Program pencegahan penyakit merupakan salah satu kunci sukses usaha beternak ayam broiler secara komersil. Program ini mutlak dijalankan, apalagi iklim di Indonesia termasuk iklim tropis hingga faktor stress sebagai pemicu terjadinya penyakit cukup tinggi, waktu setiap satu siklus pemeliharaan ayam broiler komersil sangat pendek, biasanya jika ayam terinfeksi penyakit, sampai proses pemanenan, performa ayam menjadi jelek dan harga jual menjadi murah. Program pencegahan penyakit erat hubungannya dengan program sanitasi, vaksinasi dan program pengobatan dini pada umur tertentu ketika gejala ayam sakit mulai tampak, program ini dikatakan berhasil, jika dalam satu siklus pemeliharaan ayam broiler yang dipelihara terbebas dari gangguan penyakit yang merugikan. Beberapa kerugian jika ayam broiler komersil terserang penyakit adalah sebagai berikut: 1. Tingkat kematian yang relatif tinggi 2. Konversi pakan yang tinggi 3. Tingkat pertumbuhan menurun dan BB lebih rendah dari standar 4. Pertumbuhan ayam tidak merata, lemas dan mudah mati 5. Performa ayam jadi jelek dan karkas berwarna merah 6. Biaya produksi menjadi tinggi Teknis Pelaksanaan Pada dasarnya, hanya ada 3 langkah yang perlu dilakukan untuk mencegah wabah penyakit yang menyerang ayam ras pedaging di suatu peternakan. Ketiga langkah tersebut harus dilakukan secara bersama-sama, karena setiap langkah hanya mampu berfungsi optimal jika ditunjang oleh langkah lainnya. Ketiga langkah tersebut sebagai berikut: 1. Menjaga Sanitasi Kandang Karakteristik yang paling menonjol dari bibit penyakit adalah menyukai tempat-tempat kotor. Karenanya, jika peternak ingin memerangi bibit penyakit, dia harus menjaga kebersihan kandang dan lingkungan sekitarnya dengan program sanitasi dan desinfeksi kandang secara rutin dan secara ketat melaksanakan periode kosong atau mengistirahatkan kandang. Di samping itu, kebersihan kandang harus dijaga setiap saat. Alas kandang harus diganti dengan yang baru jika sudah mulai basah dan menimbulkn bau tidak sedap. Bekas alas kandang dibuang ke tempat yang jauh dari kandang. Masa kosong atau istirahat kandang juga berfungsi memutus rantai kehidupan bibit penyakit. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam menjaga kebersihan kandang dalam kaitannya dengan langkah mengurangi populasi bibit penyakit sebagai berikut: a. Kadar amonia dalam kandang Amonia adalah hasil metabolisme dalam tubuh ayam terakumulasi dalam bentuk feces (kotoran) dan urine (air kencing). Jika kandang menggunakan pemanas buatan dan kondisi ventilasi kandang kurang baik, maka ammonia terakumulasi dalam konsentrasi tinggi dalam bentuk gas. Ammonia dalam konsentrasi tinggi ini bias menyebabkan gangguan pada sistem pernafasan ayam. b. Mewaspadai jamur Kebersihan kandang yang kurang terjaga memungkinkan tumbuhnya jamur atau cendawan di dalam atau disekitar kandang, jamur atau cendawan juga mudah tumbuh pada bahan pakan yang lembab. Dalam kondisi yang tidak terlalu parah, jamur yang tumbuh dan tercampur dalam bahan pakan Akan menyebabkan penurunan laju pertambahan berat badan ayam, dan dalam fase yang parah, bisa menyebabkan kematian karena racun yang diproduksinya, seperti aflatoksin, fusariotoksin, dan okhratoksin. 2. Mengadakan isolasi Maksudnya adalah memutuskan kontak antara pembawa penyakit dan ayam-ayam yang sehat. Langkah ini biasa dilakukan dengan cara membatasi kontak dunia luar dengan ayam ras pedaging yang dipelihara, misalnya mengatur lalu lintas keluar masuk karyawan, larangan masuk bagi orang-orang yang tidak berkepentingan ke dalam kandang, serta penyemprotan desinfektan pada kendaraan, barang, atau Orang yang akan masuk ke dalam kandang. Pakan ayam merupakan salah satu pembawa bibit penyakit yang potensial. Bibit penyakit ini biasa masuk ke dalam pakan saat pakan dalam perjalanan yang kadang-kadang cukup panjang. Karenanya, penanganan dalam transportasi dan penyimpanannya harus sesuai dengan kriteria baku, yang biasanya sudah diketahui oleh produsen pakan ternak yang baik. Dalam hal ini peternak harus mau bertanya dan melaksananakan kriteria baku tersebut. Di samping itu perlu dicegah adanya serangga seperti lalat. Jika ada, berantas dengan menggunakan insektisida yang sesuai. 3. Mengadakan vaksinasi Pemberian pakan dan minum dalam takaran yang cukup kuantitas dan kualitasnya merupakan salah satu langkah yang tepat untuk mempertahankan daya tahan tubuh ayam terhadap serangan penyakit. Selain itu, ayam juga membutuhkan kondisi lingkungan yang nyaman sehingga bisa mencegah stress. Untuk meningkatkan daya tahan tubuh ayam terhadap bibit penyakit yang lebih spesifik, terutama penyakit yang disebabkan virus, protozoa, dan bakteri perlu dilakukan vaksinasi, baik melalui injeksi, campuran air minum, maupun tetes mata. Berikut ini program vaksinasi yang biasa dilakukan peternak yang sudah berpengalaman, terutama untuk penyakit populer, yakni marek, ND atau tetelo, dan gumboro. Normal 0 false false false IN X-NONE X-NONE /* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:"Table Normal"; mso-tstyle-rowband-size:0; mso-tstyle-colband-size:0; mso-style-noshow:yes; mso-style-priority:99; mso-style-parent:""; mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; mso-para-margin-top:0cm; mso-para-margin-right:0cm; mso-para-margin-bottom:10.0pt; mso-para-margin-left:0cm; line-height:115%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:"Calibri","sans-serif"; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin; mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; mso-bidi-theme-font:minor-bidi; mso-ansi-language:IN; mso-fareast-language:EN-US;} Jenis Penyakit Normal 0 false false false IN X-NONE X-NONE /* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:"Table Normal"; mso-tstyle-rowband-size:0; mso-tstyle-colband-size:0; mso-style-noshow:yes; mso-style-priority:99; mso-style-parent:""; mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; mso-para-margin-top:0cm; mso-para-margin-right:0cm; mso-para-margin-bottom:10.0pt; mso-para-margin-left:0cm; line-height:115%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:"Calibri","sans-serif"; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin; mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; mso-bidi-theme-font:minor-bidi; mso-ansi-language:IN; mso-fareast-language:EN-US;} Pelaksanaan Vaksinasi Normal 0 false false false IN X-NONE X-NONE /* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:"Table Normal"; mso-tstyle-rowband-size:0; mso-tstyle-colband-size:0; mso-style-noshow:yes; mso-style-priority:99; mso-style-parent:""; mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; mso-para-margin-top:0cm; mso-para-margin-right:0cm; mso-para-margin-bottom:10.0pt; mso-para-margin-left:0cm; line-height:115%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:"Calibri","sans-serif"; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin; mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; mso-bidi-theme-font:minor-bidi; mso-ansi-language:IN; mso-fareast-language:EN-US;} Metode Vaksinasi Normal 0 false false false IN X-NONE X-NONE