Ada delapan kunci sukses yang harus terpenuhi jika petani ingin mendapatkan hasil yang menguntungkan dari usaha berkebun sawit.1. Sawit Hibrida Asli (F1) Sawit hibrida merupakan turunan pertama (Filial 1) dari perkawinan campur (persilangan) antara sawit bertipe Dura dengan sawit bertipe Pisifera yang menghasilkan turunan bertipe Tenera. Berdasarkan ketebalan cangkangnya, kelapa sawit dikelompokkan dalam tiga tipe yaitu;a) Dura, mempunyai cangkang (tempurung) tebal, 6 – 8 mm, porsi mesokarp terhadap buah berkisar 35-65% (Dura Deli), kernel besar, tetapi minyak terekstrak rendah, 17-19%. Cangkang tebal dura diduga dapat memperpendek umur mesin pengolah.b) Pisifera, tanpa cangkang, kernel kecil dengan lapisan fiber tipis, proporsi mesokarp tinggi dan kadar minyak terekstrak tinggi, tetapi sebagian besar betinanya steril sehingga sangat jarang menghasilkan buah.c) Tenera, merupakan hasil silangan antara Dura dan Pisifera sehingga mempunyai karakteristik gabungan antara Dura dan Pisifera sehingga meminimalisir kelemahan masing-masing. Kernel berukuran sedang dengan cangkang menjadi lebih tipis (0,5-4 mm), tetapi bunga betina tetap fertile. Proporsi mesokarp tinggi (60-95%) dan kadar minyak 22-25%, bahkan ada yang mencapai 28%. Produktivitas sawit hibrida asli 25-30 ton/ha/tahun sedangkan sawit asalan hanya sekitar 12,5 ton/ha/tahun. 2. Jarak Tanam Teratur Jarak tanam yang digunakan menentukan jumlah tanaman setiap satuan luas (ha). Jarak tanam dipengaruhi oleh jenis tanah dan kesuburannya, kemiringan lereng, dan varietas tanaman. Jarak tanam di tanah kurang subur lebih rapat dibandingkan tanah subur, begitu pula jarak tanam di lahan gambut lebih rapat dibandingkan di tanah mineral. Jarak tanam baku yang dianggap optimal adalah 9 x 9 m pada topografi datar. Jika digunakan sistem tanam bujur sangkar akan dihasilkan populasi tanaman sebanyak 121 pohon, tetapi jika segitiga sama sisi akan diperoleh 142-143 pohon/ha. Sistem tanam segitiga dipandang lebih efisien dalam pemanfaatan ruang dan sumberdaya lahan sehingga hasilnya lebih optimal. Hasil penelitian mutahir para pemulia telah menghasilkan varietas kelapa sawit Dampi dengan susunan daun lebih rapat dan lebih pendek sehingga dapat ditanam lebih rapat. Jarak tanam yang direkomendasikan adalah 8,5 x 8,5 m segitiga sama sisi. Pada lahan berlereng yang memerlukan terasering, tidak bisa lagi diterapkan sistem segi tiga, tetapi mengarah ke empat persegi panjang. Di samping itu, ada juga yang menyarankan jarak tanam 9,2 x 9,2m hingga 9,5 x 9,5 m dalam sistem tanam segitiga sama sisi yang akan menghasilkan populasi tanaman antara 128-136 pohon/ha dan untuk lahan gambut dengan jarak tanam lebih rapat 8,8 x 8,8 m segitiga (150 pohon/ha). Di lahan berlereng curam, jarak antar baris lebih besar, tetapi varietas dengan pelepah lebih pendek dapat ditanam lebih rapat. 3. Pemupukan CukupWaktu Pemupukan:• Pemupukan dilakukan pada waktu hujan kecil, namun > 60 mm/bulan. Pemupukan ditunda jika curah hujan kurang dari 60 mm per bulan.• Pupuk Dolomit dan Rock Phosphate diusahakan diaplikasikan lebih dulu untuk memperbaiki kemasaman tanah dan merangsang perakaran, diikuti oleh MOP (KCl) dan Urea/ZA.• Jarak waktu penaburan Dolomit/Rock Phosphate dengan Urea/ZA minimal 2 minggu.• Seluruh pupuk agar diaplikasikan dalam waktu 2 (dua) bulan.Frekuensi pemupukan:• Pemupukan dilakukan 2 – 3 kali tergantung pada kondisi lahan, jumlah pupuk, dan umur tanaman.• Pemupukan pada tanah pasir dan gambut perlu dilakukan dengan frekuensi yang lebih banyak.• Frekuensi pemupukan yang tinggi mungkin baik bagi tanaman, namun tidak ekonomis dan mengganggu kegiatan kebun lainnya.Jenis dan Takaran PupukPemupukan Tanaman Belum Menghasilkan (TBM):• Dosis pupuk ditentukan berdasarkan umur tanaman, jenis tanah, kondisi penutup tanah, kondisi visual tanaman.• Waktu pemupukan ditentukan berdasarkan jadual, umur tanaman.• Pada waktu satu bulan, ZA ditebar dari pangkal batang hingga 30 – 40 cm.• Setelah itu ZA, Rock Phosphate, MOP dan Kieserit ditaburkan merata hingga batas lebar tajuk.• Boron ditebarkan di ketiak pelepah daun.• ZA, MOP, Kieserite dapat diberikan dalam selang waktu yang berdekatan.• Rock Phosphate tidak boleh dicampur dengan ZA. Rock Phosphate dianjurkan diberikan lebih dulu dibanding pupuk lainnya jika curah hujan > 60 mm.• Jarak waktu pemberian Rock Phosphate dengan ZA minimal 2 minggu.Pemupukan Tanaman Menghasilkan (TM):• Sasaran pemupukan : 4 T ( tepat jenis, dosis, waktu dan metode).• Dosis pupuk ditentukan berdasarkan umur tanaman, hasil analisa daun, jenis tanah, produksi tanaman, hasil percobaan dan kondisi visual tanaman.Cara Pemupukan:• Pemupukan dilakukan dengan sistem tebar dan sistem benam (Pocket).• Pada sistem tebar, pupuk ditebarkan di piringan pada jarak 0,5 meter hingga pinggir piringan pada tanaman muda, dan pada jarak 1 – 2,4 meter pada tanaman dewasa.• Pada sistem pocket, pupuk diberikan pada 4 – 6 lubang pada piringan disekeliling pohon. Kemudian lubang ditutup kembali. Sistem pocket disarankan pada areal rendahan, areal perengan ataupun pada tanah pasiran yang mudah tercuci/tererosi.• Pada tapak kuda, 75% pupuk diberikan pada areal dekat tebing. Untuk mengurangi pencucian, pupuk ini sebaiknyadiaplikasikan dengan sistem pocket. 4. Kastrasi Umur 1-2 Tahun Kastrasi adalah pemotongan atau pembuangan secara menyeluruh bunga jantan maupun bunga betina sebelum areal tersebut dipolinasi. Kastrasi dilakukan sejak tanaman mengeluarkan bunga yang pertama (umur 12 bulan setelah tanam) sampai tanaman berumur 33 bulan atau selambat-lambatnya 6 bulan sebelum panen pertama. Kastrasi bertujuan untuk merangsang pertumbuhan vegetatif dan menghilangkan sumber infeksi hama dan penyakit. Kastrasi dilakukan 1 bulan sekali atau sebanyak 10-12 kali selama masa TBM (tanaman belum menghasilkan). 5. Pelepah Daun Cukup Pemangkasan/penunasan adalah pembuangan daun-daun tua atau yang tidak produktif pada tanaman kelapa sawit. Tujuan pemangkasan adalah sebagai berikut:• Memperbaiki sirkulasi udara disekitar tanaman sehingga dapat membantu proses penyerbukan secara alami.• Mengurangi penghalangan pembesaran buah dan kehilangan brondolan buah terjepit pada pelepah daun.• Membantu dan memudahkan pada waktu panen.• Mengurangi perkembangan epifit daun.• Agar proses metabolisme tanaman berjalan lancar, terutama proses fotosintesis dan respirasi.• Pemangkasan dilakukan 6 bulan sekali untuk tanaman belum menghasilkan dan 8 bulan sekali untuk tanaman menghasilkan. 6. Pengendalian Gulma Pengendalian gulma dalam pertanaman sawit mencakup areal sekitar piringan dan gawangan (antar barisan tanaman). Tujuan pengendalian gulma di daerah piringan adalah untuk mengurangi persaingan unsur hara, memudahkan pengawasan pemupukan, memudahkan pengumpulan brondolan, dan menekan populasi hama tertentu. Sedangkan pengendalian gulma di gawangan dimaksudkan untuk menekan persaingan unsur hara dan air, memudahkan pengawasan, dan jalan untuk pengangkutan saprodi dan panen. Pengendalian gulma tidak dimaksudkan untuk membuat permukaan tanah bebas sama sekali dari rumput (clean weeding), karena dapat menyebabkan erosi tanah. Tanaman muda yang mempunyai tanaman penutup tanah yang baik praktis tidak memerlukan penyiangan, hanya pada pinggiran atau tempat-tempat tertentu dan tanaman perdu yang tumbuh liar. 7. Hama dan Penyakit Terkendali Hama penting yang meyerang kelapa sawit yaitu ulat api, tikus dan babi hutan. Sedangkan penyakit yang menyerang kelapa sawit yaitu busuk tandan (jamur marasmius) dan busuk pangkal batang (jamur ganoderma). Pengambilan keputusan pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT) kelapa sawit harus memperhatikan beberapa aspek sebagai berikut:a) Aspek ekologi : pengambilan keputusan hendaknya mempertimbangkan dinamika populasi OPT dan musuh alami yang ada pada areal pertanaman kelapa sawit, dikaitkan dengan kondisi lingkungan dan mikroklimat setempat.b) Aspek teknis : pengambilan keputusan hendaknya mempertimbangkan ketersediaan teknologi yang sederhana, mudah, murah dan ramah lingkungan.c) Aspek ekonomi : konsekuensi biaya akibat keputusan pengendalian yang diambil diupayakan murah dan lebih kecil dari nilai komoditi yang akan diselamatkan.d) Aspek keamanan : keputusan pengendalian yang diambil seharusnya tidak menimbulkan ancaman terhadap pangan dan kesehatan manusia.e) Aspek sosial-budaya : keputusan pengendalian yang diambil bersama-sama masyarakat dengan mempertimbangkan kebiasaan dan budaya setempat sehingga menghasilkan pengendalian yang efektif. 8. Panen Membrondol Saat yang tepat untuk memanen buah sawit yaitu pada saat buah sudah masak dan memberondol minimal 1 brondol. Ciri-cirinya ditandai dengan perubahan warna pada buah yang tadinya berwarna ungu kehitaman berubah menjadi merah kekuningan. Panen diusahakan memakai prinsip PAO (panen-angkut-olah) dimana buah yang dipanen harus cepat diangkut (< 24 jam) untuk diolah di Pabrik agar mutu minyaknya tidak turun akibat kenaikan asam lemak bebas. Panen dilakukan dengan menggunakan alat dodos atau egrek. Ditulis oleh : M. Iwan Kurniawan, SP (Penyuluh Pertanian Kab. Sijunjung) Sumber Informasi : Pahan, I., 2008. Panduan Lengkap KelapaSawit. Penebar Swadaya. Jakarta.