Cantik merekah beraneka warna, itulah krisan atau dikenal dengan nama seruni. Krisan merupakan tanaman bunga hias berupa perdu berasal dari dataran Cina. Krisan kuning berasal dari dataran Cina, dikenal dengan Chrysanthenum indicum (kuning), C. morifolium (ungu dan pink) dan C. daisy (bulat, ponpon). Krisan masuk ke Indonesia pada tahun 1800. Sejak tahun 1940, krisan dikembangkan secara komersial. Permintaan pasar terhadap produk krisan tinggi. Permintaan krisan dengan warna kuning dan putih paling banyak diminati konsumen. Oleh karena itu perlunya perluasan pengembangan areal baru guna memenuhi tingginya permintaan pasar. Pemasaran krisan tidak hanya di pasar lokal, namun juga menembus pasar luar negeri salah satunya negara Jepang. Negeri sakura merupakan pengimpor krisan terbesar di Asia. Teknologi Budidaya Krisan 1. Persiapan dan Pengolahan Lahan Tanah yang ideal untuk tanaman krisan adalah bertekstur liat berpasir, subur, gembur dan drainasenya baik, tidak mengandung hama dan penyakit. Keasaman tanah (Ph) yang baik untuk pertumbuhan tanaman sekitar 5,5-6,7 Olah tanah dengan menggunakan cangkul sedalam 30 cm hingga gembur, keringanginkan selama 15 hari. Gemburkan yang kedua kalinya sambil dibersihkan dari gulma dan bentuk 25 bedengan dengan lebar 100-120 cm, tinggi 20- 30 cm, panjang disesuaikan dengan lahan, jarak antara bedengan 30-40 cm. Tanah yang mempunyai pH > 5,5, perlu diberi pengapuran berupa kapur pertanian misalnya dengan dolomit, kalsit, zeagro. Dosis tergantung pH tanah. Kebutuhan dolomit pada pH 5 = 5,02 ton/ha, pH 5,2 = 4,08 ton/ha, pH 5,3 = 3,60 ton/ha, pH 5,4 = 3,12 ton/ha. Pengapuran dilakukan dengan cara disebar merata pada permukaan bedengan. 2. Pembibitan Bibit diambil dari induk sehat, berkualitas prima, daya tumbuh tanaman kuat, bebas dari hama dan penyakit dan komersial di pasar. Pembibitan dilakukan dengan cara vegetatif yaitu dengan anakan, stek pucuk dan kultur jaringan. Bibit dari stek pucuk perlu diseleksi tanaman yang sehat dan cukup umur, diameter pangkal 3-5 mm, panjang 5 cm, mempunyai 3 helai daun dewasa berwarna hijau terang.Potong pucuk kemudian boleh langsung disemaikan atau disimpan dalam ruangan dingin bersuhu udara 4âžÆ’, kelembaban 30 % agar tetap tahan segar selama 3-4 minggu. Stek dibungkus dengan beberapa lapis kertas tisu, dimasukan ke dalam kantong plastik maksimal jumlahnya 50 stek/kantong. 3. Penyemaian Penyemaian di bak : Siapkan tempat atau lahan persemaian berupa bak berukuran lebar 80 cm, kedalaman 25 cm, panjang disesuaikan dengan kebutuhan dan sebaiknya bak berkaki tinggi. Bak dilubangi untuk drainase yang berlebihan. Medium semai berupa pasir steril hingga cukup penuh. Stek pucuk disemai dengan jarak 3 cm x 3 cm dan kedalaman 1-2 cm, sebelum ditanamkan diberi Rotoon (ZPT). Setelah tanam pasang sungkup plastik yang transparan di seluruh permukaan. Pemeliharaan penyemaian dilakukan penyiraman dengan sprayer 2-3 kali sehari, pasang bola lampu untuk pertumbuhan vegetatif, penyemprotan pestisida apabila tanaman di serang hama atau penyakit. Buka sungkup pesemaian pada sore hari dan malam hari, terutama pada beberapa hari sebelum pindah ke lapangan. 4. Penanaman Tanaman bunga krisan merupakan tanaman yang dapat dibudidayakan secara monokultur. Jarak lubang tanam 10 cm x 10 cm, 20 cm x 20 cm. Lubang tanam dengan cara ditugal. Waktu tanam yang baik antara pagi atau sore hari. Pupuk Dasar menggunakan Furadan 3G sebanyak 6-10 butir perlubang. Campuran pupuk ZA 75 gram ditambah TSP 75 gram ditambah KCl 25gram (3:3:1)/m2 luas tanam, diberikan merata pada tanah sambil diaduk. Tanam bibit krisan satu per satu pada lubang yang telah disiapkan sedalam 1-2 cm, sambil memadatkan tanah pelan-pelan dekat pangkal batang bibit. Setelah penanaman siram dengan air dan pasang naungan sementara dari sungkup plastik transparan. Teknik penanaman bunga pot dilakukan dengan menanam 5-7 bibit yang telah berakar ke dalam pot yang berisi media sabut kelapa (hancur) atau campuran tanah dan sekam padi (1:1). Untuk memperpendek batang, pot-pot ini ditumbuhkan selama 2 minggu dengan penyinaran 16 jam/hari. Untuk merangsang pembungaan, pot-pot kemudian diberi 28 pencahayaan pendek dengan cara menutupnya di dalam kubung dari jam 16.00-22.00. Untuk mendapatkan bunga yang besar dan jumlahnya sedikit, bakal bunga dari setiap batang perlu diperjarang dengan hanya menyisakan satu kuncup bunga. Dengan cara ini akan didapatkan krisan pot dengan 5-7 bunga yang mekar bersamaan. Periode berikutnya beralih ke generatif. Tangkai bunga memanjang mencapai 80 cm. Bila dipanen tangkainya 70 cm, maka tangkai bunga yang tersisa adalah 10 cm pada tanaman. Total lama penyinaran sejak bibit ditanam sampai periode generatif antara 12-15 minggu tergantung varietas krisan. Cara pengaturan dan penambahan cahaya yaitu dengan pola byarpet, yaitu pencahayaan malam selama 5 menit lalu dimatikan selama 1 menit dilakukan secara berulang-ulang hingga mencapai 30 27 menit. Cara lain pengaturan dan penambahan cahaya adalah dengan memasang lampu TL pada tengah malam mulai pukul 22.30-01.00 5. Pemupukan Waktu pemupukan dimulai umur 1 bulan setelah tanam, kemudian diulang seminggu sekali, dan akhirnya sebulan sekali. Jenis dan dosis pupuk yang diberikan pada fase vegetatif yaitu Urea 200 gram ditambah ZA 200 gram ditambah KNO3 100 gram per m 2 luas lahan. Pada fase Generatif digunakan pupuk Urea 10 gram ditambah TSP 10 gram ditambah KNO3 25 gram per m 2 luas lahan, Cara pemupukan disebar dalam larikan atau lubang ditugal samping kiri dan samping kanan. 6. Pembuangan Titik Tumbuh dan Penjarangan Bunga Waktu pembuangan titik tumbuh adalah pada umur 10-14 hari setelah tanam, dengan cara memotes ujung tanam sepanjang 5 cm. Jika ingin mendapatkan bunga yang besar, dalam 1 tangkai bunga hanya dibiarkan satu bakal bunga yang tumbuh. 7. Pemeliharaan Tanaman Penjarangan dan Penyulaman : Waktu penyulaman seawal mungkin yaitu 10-15 hari setelah tanam. Penyulaman dilakukan dengan cara mengganti bibit yang mati atau layu permanen dengan bibit yang baru. Penyiangan : Waktu penyiangan dan penggemburan tanah umumnya 2 minggu setelah tanam. Penyiangan dengan cangkul atau kored dengan hati-hati membersihkan rumput-rumput liar. c. Pengairan dan Penyiraman : Pengairan yang paling baik adalah pada pagi atau sore hari, pengairan dilakukan kontinu 1-2 kali sehari, tergantung cuaca atau medium tumbuh. Pengairan dilakukan dengan cara sistem irigasi tetes hingga tanah basah. Susi Deliana Siregar, Penyuluh Pertanian Madya, Pusat Penyuluhan Pertanian Sumber: Disarikan dari berbagai sumber Sumber Gambar: http://hortikultura.pertanian.go.id/?p=2673