Sampah organik selama ini dianggap menjadi beban. Padahal jika dimanfaatkan dengan baik, maka sampah organik bisa diolah menjadi pupuk organik untuk menyehatkan lahan pertanian. Solusi pengolahan sampah organik menjadi pupuk organik dengan menggunakan maggot. Budidaya maggot bisa menghasilkan banyak produk, seperti manggot segar, maggot kering, hingga pupuk kasgot. Tak hanya bahan kering, pupuk cair dari maggot juga ternyata bisa dihasilkan dari hasil uraian organik si maggot. Seperti apa? Lalat tentara hitam (Hermetia illucens) atau Black soldier fly (BSF) dikenal sebagai dekomposer sampah organik. Pupuk hayati hasil metabolisme BSF mengandung mikroorganisme yang menyuburkan tanah, dan membantu tanaman menyerap zat hara. Selain mikroorganisme terdapat juga hormon seperti auxin dan giberelin yang mempercepat pertunbuhan tanaman. Masalah persampahan menjadi hal serius untuk ditangani, berbagai cara digunakan untuk mereduksi sampah, salah satunya dengan memanfaatkan Maggot atau larva dari Black Soldier Fly (BCF). Ada beberapa manfaat yang diadapatkan dari pengurai yang mempunyai nama latin Hermetia Illucens ini. Selain proses penguraian sampah bisa berlangsung lebih cepat, dari proses tersebut akan menghasilkan pupuk kompos yang bisa dimanfaatkan untuk menyuburkan tanaman. Produk sampingan berupa bahan cair yang dihasilkan dapat dimanfaatkan sebagai pupuk cair untuk tanaman, dengan memanfaatkan pupuk cair magot bisa mengurangi dosis pupuk NPK sebanyak 50 persen. Pupuk cair magot yang digunakan hanya 60 liter/hektar (ha). Bukan hanya itu biaya penggunaan pupuk yang semula mencapai Rp 1,4 juta/ha menjadi hanya Rp 600 ribu/ha. Proses panen pupuk Organik Cair dari budidaya maggot ini dihasilkan dari drainase biopon (bak sampah organik sayuran dan buah-buahan) maupun komposter ember tumpuk yang berisi larva lalat BSF. Drainase ini dihasilkan setelah waktu penguraian berjalan satu minggu, kemudian lima hari berselang drainase kembali dihasilkan. Drainase ini dipisahkan dari larva dan residu padatan yang dimanfaatkan sebagai pupuk kompos padat. Pemisahan ini dilakukan dengan cara menyaring larva lalat BSF dan residu menggunakan kain kasa, kemudian drainase ditampung ke dalam wadah lain. Komposisi drainase ini terdiri dari campuran antara limbah hasil metabolisme larva dan air lindi dari hasil dekomposisi sampah organik. Pupuk kompos cair yang berasal dari drainase hasil konversi sampah organik oleh larva BSF yang memiliki warna cairan hijau kehitaman yang sangat pekat, berbau menyengat, dan mengandung gas karbondioksida. Namun, air lindi ini harus dimatangkan dulu untuk menjadi POC (Pupuk Organik Cair). Masukkan cairan ini ke dalam botol bening, separoh saja. Jemur di terik matahari dengan tutup dikendorkan. Tunggu sampai warna hitam coklat dan aroma lembut di hidung. Warna hitam menandakan POC matang dan siap digunakan. Setelah jadi, POC diencerkan, misalnya 50 ml POC dicairkan dengan air 1 liter untuk mendapatkan konsentrasi larutan 5 persen. Dibandingkan dengan biopond yang vertikal, penggunaan komposter ember bertumpuk lebih efisien dalam menghasilkan POC dari maggot karena air lindi dan lendir maggot bisa langsung turun dan tertampung dalam ember kedua Sampah masih menjadi permasalahan lingkungan yang serius belakangan ini. Limbah rumah tangga menjadi penyumbang terbesar dari pemasalahan lingkungan. Pengelolaan limbah rumah tangga perlu dilakukan sebagai upaya antisipasi terhadap lonjakan jumlah sampah yang dibuang ke lingkungan. Pemilahan dan pengelolaan sampah organik dan sampah anorganik merupakan hal sederhana berdampak besar yang dapat dilakukan dari rumah. Salah satu jenis pengelolaan sampah organik yaitu dengan memanfaatkan Black Soldier Fly (BSF) atau lebih dikenal dengan maggot. BSF merupakan sejenis lalat yang memiliki siklus hidup dari telur, larva, pupa, dan kemudian menjadi lalat. Lalat ini berbeda dengan jenis lalat yang banyak di rumah. Lalat ini tidak membawa vektor penyakit di tubuhnya. Maggot dapat menguraikan dengan cepat limbah organik dari rumah tangga seperti sisa makanan, potongan sayuran, kulit buah, dan sampah organik lainnya. Larva maggot terdiri dari 65% protein dan sisanya berupa lemak sehingga dapat digunakan sebagai pakan ternak. Larva maggot juga menghasilkan kasgot (bekas maggot) yang merupakan campuran sisa pernguraian material organik dan kotoran larva. Kasgot ini merupakan pupuk organik yang kualitasnya premium karena memiliki unsur hara yang komplit. Salah satu potensi untuk memproduksi pupuk organik adalah memanfaatkan black soldier fly untuk membuat pupuk maggot. Sayangnya, potensi besar tersebut belum dilirik menjadi pupuk alternatif. Saat ini tantangan pembangunan pertanian semakin besar, bukan hanya meningkatkan produksi pangan, tapi juga mengembalikan kesuburan tanah pertanian. Karena kondisi tanah kita sekarang kandungan organiknya di bawah 2 persen, mendekati tanah gurun. Jadi tantangan bukan hanya menghasilkan produk pangan, tapi juga untuk memperbaiki kesuburun tanah. Dengan memperbaiki kesuburuan tanah, akan berdampak pada produksi. Karena itu, sudah saatnya pemerintah berupaya memperbaiki lahan pertanian di Indonesia yang sudah banyak rusak. Salah satunya dengan mendorong penggunaan pupuk organik dengan memanfaatkan sampah organik. Iklim Indonesia yang beriklim tropis basah membuat banyak unsur abiotik, sehingga bisa dimanfaatkan untuk mempecepat menghasilkan pupuk hayati atau pupuk organik dan membuat pupuk organik bisa memanfaatkan black soldier fly (BSF). Lalat perang hitam ini mempunyai kemampuan mengolah organik dengan cepat. Bahkan dalam satu hari bisa mengubah 1 ton sampah organik menjadi 300 liter pupuk cair magot. Dari proses tersebut akan menghasilkan Kasgot (Bekas Kotoran Maggot) yang bisa dijadikan pupuk organik, selain itu dalam proses fermentasi juga akan menghasilkan cairan yang bisa dijadikan sebagai pupuk organik cair. Maggot selain bermanfaat untuk menguraikan sampah organik, Maggot juga mempunyai nilai ekonomis. Telur Maggot bisa dijual dengan harga 6-7 Ribu Rupiah per Gram dan Fres Maggot dijual dengan harga 6-7 Ribu Rupiah per Kilogram. Selain itu, Maggot juga bisa dimanfaatkan sebagai alternatif pakan ternak dan ikan yang saat ini masih dalam proses uji coba. Ujicoba untuk pakan alternatif bebek yang bisa menghemat pakan sampai dengan 40%, di perikanan bisa menghemat sampai 50%. Lalat BSF tidak menularkan bakteri, penyakit atau kuman kepada manusia seperti lalat hijau. BSF pada umumnya akan bertelur disekitar sampah dan meletakkan telurnya di tempat yang kering dan bersih. Selain itu, siklus hidup BSF juga sangat singkat pada fase lalat. Dari fase kepompong (prepupa) akan menetas menjadi lalat , setelah induk laki-laki kawin dengan induk perempuan, induk laki-laki akan langsung mati dan induk perempuan akan mati setelah bertelur, sehingga siklus lalatnya tidak berlangsung lama. Dengan memanfaatkan Maggot, sampah organik dari limbah rumah tangga bisa diuraikan lebih cepat, sehingga bisa menjadi satu kesatuan melalui sistem Integrated Farming dengan menerapkan Zero Waste sistem, sehingga tidak ada sampah yang tidak termanfaatkan. Sistem pengolahan yang efektif, diharapkan sampah tidak ada, tidak merepotkan dan tidak menjadi masalah lagi, tetapi justru bisa menjadi peluang dan bisa memberikan semangat bagi masyarakat yang sudah mulai mengembangkan serta bisa mengenalkan kepada masyarakat tentang Maggot sebagai pengurai yang sangat bermanfaat. Semoga informasi ini bermanfaat, ya! penulis: Yoceu Hadinovianti (Penyuluh Pertanian Pusat) sumber: berbagai artikel Litbang peternakan dan https://ditjenpkh.pertanian.go.id/, https://tabloidsinartani.com/detail/indeks/tekno-lingkungan/19308-Pupuk-Organik-Cair-dari-Maggot.