Kerapuhan dunia pertanian telah ditunjukan dengan menurunnya mutu Sumber Daya Alam ( hutan, tanah dan air ) sebagai basis penting pembangunan pertanian. Kegiatan perusakan telah dilakukan dalam kurun waktu lama sejak dahulu hingga saat ini ( dan mungkin disaat mendatang ). Sementara itu pula pertambahan jumlah penduduk yang semakin pesat, menuntut daya dukung produktivitas yang tinggi dari basis Sumber Daya Alam. Setiap tambahan penduduk harus didukung tambahan produksi pangan, kebutuhan air, dll. Tekanan terhadap alam yang semakin tidak berimbang dan berdampak reaksi balik yang luar biasa akibat bagi kehidupan manusia. Kondisi nyata yang bisa diamati saat ini yaitu pola hujan yang semakin tidak menentu, suhu permukaan bumi yang semakin tinggi, munculnya lahan-lahan kritis baru, banjir dan longsor dengan segala akibatnya, kesulitan air minum dimana-mana, gangguan kesehatan yang semakin kompleks, serta kekeringan dan gagal panen. Keadaan sebagaimana digambarkan tersebut, telah dirasakan pada beberapa dekade belakangan ini di Kabupaten Lembata, antara upaya pemulihan lingkungan dan perusakan seakan tetap berbarengan, disatu sisi ada gerakan konservasi, penghijauan, dan reboisasi. Sedangkan disisi lain menyusul dampak pembakaran hutan, lahan, perladangan pindah dan pertanian herbisida. Namun demikian ada spirit positif pandangan budaya Lamaholot tentang lingkungan hidup yang kiranya akan menjadi daya dorong yang akan direflesikan sebagai bagian dari komponen lingkungan hidup ( lingkungan tanah ) memberikan kehidupan ( sumber kehidupan ) karena mampu menumbuhkan berbagai jenis tanaman, karena itu tanah ibarat " Ibu " yang memberi makan pada anaknya. Ada sapaan tua: " Ama Rera Wulan, Ina Tanah Ekan ". Dengan sapaan ini bumi dilihat sebagai simbol " Allah yang dekat memberikan / menumbuhkan tanaman pada bumi ini ", dikenal dengan Allah yang jauh, yang menurunkan hujan. Ada upacara penghormatan kepada Ama Rera Wulan dan Ina Tanah Ekan. Bumi dan segala isinya diberikan Tuhan kepada manusia, dan apabila merusak berarti menyengsarakan diri sendiri. " Saatnya kini anak tanah Lembata bergandengan, melestarikan bumi pijak ini, dalam satu gerakan konservasi tanah dan air ". Upaya konservasi tanah dan air di Kabupaten Lembata telah dilakukan untuk mengurangi dampak dari pengrusakan hutan dan peladang berpindah, melalui pembuatan teras, rorak, penghijauan dan reboisasi. Hal ini dapat terlihat pada setiap lereng - lereng gunung di Kabupaten Lembata telah dihias berbagai macam teras. Sedangkan untuk mengantisipasi pembakaran hutan dan sistem ladang berpindah dilakukan penyuluhan mengenai konservasi tanah dan air, serta pentingnya menjaga dan melindungi sumber mata air. Perotasian tanaman, tanaman penutup lahan, dan tanaman penahan angin telah dilakukan sebagai cara yang paling baik dalam mencegah erosi permukaan tanah. Rotasi tanaman yang dilakukan adalah sebagai proses pergantian tanaman yang konvensional dan mudah dilakukan, untuk mencegah pengambilan nutrisi tanah yang berlebihan oleh satu jenis tanaman saja. Serta menanam tanaman penutup yang berfungsi sebagai pencegah tanah dari erosi, pertumbuhan gulma, dan evapotranspirasi berlebihan, namun tanaman penutup juga memiliki fungsi penting dalam menjaga kualitas kimia tanah; misalnya tanaman Leguminoceae untuk kelestarian kandungan nitrogen dalam tanah dan tanaman Mucuna pruriens untuk fosfor. Tanaman penahan angin ditanam dengan alur yang cukup padat atau barisan pepohonan yang ditanam dengan alur yang paralel terhadap arah angin. ( Maxie Ninef / BKP3 Kab. Lembata )