Loading...

Langkah Preventif Mengatasi Penyakit Busuk Pangkal Batang

Langkah Preventif Mengatasi Penyakit Busuk Pangkal Batang
Penyakit busuk pangkal batang (BPB) pertama kali dilaporkan terjadi di pertanaman lada di Sekampung (Kampong Pempen), Lampung tahun 1885,dikenal dengan sebutan “Voetrot”. Kemudian menyebar ke kampong Negara Agoeng, Goenoeng Soegih Ketjil, Djabung dan Negara Batin (Rutgers, 1915), Bangka dan Bengkulu pada tahun 1916 (Soepartono, 1953), Aceh tahun 1929 (Muller, 1936), Kalimantan Timur dan Pulau Laut (1930), Jawa Barat (Banten dan Pelabuhan Ratu), Kalimantan Barat dan Selatan (1931) dan Jawa Tengah (1933) (Soepartono, 1953). Kerusakan akibat penyakit tersebut di Lampung pada tahun 1970 diperkirakan mencapai 52%. Kasim (1990) memperkirakan kerusakan tanaman lada akibat penyakit BPB di Indonesia setiap tahunnya berkisar antara 10-15% dari total tanaman lada. Penyakit BPB disebabkan oleh jamur Phytophthora capsici = (sinonim: P. palmivora var. Piperis). Selain di Indonesia, penyakit BPB juga menjadi kendala utama produksi lada di Malaysia dan India.Pengendalian patogen penyakit BPB yang umum dilakukan petani adalah dengan menggunakan fungisida sintetik, apabila saat harga lada tinggi. Pada saat harga lada rendah, petani akan membiarkan tanamannya mati, akibatnya terjadi penumpukan inokulum P. capsici di lapang. Serangan penyakit ini bukan hanya berdampak pada kerugian secara kualitas, tapi juga kerugian dalam bentuk kuantitas. Hal ini dikarenakan penyakit busuk batang ini sering mengakibatkan kegagalan panen secara total. Tipe serangannya yang cepat meluas dan merusak tanaman dalam waktu yang singkat, mejadikan jenis penyakit ini sebagai salah satu jenis penyakit yang ditakuti oleh petani. Bukan hanya lada saja, penyakit ini juga sering ditemui pada hampir semua jenis tanaman budidaya. Mulai dari tanaman semusim seperti tanaman pangan, hortikultura, tanaman hias, hingga tanaman perkebunan seperti kakao, kelapa, dan masih banyak lagi. Busuk Pangkal Batang ini adalah salah satu jenis penyakit yang sangat berbahaya jika menyerang pada tanaman budidaya, sehingga para petani perlu melakukan langkah-langkah preventif dalam menghadapi permasalahan ini. Penting bagi petani untuk mengetahui seperti apa gejala BPB pada tanaman. Diantara gejala BPB sebagai berikut : Daun-daunnya menguning, layu dan menggantung sebelum saatnya gugur. Akar-akar lateral akan membusuk menjadi berwarna coklat tua dan berbau tidak sedap. Pada tahap lanjut yang parah, tanaman akan tumbang dan tampak pangkal batangnya telah membusuk. Jika ditemui gejala-gejala seperti diatas, petani harus segera menanganinya agar tidak menyerang tanaman sehat yang lain. Mengingat penyebab Penyakit busuk pangkal batang pada tanaman disebabkan oleh jamur, yang sporanya dapat dengan sangat mudah menyebar. maka sebagai langkah preventif tindakan pertama jika Anda mendapati tanaman Anda terserang Penyakit busuk pangkal batang, maka Anda harus Membakar atau memusnahakan tanaman yg terjangkit penyakit untuk mencegah penyebarannya. Berikut merupakan upaya-upaya lain yang dapat petani lakukan ketika penanaman agar terhindar dari penyakit busuk pangkal batang . Ada tiga cara yang perlu dilakukan dalam upaya pencegahan busuk pangkal batang, yaitu : Selalu lakukan sanitasi lahan secara rutin. Karena sanitasi adalah kunci utama dalam menjaga kelembaban dalam tanah. Jika sanitasi tidak baik, maka kelembaban tanah akan semakin tinggi, sehingga dapat mempermudah penyebaran penyakit busuk pangkal batang. Lakukan pengaturan drainase yg lebih baik, agar tidak ada lagi potensi penyakit menyerang tanaman budidaya Anda. Aplikasikan Black Bos saat pengolahan tanah dan aplikasikan secara rutin pupuk organik cair GDM akan mencegah perkembangan jamur pada tanaman. Sumber : Kasim, R., 1984. Pengaruh residu tanaman terhadap perkembangan penyakit busuk pangkal batang pada tanaman lada. Pembr. Littri IX: 17-22 Manohara, D., 1988. Ekologi Phytophthora palmivora (Butler) penyebab penyakit busuk pangkal batang (Piper nigrum). Disertasi, Fakultas Pasca Sarjana, IPB. Bogor (Ir. Rosmiati. R)