PENDAHULUAN Tanaman kakao (Theobroma cacao L.) merupakan salah satu tanaman perkebunan yang memiliki prospek baik. Provinsi Lampung telah mengembangkan tanaman kakao sebagai komoditas unggulan dalam menghasilkan devisa negara melalui kegiatan ekspor komoditi perkebunan kakao. Salah satu limbah pertanian yang baru sedikit dimanfaatkan sebagai bahan organik adalah limbah dari perkebunan kakao yaitu kulit buah kakao. kulit buah kakao dapat dimanfaatkan sebagai sumber unsur hara tanaman dalam bentuk kompos, pakan ternak, produksi biogas dan sumber pektin. Penambahan kompos kulit buah kakao merupakan upaya untuk meningkatkan kualitas fisik, biologi dan kimia media tumbuh tanaman. Menurut Didiek dan Away (2004), bokashi kulit buah kakao mempunyai pH 5,4; N total 1,30%; C-organik 33,71%; P2O5 0,186%; K2 O 5,5%; CaO 0,23%; dan MgO 0,59%. Pemanfaatan kompos kulit buah kakao dapat meningkatkan produksi kakao hingga 19,48%. KANDUNGAN HARA YANG TERDAPAT DALAM KULIT KAKAO Kandungan hara mineral kulit buah kakao cukup tinggi, khususnya hara Kalium dan Nitrogen, bahwa 61% dari total nutrien buah kakao disimpan di dalam kulit buah kakao itu sendiri. Hasil penelitian yang dilakukan (Goenadi,2000), kandungan hara kompos yang dibuat dari kulit buah kakao adalah 1,81 %, N, 26,61 % C-organik, 0,31%P2O5, 6,08% K2O, 1,22% CaO, 1,37 % MgO, dan 44,85 cmol/kg KTK. PROSES PENGOMPOSAN TERGANTUNG PADA : karakteristik bahan yang dikomposkan aktivator pengomposan yang dipergunakan metode pengomposan yang dilakukan BAHAN DAN ALAT YANG DIGUNAKAN Kulit kakao 300 kg EM 4 80 ml Gula merah 300 gram Air 20 liter Kotak pengomposan/Plastik/terpal cangkul, parang,ember, gembor, handspayer, ayakan, meteran, terpal, karung, PROSES PEMBUATAN KOMPOS Kulit kakao dicacah dengan mesin pencacah kulit kakao berukuran + 2-5 cm Hasil cacahan dimasukkan dalam kotak pengomposan Lakukan penyiraman dengan larutan EM4 dan diaduk. Dosis EM4 yang digunakan sebanyak 80 ml EM4 dilarutkan dengan gula merah 300 gram dalam 20 liter air. Tutup kotak pengomposan lakukan pengadukan setiap minggu selama proses pengomposan berjalan. Kompos kulit buah kakao siap digunakan apabila rasio C/N < 20, dengan ciri-ciri: tidak berbau, berwarna gelap (hitam), tidak lengket, dan bertekstur remah. lakukan pengayakan kompos sebelum diaplikasika CARA MENENTUKAN KEMATANGAN KOMPOS : Penyusutan Bahan Baku Terjadi penyusutan volume/bobot kompos seiring dengan kematangan kompos. besarnya penyusutan tergantung pada karakteristik bahan mentah dan tingkat kematangan kompos. penyusutan berkisar antara 20–40%. apabila penyusutannya masih kecil/sedikit, kemungkinan proses pengomposan belum selesai dan kompos belum matang. Warna Kompos Warna kompos yang sudah matang adalah coklat kehitam-hitaman. apabila kompos masih berwarna hijau atau warnanya mirip dengan bahan mentahnya berarti kompos tersebut belum matang. selama proses pengomposan pada permukaan kompos seringkali juga terlihat miselium jamur yang berwarna putih. Struktur Bahan Baku Kompos yang telah matang akan terasa lunak ketika dihancurkan. bentuk kompos mungkin masih menyerupai bahan asalnya, tetapi ketika diremas akan mudah hancur. Bau Kompos yang sudah matang berbau seperti tanah dan bau bahan bakunya sudah berubah, meskipun kompos dari sampah kota. apabila kompos tercium bau yang tidak sedap, berarti terjadi fermentasi anaerob dan menghasilkan senyawa-senyawa berbau yang mungkin berbahaya bagi tanaman. dan apabila kompos masih berbau seperti bahan mentahnya berarti kompos masih belum matang. Suhu kompos yang sudah matang mendekati dengan suhu awal pengomposan. suhu kompos yang masih tinggi, atau di atas 50o c, berarti proses pengomposan masih berlangsung aktif dan kompos belum cukup matang. Sumber : Fakultas Pertanian, Universitas Lampung Penyusun : Nasriati