Pengetahuan, sikap, dan keterampilan berkomunikasi sangat diperlukan untuk penyebarluasan teknologi pertanian. Jakarta, (26/01/2024) Teknologi pertanian terus berkembang sejalan dengan tantangan yang semakin kompleks, terutama menyangkut peningkatan produksi, produktivitas, efisiensi, efektivitas, dan keberlanjutan serta keseimbangan ekosistem. Teknologi yang menekan biaya produksi, meningkatkan hasil, tahan terhadap terpaan lingkungan, dan memudahkan pengolahan lahan, pemilihan benih, pencegahan hama dan penyakit, pemupukan, pemanenan, pasca panen, hilirisasi produk, hingga ketangan konsumen. Salah satu tugas Penyuluh Pertanian adalah mendampingi Petani agar mampu mengakses berbagai perkembangan teknologi. Menjadi pekerjaan yang tidak mudah bagi seorang Penyuluh Pertanian untuk mengubah sikap petani dalam memanfaatkan teknologi, untuk itu diperlukan strategi komunikasi yang tepat. Salah satu strategi komunikasi yang dapat digunakan adalah melalui tatap muka. Berikut langkah-langkah yang perlu diambil agar komunikasi tatap muka berjalan efektif. Mengenal karakter petani. Penting dilakukan agar komunikasi menjadi lebih efektif. Karakter petani meliputi kedudukan sosial, tingkat ekonomi, jenis kelamin, umur, pendidikan, frekuensi komunikasi, jadwal aktifitas bertani, dan sebagainya. Semakin memahami karakter petani, semakin mudah untuk menentukan gaya/teknik komunikasi yang akan digunakan. Menguasai pesan. Penguasaan pesan menjadi penting untuk membangun kepercayaan petani. Penyampaian pesan yang ragu-ragu atau tidak lancar akan membuat petani juga ragu terhadap Penyuluh Pertanian. Penguasaan ini akan semakin kuat saat Penyuluh Pertanian dapat memperagakan teknologi dengan cepat, cekatan, dan terlihat mudah. Menggunakan bahasa yang mudah dimengerti petani. Tidak setiap petani memiliki kemampuan memahami informasi baru secara cepat, oleh karena itu Penyuluh Pertanian harus memiliki banyak kosa kata untuk menjelaskan suatu teknologi. Penggunaan istilah asing atau ilmiah akan menimbulkan keengganan petani menyimak penjelasan dari Penyuluh Pertanian. Menggunakan gestur/bahasa tubuh yang menimbulkan keakraban. Duduk sejajar akan memberikan kesan baik kepada petani. Petani diposisikan sebagai mitra Penyuluh Pertanian. Tersenyum menjadi salah satu cara untuk menumbuhkan kesan akrab, dan menghilangkan rasa “ewuh pekewuh” sehingga petani berani untuk menyampaikan pendapat atau pertanyaan. Menghargai petani. Acapkali petani menceriterakan pengalaman atau menyampaikan pendapat. Hargai setiap hal yang disampaikan petani dengan bijak. Sebab saat komunikasi tatap muka, petani dapat saja melakukan penolakan terhadap pesan dari Penyuluh Pertanian. Menyiapkan alat peraga. Petani akan lebih mudah paham apabila pesan dalam bentuk visual, seperti teknik menyiapkan media tanam, maka Penyuluh Pertanian menyiapkan alat dan bahan yang diperlukan untuk mendemostrasikan teknologi yang disampaikan. Memanfaatkan teknologi informasi untuk melengkapi materi. Penyuluh Pertanian dapat menyiapkan video atau gambar yang dapat diperlihatkan kepada petani. Hal ini dimaksudkan agar petani lebih mudah memahami dan tumbuh minat untuk menerapkan teknologi. Metode ini dilakukan apabila petani belum memiliki kesempatan untuk melihat secara langsung hasil dari penerapan teknologi, seperti kisah sukses para petani lain yang telah memanfaatkan teknologi. Memiilih lokasi yang tepat. Lokasi penyampaikan teknologi baru dapat dilakukan di rumah petani, di lokasi budidaya, atau tempat lain yang memberikan suasana nyaman dan akrab Melakukan evaluasi umpan balik. Lakukan evaluasi secara langsung dan berkala. Respon positif saat komunikasi berlangsung, seperti bertanya menjadi salah satu tolok ukur keberhasilan komunikasi. Durasi komunikasi yang panjang dapat juga digunakan sebagai tolok ukur keberhasilan. Komunikasi yang sesaat mengindikasikan petani tidak tertarik atau Penyuluh Pertanian tidak mampu melakukan persuasi kepada petani. Memberi peluang untuk komunikasi bermedia. Memberikan nomor HP kepada petani dapat dilakukan untuk memberikan kesempatan kepada petani menanyakan kendala dalam menerapkan teknologi. Bagi Penyuluh Pertanian, komunikasi dengan HP dilakukan untuk memantau sejauhmana petani mau menerapkan teknologi pertanian. Menyampaikan teknologi pertanian yang baru tidak dapat dipaksakan dengan dalih segera menerapkan suatu teknologi baru. Karena petani juga memiliki rasa dan emosi, maka strategi komunikasi harus juga dengan pendekatan budaya dan adat istiadat. (Pito/Wellyana)