Loading...

KULTUR TEKNIS YANG ADAPTIF TERHADAP ANOMALI IKLIM EL NINO PADA TANAMAN TEH

KULTUR TEKNIS YANG ADAPTIF TERHADAP ANOMALI IKLIM EL NINO  PADA TANAMAN TEH
Tanaman teh merupakan tanaman tahunan yang tersebar di kawasan Asia Tenggara hingga India. Indonesia saat ini adalah produsen teh terbesar ketujuh di dunia. Tanaman teh sangat cocok dibudidayakan pada daerah dengan curah hujan minimal 1.150 – 1.400 mm/tahun dengan kelembaban udara minimal 70%. Kebutuhan curah hujan dan kelembaban ini akan mempengaruhi pertumbuhan dan produksi tanaman khususnya untuk pertumbuhan pucuk. Berdasarkan hal tersebut, perubahan iklim seperti fenomena El Nino dan La Nina sudah pasti akan mempengaruhi teknologi kultur teknis yang harus diterapkan. Dampak perubahan iklim global di Indonesia ditandai dengan pergeseran musim, seperti mundurnya musim kemarau atau musim hujan. Adapun fenomena anomali iklim El Nino mengakibatkan penurunan curah hujan yang berdampak kepada ketersediaan air terbatas bahkan sampai terjadi kekeringan. Hal ini akan berakibat tanaman menjadi layu bahkan mati dan penurunan hasil sampai mencapai 20 – 42%. Untuk mengatasi fenomena anomali iklim El Nino, teknologi kultur teknis yang adaptif dilakukan pada tanaman teh antara lain dengan cara pengelolaan tanaman pelindung; pemangkasan tanaman teh; pemupukan menjelang dan setelah kemarau; pengendalian hama dan gulma; irigasi, fertigasi, pemanfaatan embung; grafting; mulsa dan bahan organik. Pengelolaan Tanaman Pelindung Keberadaan tanaman pelindung pada areal tanaman teh dapat menurunkan suhu udara, meningkatkan kelembaban relatif dan menurunkan intensitas cahaya matahari sehingga dapat meningkatkan produksi pucuk teh sebanyak 20% pada musim hujan dan 55% pada musim kemarau. Adapun pengelolaan tanaman pelindung dapat dilakukan dengan pemangkasan bentuk yang dilakukan pada saat lilit batang tanaman pelindung mencapai 60 cm atau ketinggian 7 m dengan cara memotong dan membiarkan empat cabang mengarah ke mata angin. Pemangkasan Tanaman Teh Untuk mengurangi dampak kekeringan pada tanaman teh produktif dapat dilakukan pemangkasan tanaman teh menjelang musim kemarau atau saat kemarau dengan tipe pangkasan ajir (jambul) dengan jumlah daun yang ditinggal 100 – 150 lembar. Sebelum dilakukan pemangkasan, tanaman di pupuk dahulu sesuai dosis rekomendasi dengan tujuan untuk meningkatkan kesehatan tanaman sehingga dapat mempersingkat masa tidak produktif ketika dipangkas. Agar areal pangkasan tahan terhadap kekeringan, 3 bulan sebelum tiba musim kemarau dilakukan pembentukan daun dengan ketebalan 5 daun pada seluruh areal yang di pangkas serta dilakukan pemeliharaan areal pangkasan dari hama dan penyakit dengan pemberian pupuk daun. Pemupukan Menjelang dan Setelah Kemarau Perubahan iklim global menyebabkan perubahan pola curah hujan sehingga mempengaruhi air tanah dan ketersediaan hara, yang pada akhirnya berpengaruh terhadap strategi konservasi hara pada tanaman. Strategi konservasi hara pada tanaman salah satunya dilakukan dengan pemupukan yang dapat dilakukan menjelang dan setelah kemarau. Pemupukan yang dilakukan menjelang kemarau dapat dilakukan dengan pemberian pupuk K dengan dosis 120 – 240 kg K2O/ha/tahun dan pupuk ZPT 2-4%. Sedangkan setelah kemarau, pemupukan dapat dilakukan dengan memperhatikan kondisi tanaman. Untuk tanaman yang relatif tidak terkena dampak kekeringan atau kekeringan ringan, aplikasi pupuk terakhir dapat diberikan seluruhnya (100% dosis aplikasi terakhir) dan aplikasi pupuk sebelumnya yang tidak sempat diberikan tidak perlu ditambahkan. Untuk tanaman yang mengalami kekeringan sedang, aplikasi pupuk terakhir diberikan 80% dosis. Tanaman yang mengalami kekeringan berat, aplikasi pupuk terakhir diberikan 50% dosis dan pupuk Zn diberikan pada awal musim hujan dengan konsentrasi 2% setelah pemetikan. Pengendalian Hama dan Gulma Selama musim kering, serangan hama yang harus diwaspadai seperti tungau, tea tortrix, dan ulat jengkal. Pengendalian hama ini dapat dilakukan menggunakan pengendalian terpadu dengan memperhatikan segi ekonomi, sosial, toksikologi, dan ekologi yang menitikberatkan faktor-faktor mortalitas alami sehingga populasi hama tetap berada pada tingkat yang secara ekonomi tidak merugikan. Adapun gulma harus dikendalikan untuk mengurangi kompetisi air tanah ketika musim kering. Pada musim kering pengendalian gulma dilakukan dengan strip weeding untuk keadaan gulma yang penutupannya lebih dari 80% dan untuk areal tanaman teh dengan penutupan di bawah 50% sebaiknya pengendalian dilakukan awal musim hujan. Irigasi, Fertigasi, Pemanfaatan Embung Perkebunan teh umumnya terdapat di lahan kering yang kebutuhan airnya mengandalkan air hujan. Terjadinya perubahan iklim menyebabkan pasokan air semakin tidak menentu. Untuk mengatasi hal tersebut salah satunya dengan cara menampung air (water harvesting) ketika musim hujan sebagai cadangan air untuk digunakan di musim kemarau yang dialirkan melalui saluran irigasi . Tempat menampung air ini sering disebut dengan embung. Pembuatan embung dilakukan sebagai salah satu upaya menghadapi musim kemarau berkepanjangan. Prinsip dasar embung adalah menampung kelebihan air pada musim hujan dan memanfaatkannya pada musim kemarau. Sasaran pembangunan embung adalah daerah dengan tipe iklim kering. Aplikasi irigasi dapat digabungkan dengan aplikasi pemupukan yang disebut dengan fertigasi. Pada prinsipnya, unsur hara yang diberikan melalui fertigasi dapat diserap tanaman melalui daun secara langsung seperti halnya pemupukan lewat daun (foliar application) dan juga secara tidak langsung melalui kelarutannya di dalam tanah. Grafting Grafting merupakan salah satu cara penggabungan dua struktur batang yang terpisah untuk menghasilkan bibit tanaman. Untuk mendapatkan bahan tanaman yang tahan kekeringan dengan cara sambungan (grafting), yaitu menggunakan batang bawah yang tahan terhadap kekeringan dan batang atas yang memiliki produktivitas tinggi. Mulsa dan Bahan Organik Pemberian bahan organik merupakan upaya untuk memperbaiki sifat fisik, kimia dan biologi tanah agar tanah tersebut memiliki kemampuan lebih besar dalam mendukung pertumbuhan dan produksi tanaman. Dari sifat fisik kimia, bahan organik berperan dalam memperbaiki struktur tanah sehingga tanah sebagai media tumbuh memberikan kondisi aerasi perakaran yang baik untuk mendukung perkembangan akar tanaman. Dari sifat kimia tanah, bahan organik berperan untuk meningkatkan KTK tanah sehingga hara yang dipalikasikan lewat pupuk tidak segera hilang tercuci dan dapat diserap oleh akar tanaman. Sementara dari sifat biologi tanah, bahan organik merupakan sumber energi bagi biota tanah untuk melakukan berbagai aktivitasnya di dalam tanah, disamping sebagai penghasil enzim, hormon, dan senyawa-senyawa organik yang mempengaruhi dinamika dan ketersediaan hara di dalam tanah. Selain pemberian bahan organik, aplikasi mulsa organik juga dapat membuat tanaman menjadi lebih subur dan kaya akan unsur hara, sebab makroorganisme tanah seperti cacing tanah akan berkembang baik disamping itu juga menjaga kelembaban tanah dan menjaga kestabilan suhu tanah serta dapat menyumbang bahan organik. Mulsa organik mampu mengendalikan iklim mikro terutama kelembaban dan temperatur tanah, memperkecil penguapan air tanah dan mampu menyerap air lebih banyak serta mampu menyimpan air lebih lama. Aplikasi mulsa organik dapat dilakukan dengan cara meletakkan sisa-sisa tanaman/serasah/jerami di sekitar tempat tumbuh tanaman (sekitar akarnya). Mugi Lestari (PP BPPSDMP Kementan) Sumber : Yati Rachmiati dkk, 2014. Teknologi Pemupukan dan Kultur Teknis Yang Adaptif Terhadap Anomali Iklim Pada Tanaman Teh. Seminar Nasional Upaya Peningkatan Produktivitas di Perkebunan Dengan Teknologi Pemupukan dan Antisipasi Anomali Iklim, 25 – 26 Maret 2014. Bayu Wicaksana, 2019. Adaptasi Atasi Perubahan Iklim Pada Tanaman Teh. https://secreatuser.wordpress.com/2019/08/05/adaptasi-atasi-perubahan-iklim-pada-tanaman-teh/