Dampak perubahan iklim terhadap sektor pertanian berkaitan dengan dampak pada sumber daya air antara lain meningkatnya kejadian cuaca dan iklim ekstrim yang berpotensi menimbulkan banjir, tanah longsor, dan kekeringan. Kekhawatiran dampak perubahan iklim akan mempengaruhi ketahanan pangan nasional menjadi dasar penetapan penanganan Dampak Perubahan Iklim menjadi salah satu program prioritas Kementerian Pertanian. Pelaksanaan operasi jaringan irigasi saat ini menunjukkan kinerja yang belum optimal. Petani sering menerima air irigasi tidak tepat jumlah dan tidak tepat waktu. Dengan kondisi kerusakan jaringan irigasi secara makro cukup besar, maka pengelolaan irigasi yang lebih aktual sangat diperlukan, Irigasi intermiten, atau sering disebut irigasi berselang, adalah metode pengairan sawah di mana air tidak digenangi secara terus-menerus, melainkan dialirkan secara bergantian antara periode basah (tergenang) dan periode kering (tanah mengering). Metode ini berbeda dengan irigasi konvensional yang biasanya membuat sawah selalu tergenang air. Pengairan berselang memberi kesempatan kepada akar untuk berkembang lebih baik, pengairan berselang mengurangi kerebahan, mengaktifkan jasad renik mikroba yang bermanfaat, mengurangi kerebahan, mengurangi jumlah anakan yang tidak produktif (tidak menghasilkan malai dan gabah), menyeragamkan pemasakan gabah dan mempercepat waktu panen, memudahkan pembenaman pupuk ke dalam tanah (lapisan olah), memudahkan pengendalian hama keong mas, mengurangi penyebaran hama wereng coklat dan penggerek batang, mengurangi kerusakan tanaman padi karena hama tikus. Manfaat Irigasi Intermiten Penerapan irigasi berselang memiliki banyak manfaat, baik untuk lingkungan maupun untuk produktivitas pertanian: Penghematan Air: Dengan tidak menggenangi sawah secara terus-menerus, penggunaan air menjadi lebih efisien. Air hanya dialirkan saat dibutuhkan, sehingga dapat menghemat persediaan air yang sering kali terbatas. Meningkatkan Kesehatan Tanah: Periode kering yang terjadi memungkinkan pertukaran oksigen di dalam tanah menjadi lebih baik. Ini dapat meningkatkan kesuburan tanah dan membantu tanaman menyerap nutrisi dengan lebih optimal. Mengurangi Emisi Gas Metana: Sawah yang tergenang air terus-menerus menciptakan kondisi anaerobik (tanpa oksigen) di mana mikroorganisme akan menghasilkan gas metana (CHâšž), salah satu gas rumah kaca yang berkontribusi terhadap perubahan iklim. Dengan irigasi berselang, kondisi ini dapat diminimalisasi, sehingga emisi gas metana berkurang secara signifikan. Meningkatkan Produktivitas Tanaman: Meskipun lahan tidak selalu tergenang, irigasi berselang tetap memberikan pasokan air yang cukup. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa metode ini dapat meningkatkan jumlah anakan produktif dan bahkan menghasilkan bobot gabah kering giling yang lebih tinggi. Memperkuat Akar Tanaman: Periode kering memaksa akar tanaman untuk mencari air lebih dalam, yang pada akhirnya membuat sistem perakaran menjadi lebih kuat dan kokoh. Cara Penerapan Sederhana Untuk menerapkan irigasi berselang, petani perlu memperhatikan beberapa hal, antara lain: Pola Pengaturan Air: Atur waktu penggenangan dan pengeringan. Contohnya, tergenang selama 2-3 hari, kemudian dikeringkan selama 4-6 hari. Pola ini bisa disesuaikan dengan jenis tanah dan kondisi iklim di lokasi tanam. Kondisi Tanah: Pada tanah berpasir yang mudah menyerap air, periode pengeringan harus lebih singkat agar tanaman tidak kekurangan air. Sebaliknya, pada tanah liat yang lebih lambat mengering, periode kering bisa lebih panjang. Secara keseluruhan, irigasi intermiten adalah salah satu solusi pertanian modern yang dapat membantu petani meningkatkan efisiensi penggunaan air dan produktivitas, sekaligus berkontribusi dalam menjaga kelestarian lingkungan. ditulis: Harpen J Purba, Vernando PP BPP Adiankoting Taput Sumut Sumber: http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/105125 https://pipaairbersih.com/index.php/2021/05/25/cara-pengairan-berselang-pada-padi-sawah/ https://psp.pertanian.go.id/storage/839/19.-Petunjuk-Teknis-Program-Irigasi-Pertanian-Sebagai-Upaya-Adaptasi-dan-Mitigasi-Perubahan-Iklim.pdf