Loading...

LANGKAH PENANGGULANGAN ANOMALI IKLIM PADA PADI

LANGKAH PENANGGULANGAN ANOMALI IKLIM PADA PADI
Iklim merupakan gejala alam yang sulit diprediksi dan mempunyai keragaman yang tinggi antara wilayah satu dengan yang lain. Pada kondisi normal, dinamika iklim mempunyai pola tertentu yang berulang secara periodik, namun sering pula terjadi perubahhan yang ekstrim, yang menyimpang dari kondisi normal atau pola umumnya. Penyimpangan iklim secara temporer disebut sebagai anomali iklim (climate anomaly), sedangkan penyimpangan iklim yang menuju pada pola baru atau tren tertentu yang bersifat permanen disebut sebagai perubahan iklim (climate change). Anomali iklim yang paling menonjol dan berdampak serius terhadap produksi padi adalah El-Nino (dampak iklim berupa kemarau panjang) dan La-Nina (dampak iklim berupa tingginya curah hujan meskipun musim kemarau). Langkah penanggulangan dampak anomali iklim pada padi dapat dilakukan dengan berbagai macam pendekatan antara lain melalui: 1) pelaksanaan program aksi; 2) pendekatan dan model PTT, 3) Peningkatan IP dan Pola IP Padi 300, 4) Pengolahan Tanah dan Lahan; 5) Teknologi dan Sistem Irigasi dan Pengelolaan Sumberdaya Air; dan 6) Teknologi Benih. Program aksi Program untuk mengurangi dampak El-Nino, dengan melakukan: 1) evaluasi dan menyesuaikan pola tanam padi sesuai dengan ketersediaan air serta menyiapkan dan menerapkan teknologi tepat guna; 2) melakukan relokasi air irigasi sesuai dengan kebutuhan tanaman dan/atau tingkat kelangkaan air di masing-masing wilayah/hamparan; 3) memanfaatkan sumberdaya alternatif melalui pompanisasi , pemanfaatan teknologi embung dan penerapan teknologi hujan buatan (sebagai alternatif terakhir dan dilakukan secara selektif); 3) menyusun program aksi bila musim hujan tiba untuk mencari sumber pertumbuhan produksi sebagai kompensasi penurunan produksi akibat El-Nino. Program untuk mengurangi dampak El-Nina, dampak El-Nina adalah terjadinya mundurnya musim tanam, untuk itu perlu dilakukan percepatan tanam yang didukung dengan ketersediaannya sarana produksi, tenaga kerja dan/atau alsintan dalam program khusus; 2) melaksanakan program perluasan areal tanam lanjutan pada MK I berikutnya; 3) melaksanakan program pengembangan pola IP padi 300 melalui penanaman padi pada MK II, terutama didaerah potensial;4) mengembangkan program perbaikan mutu intensifikasi lahan sawahirigasi dengan pendekatan model PTT pada lahan-lahan potensial; 5) melakukan antisipasi terhadap peningkatan serangan dan eksplositas OPT utama. Pendekatan dan model PTT (Pengelolaan tanaman terpadu), adalah model pendekatan dalam peingkatan produktivitas, nilai ekonomi usahatani padi dan kelestarian sumberdaya. PTT memiliki dua kelompok komponen teknologi budidaya yaitu teknologi utama dan komponen teknologi spesifik lokasi. Komponen teknologi utama berbasis pada potensi sumberdaya yaitu pengelolaan air, penggunaan bahan organik, pengunaan bahan organik, pengelolaan hara spesifik lokasi dan penggunaan bibit muda. Komponen teknologi spesifik adalah komponen teknologi budidaya lainnya termasuk pengendalian hama penyakit secara terpadu yang sangat spesifik lokasi. Pengembangan PTT melalui program peningkatan produktivitas padi terpadu di tingkat petani, menghasilkan gabah rata-rata 5,8-6,4 ton/ha dengan peningkatan produktivitas rata-rata 18%. Peningkatan IP dan Pola IP Padi 300, peningkatan Indeks Panen (IP) merupakan salah satu cara dalam meningkatkan produksi padi untuk mengkompensasi penurunan produksi sebagai akibat El-Nino pada musim sebelumnya. Pemanfaatan MK II dengan pola IP padi 300 pada saat anomali iklim La-Nina juga sangat potensial bagi percepatan peningkatan produksi. Pengalaman menunjukkan bahwa implementasi pola IP padi 300 pada kondisi La-Nina MKII 1998 di lahan sawah di Jawa, Bali dan NTB mampu memberikan kontribusi peningkatan produksi padi dengan rata-rata produktivitas 5,7 ton/ha. Pengolahan tanah dan lahan, teknologi tanam padi tanpa olah tanah (TOT) dalam model PTT dapat diterapkan untuk mempercepat waktu tanam terutama pada kondisi El-Nino dan/atau musim tanam yang pendek. Penerapan teknologi TOT dalam budidaya padi mampu mempercepat waktu tanam 15-20 hari. Teknologi dan sistim irigasi dan pengelolaan sumberdaya air, teknik irigasi bergilir yang dapat diterapkan untuk mengurangi konsumsi air oleh tanaman, terutama selama anomali iklim El-Nino adalah teknik irigasi bergilir teratur (rotational irrigation) dan teknik irigasi bergilir. Teknik irigasi bergilir teratur dapat menghemat air irigasi 30% dibanding teknik irigasi mengalir secara terus-menerus (continuous flow irrigation). Teknik irigasi bergilir berselang (interval pendistribuian air 2-3 atau 3-4 hari sekali), memiliki beberapa persyaratan yang harus dipenuhi, antara lain saluran irigasi harus baik, bersih dari rumput, tidak rusak dan tidak bocor, serta pintu-pintu air dapat berfungsi dengan baik. Berbagai teknologi pemanenan dan konservasi air hujan melalui perbaikan teknik pengolahan dan pengelolaan lahan, petakan dan pembuatan embung merupakan beberapa alternatif untuk konservasi dan pengembangan sumberdaya air untuk menghindari dan menanggulangi kekeringan dan kebanjiran. Teknologi benih Teknologi benih dan sistim perbenihan yang antisipatif, terutama dari varietas toleran kekeringan, berperan penting dalam mendukung peningkatan produksi dalam kondisi El-Nino dan pasca El-Nino. Teknologi tersebut adalah berkaitan dengan penyimpanan, sistem produksi, dan distribusi benih. Badan Litbang Pertanian telah melepas lebih dari 29 VUB padi gogo, tetapi hanya sekitar 10% areal pertanaman padi gogo yang ditanami VUB. Sebaliknya > 90% lahan sawah telah ditanami dengan berbagai VUB padi. Oleh : Ir.Sri Puji Rahayu, MM/ yayuk_edi@yahoo.com Sumber : Menyiasati Fenomena Anomali Iklim Bagi Pemantapan Produksi Padi Nasional Pada Era Revolusi hijau Lestari, Pengembangan Inovasi Pertanian, Badan Litbang Pertanian, Departemen Pertanian, 2008.