Kribang (Dioscorea alata, L) merupakan tanaman umbi-umbian yang sudah lama dikenal masyarakat Kalimantan Barat sebagai tanaman pangan. Di Kalimantan Selatan, kribang dikenal dengan Ubi Alabio, sedangkan di Jawa, dikenal dengan sebutan Uwi (ada Uwi ungu,dan Uwi Putih). Tanaman ini sudah lama diusahakan oleh masyarakat di Kalimantan Barat, namun tanaman kribang, secara statistik tidak pernah tercatat produksinya karena tanaman ini hanya ditanam secara sambilan dan tidak luas. Namun demikian, usahatani kribang masih menarik minat petani di desa Sui Ambangah Kecamatan Kubu Raya untuk terus menanam kribang ini. Mengapa? karena menurut petani pasarnya jelas, dimana pengumpul datang dan membeli langsung ke petani dengan harga yang cukup baik. Saat ini harga kribang mencapai Rp. 13.000 – Rp. 14.000/kg. Berdasarkan informasi dari petani, bahwa kribang ini diekspor ke Singapura. Dengan demikian, kribang ini mempunyai potensi ekspor yang cukup baik. Saat ini, Pemerintah menggalakkan kembali penanaman dan pemanfaatan pangan lokal sebagai upaya untuk memperkuat ketahanan pangan, dimana salah satu kebijakannya adalah penganekaragaman konsumsi pangan. Hal ini disebabkan selama ini masyarakat umumnya bergantung kepada salah satu jenis pangan yang rentan terhadap perubahan lingkungan. Apalagi saat ini, kekeringan dan banjir sebagai dampak perubahan lingkungan global sangat mempengaruhi produksi sehingga ketersediaan pangan menjadi terbatas dan menjadikan harga pangan mahal. Untuk itu perlu alternative pangan lokal yang murah, terjangkau dan tersedia. Kribang atau Uwi yang merupakan tanaman pangan sumber karbohidrat yang sudah lama dikenal, bisa menjadi sumber pangan alternatif. Sebagai bahan pangan tradisional, Kribang atau Uwi-uwian juga potensial sebagai bahan pangan fungsional. Karakter Agronomi Kribang Kribang tumbuh merambat dan termasuk ke dalam tumbuhan perdu dan tingginya dapat mencapai 3 – 10 m. Tanaman Kribang tumbuh melilit pada tanaman keras, biasanya mulai tumbuh pada musim hujan dan pada musim kemarau mulai dipanen, namun di lapang tidak selalu ada di setiap musim. Batang muda bersegi empat dan bersayap. Daunnya berbentuk jantung, bertulang 5-7 termasuk tulang daun utama. Tangkai daun bersemu kemerahan di bagian pangkal dan dasar daun.. Kribang mempunyai umbi dengan bentuk tidak beraturan dan dengan banyak akar kasar di bagian pangkal batang. Tanaman ini umumnya memiliki umbi dengan kulit warna kecokelatan, sedangkan daging berwarna ungu, dan ada juga yang berwarna putih gading. Dengan umbinya berlendir. Bunganya berwarna dua macam, yang jantan berwarna kuning/kuning kehijauan, sementara yang betina berwarna kuning saja. Perbungaannya majemuk, terletak di ketiak daun, bulir jantan tersusun rapat dengan ukuran 1-3 cm, sementara betina tidak. Batangnya bersayap 4, memanjat ke kanan, tidak berduri tetapi kadang kala kasar atau berbintik di bagian dasar, bersudut 4 dan berwarna hijau sampai keunguanBudidaya uwi paling sesuai di lingkungan iklim tropis dengan suhu 25-30 derajat celsius, namun sudah berkembang pula di daerah subtropis. Umbi dipanen setelah umur tanaman 8-10 bulan. Manfaat dan Khasiat Uwi Tanaman kribang atau uwi-uwian merupakan tanaman sumber karbohidrat dan secara alami bersifat toleran naungan dan kekeringan, hidup merambat dan menghasilkan umbi di dalam tanah. Selain itu, beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa selain mengandung karbohidrat, kribang / uwi juga mengandung protein tinggi, namun rendah kadar gula dan memiliki kandungan antioksidan. Dengan kandungan antioksidan yang cukup tinggi dan kadar gula dalam uwi yang rendah, uwi sangat bagus dikonsumsi untuk penderita diabetes mellitus dan kanker. Karena dua zat tersebut sangat aktif dalam menghambat dan mencegah pertumbuhan penyakit tersebut. Selain itu, uwi juga memiliki kandungan vitamin C dan layak digunakan sebagai sumber mineral yang baik. Umbi Kribang mengandung lendir kental yang terdiri atas glikoprotein dan polisakarida larut air. Glikoprotein dan polisakarida merupakan bahan bioaktif yang berfungsi sebagai serat pangan larut air dan bersifat hidrokoloid yang bermanfaat untuk menurunkan kadar glukosa darah dan kadar total kolesterol, terutama kolesterol LDL (Low Density Lipoprotein). Umbi dan kuncup daunnya setelah dimasak dengan berbagai cara dikonsumsi sebagai bahan makanan tambahan. Umbinya dapat diproses sebagai tepung atau potongan-potongan tipis, merupakan sumber tepung minor. Kultivarnya dengan umbi yang berwarna ungu digunakan dalam pembuatan es kream dan permen. Sumber Noor et al., 2012. Ubi Alabio : Komoditas Potensial Ekspor dari Rawa. http://balittra.litbang.pertanian.go.id/index.php?option=com_content&view=article&id=1249&Itemid=5 Sofyati, 2016. Uwi, Pangan Alternatif Potensial. http://www.satuharapan.com/read-detail/read/uwi-pangan-alternatif-potensial Trustinah dan Astanto Kasno, 2013. Uwi-uwian (Dioscorea) : Pangan Alternatif yang Belum Banyak Dieksploitasi . http://balitkabi.litbang.pertanian.go.id /infotek/uwi-uwian-dioscorea-pangan-alternatif-yang-belum-banyak-dieksploitasi Penyusun : Ir. Sari Nurita (Penyuluh BPTP Kalbar)