPOS DARI KULIT BUAH KAKAO
PENDAHULUAN Pupuk merupakan sumber unsur hara bagi tanaman. Pupuk yang berimbang sangat dibutuhkan tanaman agar dapat berproduksi optimal. Namun, kendala yang dihadapi petani saat ini adalah jumlah pupuk bersubsidi yang diterima petani sangat terbatas dan tidak mencukupi kebutuhan pupuk tanaman. Sedangkan harga pupuk non subsidi tidak terjangkau bagi sebagian besar petani. Sebenarnya, penambahan unsur hara ke tanah tidak hanya dari pupuk an-organik tapi juga melalui pemupukan organik. Saat ini petani mulai sadar akan pentingnya pemanfaatan bahan organik sebagai pengganti pupuk kimia yang harganya semakin melambung tinggi. Salah satu alternatif untuk menekan biaya usahataninya, petani kakao mulai memanfaatkan limbah pertanian insitu seperti jerami padi, serasah dan janggel jagung, serta kulit buah khususnya tanaman perkebunan. Pada perkebunan pemanfaatan kulit buah kakao sebagai pupuk kompos, tidak hanya sebagai sumber unsur hara tapi juga mengurangi limbah kulit kakao yang bila dibiarkan dapat menjadi inang penyakit. Kandungan hara mineral dari kulit buah kakao cukup tinggi, khususnya hara Kalium dan Nitrogen (61 % dari total nutrien buah kakao). Hasil penelitian Goenadi et al (2000), hara kompos yang dibuat dari kulit buah kakao: 1,81 % N, 26,61 % C-Organik, 0,31% P2O5, 6,08% K2O, 1,22% CaO, 1,37% MgO, dan 44,85 cmol/kg KTK. TEKNIK PEMBUATAN KOMPOS KULIT BUAH KAKAO Alat dan Bahan Sebelum membuatnya, terlebih dahulu perlu disiapkan alat dan bahan yang dibutuhkan yaitu: Parang/sabit untuk mencacah kulit buah Ember/bak plastik Plastik penutup (warna hitam/biru) Tali Sekop/garpu/cangkul Cetakan (jika perlu) dengan ukuran 2 x1 m Kulit buah kakao + kotoran ternak (1 ton) Stardec 2,5 kg Abu sebanyak 8 kg Kalsit/dolomit 2 kg Proses Pengomposan Cacah kulit kakao dengan ukuran 5 cm dan lebar 2 cm sebanyak 1 ton dengan parang atau mesin pencacah Campur cacahan kulit kakao dengan kotoran ternak, abu dan kalsit/dolomit Siapkan cetakan dengan ukuran 2x1 m untuk mempermudah proses pemadatan Masukkan bahan dalam cetakan selapis demi selapis, tinggi lapisan kurang lebih 20 cm. Basahi campuran bahan tersebut dengan air sampai kadar air sekitar 60 % Taburkan bahan stardek pada tumpukan lapisan secara merata Ulangi lapisan per lapisan sampai ketinggian lapisan sekitar 1,5 m Injak-injak bahan tersebut pada setiap lapisan agar memadat. Setelah cetakan penuh, buka cetakan dan tutup tumpukan kulit buah kakao dengan plastik agar terhindar dari sinar matahari langsung ataupun hujan Ikat tumpukan tersebut dengan tali Lakukan pembalikan setiap minggu Selama proses berlangsung kadar air dipertahankan sekitar 60 % Kompos sudah matang sekitar 4 minggu Setelah 1 (satu) minggu lakukan pengamatan dengan meraba tumpukan kompos hingga bagian dalam. Periksa suhu, kelembaban, penurunan volume dan penampakan kompos. Kompos yang baik akan terasa lembab namun tidak terlalu basah. Ciri Kompos Matang Kompos yang matang memiliki ciri-ciri sebagai berikut: Berwarna coklat kehitaman Lunak dan mudah dihancurkan Suhu tumpukan mendekati suhu awal pengomposan (30oC) Tidak berbau menyengat dan volume menyusut hingga setengahnya HAL YANG PERLU DIPERHATIKAN Lokasi pengomposan sebaiknya dekat kebun untuk menghemat biaya transportasi dan biaya tenaga kerja dan dekat sumber air serta ternaungi dari sinar matahari dan air hujan Apabila tumpukan tidak terjadi peningkatan suhu dan tampak kering, tambahkan air secukupnya Apabila berbau menyengat dan tumpukan terlalu basah, tancapkan bambu yang telah dilubangi untuk menambah aerasi dan jika perlu lakukan pembalikan Sumber: dari berbagai sumber Penyusun: Fauziah Yulia Adriyani (Penyuluh Madya BPTP Lampung)