Loading...

Lalat Penggorok Daun dapat Menggagalkan Panen Kentang

Lalat Penggorok Daun dapat Menggagalkan Panen Kentang
Kentang (Solanum tuberosum) merupakan salah satu komoditas sayuran penyumbang Produk Domestik Bruto (PDB) yang cukup besar. Pada tahun 2004 misalnya, apabila dipilah menurut jenis komoditas sayuran penyumbang PDB, kentang menduduki urutan ke 5 (7,6 %) setelah cabe besar (25 %), bawang merah (13 %), cabe rawit (10 %) dan kubis (8,2%). Dalam rangka memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri maupun ekspor kentang dengan mutu (kualitas) dan jumlah (kuantitas) yang memadai diperlukan norma budidaya yang baik dan benar. Untuk menerapkan hal ini dikenal dengan Standar Operasional Prosedur atau yang disingkat dengan "SOP". Pada saat ini target yang akan dicapai melalui penerapan SOP budidaya kentang diharapkan mencapai produktivitas > 20 ton/ha, tingkat kehilangan hasil < 10 % dan kualitas umbi yang dihasilkan sesuai dengan standar pasar mencapai 90%. Untuk mencapai target tersebut tentunya tidak terlepas dari upaya pengendalian hama yang efektif. Salah satu hama yang harus diwaspadai dan dikendalikan adalah hama "Lalat Penggorok Daun".atau yag dalam bahasa latinnya Liriomyza huidobrensis. Soalnya, jika serangannya sudah parah akan menyebabkan tanaman banyak yang mati. Tentunya dengan kejadian ini, hasil umbi kentang yang ditunggu-tunggu tidak dapat diperoleh seperti apa yang diharapkan, yaitu banyak umbinya dan baik mutunya. Lalat penggorok daun dewasa berwarna putih dengan mata berwarna kemerah-merahan serta dada dan perut berwarna hitam dan kuning. Serangga ini meletakkan telur di dalam jaringan daun. Larva (ulat) terbentuk pada daun, sedangkan pupa (kepompong) terbentuk di dalam tanah. Lalat penggorok daun memakan cairan tanaman yang keluar dari daun. Gejala Serangan Sebagai tanda/ gejala bahwa tanaman kentang diserang hama lalat penggorok daun antara lain daun yang terserang berwarna keperak-perakan atau kekuning-kuningan seperti perunggu pada permukaan bawah daun karena cairan sel daun diisap lalat sehingga daun seperti berkerut. Hal ini terjadi karena serangga dewasa merusak tanaman dengan cara mengisap isi cairan daun. Jika serangannya sudah berat, pada bagian bawah daun berwarna merah tembaga mengkilat dan pucuk tanaman mengering dan mati. Tanda lain bahwa tanaman kentang itu diserang lalat penggorok daun, adalah timbulnmya lubang bekas tusukan pada permukaan atas daun sehingga mengganggu proses fotosintesisis. Lubang berbentuk bulat dengan diameter ± 1 mm. Jaringan daun yang rusak tersebut kemudian dimanfaatkan untuk meletakkan telur. Jumlah lubang atau kerusakan daun tergantung pada aktivitas makan serangga penggorok daun. Serangan lalat dapat terjadi sejak fase pra pembentukan umbi (21 - 35 hari setelah tanam) dan berlanjut hingga fase tua (umur 61 hari setelah tanam sampai dengan menjelang panen). Kerusakan berat umumnya terjadi pada akhir musim kemarau. Kehilangan hasil akibat serangan lalat itu sekitar 40 - 60 %, tetapi apabila serangannya sudah berat dapat mengakibatkan gagal panen sebagai akibat tanaman yang diserang lalat tersebut menjadi layu, kering dan mati. Pengendalian Pengendaliannya dapat dilakukan dengan cara kultur teknis, mekanis, biologi ataupun cara kimiawi sebagai berikut : 1. Cara Kultur Teknis Segala jenis gulma yang ada pada areal pertanaman kentang dibersihkan sebelum penanaman sehingga gulma tidak menjadi sarang lalat yang menyerang tanaman. Cara lainnya, benih kentang yang ditanam dipilih yang sehat dan upayakan tanaman tumbuh subur dengan pengairan yang cukup, pemupukan berimbang, penyiangan dan pembumbumban. Dengan pengairan yang cukup maka akan menjaga kelembaban tanah sehingga proses penyerapan hara oleh tanaman berjalan baik yang akhirnya pertumbuhan tanaman dan perkembangan umbi kentang menjadi baik pula. Dengan kondisi tanaman seperti ini, maka tanaman tersebut akan lebih tahan terhadap serangan lalat. Jika pun terjadi serangan, serangan hama tidak parah. 2. Cara Mekanis Daun-daun yang terserang dipotong dan ditimbun dalam tanah bersamaan pada saat pembumbunan. Bisa pula menggunakan perangkap kuning berperekat sebanyak 40 buah/ha yang disebar merata di pertanaman kentang. Pemasangan perangkap kuning terbuat dari kertas atau plastik yang diberi perekat ukuran 16 cm X 16 cm. Perangkap dipasang pada triplek/seng yang ukurannya sama dengan perangkap, kemudian dipasang pada tiang bambu seinggi ± 0,5 dari permukaan tanah. 3. Cara Biologi Untuk keperluan ini dapat menggunakan musuh alami berupa parasit Acecodes sp, Herniptarsenus varicornis, Granotoma sp atau Opius sp. 4. Cara Kimiawi Cara ini baru dilakukan apabila serangan lalat sudah melebihi ambang pengendalian serangan dengan cara menyemprotkan insektisida yang sudah diizinkan pemerintah yang spesifik untuk mengendalikan lalat penggorok daun. Cara penggunaan insektisida tersebut dapat dibaca pada labelnya karena pada setiap label insektisida umumnya sudah tertera cara penggunaannya. Jika sudah membaca label penggunaan insektisida ini masih belum atau tidak paham, sebaiknya tanyakan kepada Penyuluh Pertanian atau petugas pertanian setempat. Soalnya, jika penggunaannya salah, bukan hamanya yang dapat dikendalikan, tetapi dapat membahayakan lingkungan, bahkan membahayakan juga bagi si pemakai insektisida tersebut. Penulis : Ir.Muchdat Widodo,MM Penyuluh Madya, Pusat Penyuluhan Pertanian, Badan Penyuluhan dan Pengembang- an SDM pertanian Sumber : 1. Dr.Ir.Muchjidin Rachmat,MS. Buku tahunan Hortikultura Seri Tanaman Sayuran. Direktorat Budidaya Tanaman Sayuran dan Biofarmaka, Direktorat Jenderal Hortikultura, Depar- temen Pertanian, 2006 2. Dr.Ir.Muchjidin Rachmat,MS. Standar Operasional Prosedur Budidaya Kentang Varietas Granola (Solanum tuberosum) Kab. Bandung Prov.Jawa Barat. Direntorat Budidaya Tanaman Sayuran dxan Biofarmaka, Direktorat Jenderal Hortikultura, Kementerian Pertanian, 2010.