Kopi arabika dihasilkan dari tanaman coffea Arabica. tanaman ini dipercaya berasal dari daerah Etiopia kemudian dibawa oleh para pedagang Arab ke Yaman. Bangsa Arab mulai mempopulerkan ekstrak biji kopi arabika yang disedu dengan air panas sewbagai minuman penyegar.Di abad ke 15 popularitas minuman kopi mulai menyebar ke Eropa. Awalnya orang Eropa membeli kopi dari para pedagang arab. Kemudian mereka berhasil membudidayakan hingga menyebar ke berbagai belahan dunia. Di Indonesia sendiri kopi ada berbagai macam jenis dan varietas kopi. Yang umum dibudidayakan masyarakat Indonesia yaitu jenis Arabika dan Robusta. Dipasaran kebanyakan jenis robusta lebih banyak disbanding arabika karena lahan dan yang terbatas. Kopi arabika dapat tumbuh baik pada daerah pegunungan atau daerah dengan ketinggian 1000-2000 meter dpl. Dengan curah hujan berkisar antara 1200-2000 mm per tahun. Suhu lingkungan yang paling cocok untuk budidaya tanaman ini berkisar antara 25-24? C. Tanaman ini tidak tahan pada temperature yang mendekati beku di bawah 4?C. Untuk berbunga dan menghasilkan buah, tanaman kopi arabika membutuhkan periode kering selama 4-5 bulan dalam setahun. Biasanya pohon arabika akan berbunga diakhir musim penghujan. Bila bunga yang baru mekar tertimpa hujan yang deras akan menyebabkan kegagalan berbuah.Di daerah kabupaten Pasuruan tepatnya di kecamatan Tosari yang terletak dilereng gunung Bramo yang masuk kawasan pegunungan Tengger memiliki karakteristik lingkungan yang cocok untuk tanaman kopi arabika. Namun petani dikawasan tersebut masih belum melirik untuk budidaya tanaman kopi arabika, karena labih cepat unyuk tanaman hortikultura sayuran. Tanaman kopi arabika selain digunakan sebagai tanaman yang memiliki nilai ekonomis,tetapi juga dapat digunakan sebagai tanaman tegakan untuk mengurangi tingkat erosi tanah longsor khususnya untuk daerah pegunungan. Kopi jenis arabika ini memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi dari jenis robusta, karena kopi jenis arabika ini memiliki pangsa pasar ekpor yang cukup tinggi. Untuk di dalam negeri sendiri gaya hidup semakin berubah salah satunya yaitu kegiatan NGOPI sering dilakukan masyarakat Indonesia tanpa ada batasan usia dan jenis kelamin. Maka diharapkan daerah daerah yang berpotensi untuk budidaya kopi arabika guna memenuhi kebutuhan pasar yang semakin tinggi. Selain itu masyarakat petani terutama petani daerah pegunungan akan mendapat lebih bantak keuntungan baik dari segi nilai ekanami dan dari segi klingkungan.