Loading...

KULTUR TEKNIS YANG ADAPTIF TERHADAP ANOMALI IKLIM LA NINA PADA TANAMAN TEH

KULTUR TEKNIS YANG ADAPTIF TERHADAP ANOMALI IKLIM LA NINA PADA TANAMAN TEH
Tanaman teh merupakan tanaman tahunan yang tersebar di kawasan Asia Tenggara hingga India. Indonesia saat ini adalah produsen teh terbesar ketujuh di dunia. Tanaman teh sangat cocok dibudidayakan pada daerah dengan curah hujan minimal 1.150 – 1.400 mm/tahun dengan kelembaban udara minimal 70%. Kebutuhan curah hujan dan kelembaban ini akan mempengaruhi pertumbuhan dan produksi tanaman khususnya untuk pertumbuhan pucuk. Berdasarkan hal tersebut, perubahan iklim seperti fenomena El Nino dan La Nina sudah pasti akan mempengaruhi teknologi kultur teknis yang harus diterapkan. Dampak perubahan iklim global di Indonesia ditandai dengan pergeseran musim, seperti mundurnya musim kemarau atau musim hujan. Adapun fenomena anomali iklim La Nina mengakibatkan meningkatnya curah hujan yang berdampak kepada kelembaban meningkat, terjadinya erosi lapisan topsoil tanah, meningkatnya penyakit Blister blight dan berkurangnya sinar matahari. Untuk mengatasi fenomena anomali iklim La Nina, teknologi kultur teknis yang adaptif dilakukan pada tanaman teh antara lain dengan cara pemangkasan tanaman teh, aplikasi biofertilizer, pengendalian hama dan penyakit tanaman, pembuatan rorak, parit drainase dan mulsa serta pengelolaan pohon pelindung. Pemangkasan Tanaman Teh Pemangkasan tanaman teh dilakukan untuk membentuk cabang baru, membuang cabang yang sakit dan untuk meningkatkan kesehatan tanaman. Pemangkasan tanaman teh sebaiknya dilakukan secara zigzag di seluruh areal. Pemangkasan dilakukan untuk kebun yang menganut tahun pangkas 4 tahun, pemangkasan dilakukan 25% dari luas areal dan untuk kebun yang menganut tahun pangkas 3 tahun, pemangkasan dilakukan 33% dari luas areal. Aplikasi Biofertilizer Penggunaan pupuk anorganik pada tanaman perkebunan sangat tergantung dari keadaan iklim, khususnya curah hujan. Curah hujan yang tinggi akan mengakibatkan erosi lapisan topsoil yang tentu saja akan mengakibatkan pupuk anorganik yang diaplikasikan akan mengalami pencucian. Untuk itu aplikasi biofertilizer dapat dijadikan salah satu cara untuk memenuhi unsur hara yang diperlukan. Biofertilizer atau pemupukan hayati yang mengandung mikroba sangat efektif sebagai sumber unsur hara seperti misalnya biofertilizer yang mengandung bakteri endofitik dan Azotobacter yang sangat berguna untuk membantu pemenuhan unsur nitrogen dalam tanah. Pengendalian Hama dan Penyakit Tanaman Peningkatan curah hujan akan berdampak pada peningkatan hama dan penyakit tanaman serta gulma. Hal ini dikarenakan kelembaban meningkat dan kurangnya sinar matahari. Penyakit yang sering muncul adalah penyakit cacar daun (Blister blight) dan hama yang menyerang adalah hama pengisap Helopeltis. Untuk pengendalian penyakit cacar daun (Blister blight) dapat dilakukan dengan menggunakan fungisida sistemik atau kontak, sedangkan pengendalian hama pengisap Helopeltis dapat dilakukan secara preventif. Pengendalian gulma dilakukan secara kimiawi/manual untuk menekan kompetisi dengan tanaman teh dan mengurangi tanaman inang hama Helopetis. Rorak, Parit Drainase dan Mulsa Pembuatan saluran untuk menampung kelebihan air di musim hujan perlu dilakukan agar air tidak menggenang dan mengakibatkan banjir. Untuk pertanaman yang sudah menghasilkan, pembuatan parit drainase diprioritaskan pada areal yang drainasenya kurang baik agar tidak terjadi genangan air. Drainase dibuat dengan ukuran kedalaman 40 cm dan lebar 40-50 cm serta panjang 2 meter. Agar air run off dan seresah halus dapat ditampung perlu dibuatkan rorak dengan kedalaman 5 – 7 cm setiap 2 – 3 baris tanaman. Sedangkan untuk tanaman yang belum menghasilkan rorak dapat dibuat dengan panjang 2 meter, kedalaman 40 cm dan lebar 40 cm. Adapun untuk mencegah terjadinya erosi di areal tanaman perlu diberikan mulsa dari bahan seresah atau dari sisa hasil pemangkasan tanaman. Pengelolaan Pohon Pelindung Pemangkasan pohon pelindung bertujuan untuk memberikan cahaya yang cukup dan untuk mengurangi kelembaban. Pemangkasan pohon pelindung dilakukan secara bertahap dengan ketentuan ketinggian dari permukaan tanah minimal 8 meter dan dari tanaman teh minimal 5 meter dengan ketebalan daun yang ditinggalkan minimal 2 meter. Sedangkan pemangkasan pohon pelindung dapat dilakukan 100% apabila terdapat areal yang menjadi kantong cacar daun (Blister blight). Mugi Lestari (PP BPPSDMP Kementan) Sumber : Yati Rachmiati dkk, 2014. Teknologi Pemupukan dan Kultur Teknis Yang Adaptif Terhadap Anomali Iklim Pada Tanaman Teh. Seminar Nasional Upaya Peningkatan Produktivitas di Perkebunan Dengan Teknologi Pemupukan dan Antisipasi Anomali Iklim, 25 – 26 Maret 2014.