Loading...

Manajemen penetasan telur ayam kampung

Manajemen penetasan telur ayam kampung

LEMBAR PERSIAPAN MENYULUH (LPM)

 

Judul

:

Manajemen penetasan telur ayam kampung

Tujuan

:

Petani dapat memahami teknik penetasan telur

Metode

:

Tatap muka, diskusi

Media

:

Lembar informasi, famplet

Waktu

:

90 menit

Alat/bahan

:

Kertas Koran, spidol

 

No

Pokok Kegiatan

Uraian Kegiatan

Waktu (Menit)

Ket

1.

Pendahuluan

-          Mengucapkan salam

-          Menjelaskan Tujuan pembelajaran

-          Menanyakan kepada peserta tentang pengetahuan dasar teknik penetasan telur

10

 

2.

Kegiatan Inti

-          Menjelaskan pengertian tetas

-          Menjelaskan sumber telur tetas yang baik

-          Menjelaskan teknik penetasan alami

-          Menjelaskan teknik penetasan artificial/buatan

-          Menjelaskan penanganan pasca tetas

-          Menjelaskan pentingnya anty body hasil tetas

-          Diskusi/Tanya jawab

45

 

3.

Penutup

-          Menarik kesimpulan

-          Salam pengakhiran

15

 

 

Sinopsis

Ø  Unggas sebagai hewan ternak menghasilkan produk pangan berupa telur dan daging. Produk unggas cenderung lebih populer di kalangan masyarakat dibandingkan dengan daging sapi karena harganya lebih terjangkau, terutama telur.

Ø  Produk yang dihasilkan instalasi unggas berupa telur konsumsi dan telur tetas. Telur yang dihasilkan berasal dari ayam arab dan ayam kampung. Telur konsumsi merupakan telur non fertile/tidak dibuahi sehingga tidak mengandung bakal bibit, sedangkan telur tetas merupakan telur fertile/yang telah dibuahi sehingga jika ditetaskan akan menghasilkan anak ayam/DOC (day old chik), anak itik/DOD (day old duck).

Ø  Penetasan telur dapat dilakukan dengan dua cara yaitu secara konvensional/alami dan artificial/buatan. Penetasan secara konvensional dilakukan melalui proses yang berlangsung secara alami yaitu dengan menggunakan induk ayam/babon, sedangkan penetasan artificial dilakukan oleh manusia dengan menggunakan mesin tetas. Prinsip kerja dari mesin tetas yaitu mengkondisikan telur seperti berada dalam pemeraman induk.

  

MATERI

 

õ  Penetasan telur adalah salah satu proses biologis ternak unggas dalam bereproduksi

õ  Penetasan telur dapat dilakukan dengan dua cara yaitu secara konvensional/alami dan artificial/buatan.

õ  Penetasan alami dilakukan dengan memelihara indukan ayam secara khusus.

1.      Kelebihannya, tidak memerlukan biaya dan keterampilan yang besar

2.      Kekurangannya, Jumlah telur yang ditetaskan terbatas

õ  Hampir tidak ada perlakuan khusus terhadap proses penetasan secara alami

õ  Apa kelebihan menetaskan dengan mesin tetas dibandingkan menggunakan induk ayam?

1.      Kelebihannya, jumlah DOC yang dihasilkan tergantung kebutuhan peternak

2.      Kekurangannya, memerlukan biaya dan keterampilan yang besar

õ  Telur di dalam mesin juga mengalami proses pemeraman selama 21 hari. Kestabilan suhu dilakukan dengan alat pengatur suhu yang telah melekat pada mesin, kita kenal sebagai thermostat, alat ini bekerja secara otomatis, sedangkan untuk mengetahui keadaan suhu digunakan thermometer. Pembalikan telur, pengaturan ventilasi dan kelembaban udara diatur sedemikian rupa sehingga tercipta kondisi pemeraman yang “sebenarnya”.

õ  Yang menjadi pertanyaan; Bagaimana cara menetaskan telur agar sukses? penjelasan berikut, akan menjawab pertanyaan tersebut, sesuai dengan standard operating procedure/SOP tentang penetasan telur yang berlaku dan diterapkan di instalasi ternak unggas dan aneka ternak diberbagai sentra-sentra pengadaan DOC.

õ  Pra proses:

a.    Penyiapan telur tetas

1)      Pemilihan telur/penilaian secara eksternal:

·         Telur yang berasal dari perkawinan induk jantan dan betina dengan perbandingan maksimum 1:7. Berdasarkan penelitian, jika induk betina lebih dari tujuh ekor, maka telur fertil yang dihasilkan aadalah 80%.

·         Telur tidak berumur lebih dari 7 hari, telur yang sudah berumur 7 hari sejak keluar dari induk memiliki komposisi telur yang encer. Karena itu, tali kuning telur menjadi mudah putus dan menyebabkan embrio mati selama didalam mesin tetas karena kekurangan makanan. Namun, putusnya tali juga bisa disebabkan oleh proses pembalikan yang kasar atau goncangan diperjalanan, terutama saat pengangkutan yang jaraknya jauh.

·         Kerabang telur: pilih yang utuh/tidak retak/tidak berlubang, untuk menghindari masuknya mikroba yang dapat menyebabkan terjadinya pembusukan telur.

·         Bentuk telur: pilih telur tetas yang berbentuk oval/bulat telur, tidak terlalu bulat atau terlalu lonjong karena bentuk telur dapat mempengaruhi posisi embrio menjadi abnormal sehingga banyak yang tidak menetas.

·         Bobot telur tetas: yang baik untuk ayam kampung adalah 45-50 gr dan untuk ayam ras adalah 55-60 gr. Bobot berpengaruh terhadap anak ayam yang dihasilkan, jika bobotnya seragam maka hasil tetasan juga akan seragam.

·         Besar telur/indeks telur : dipilih yang seragam.

Indeks telur =    lebar telur X  100%

Panjang telur

Besar telur yang baik memiliki indeks telur sekitar 74%.

Telur yang terlalu besar menyebabkan kantung udara relatif kecil sehingga telur akan lama/terlambat menetas. Jika terlalu kecil, kantung udaranya terlalu besar sehingga akan cepat menetas.

·         Umur: telur yang dipakai berumur kurang dari 7 hari, umur telur tetas yang digunakan seragam sehingga akan serempak menetas.

·         Kerabang: Pilih telur yang memiliki kerabang/cangkang yang bersih dari kotoran {bersih alami bukan karena dicuci}.

2)      Telur yang akan ditetaskan berasal dari induk dengan mutu produksi yang baik, dapat diketahui dari rekording produksi dan rekording reproduksi.

3)      Pembersihan telur:

·         Lakukan dengan menggunakan kapas/lap yang telah dibasahi dengan air hangat dan deterjen telur.

·         Telur yang terlalu kotor sebaiknya tidak dipilih untuk ditetaskan.

4)      Penyimpanan telur

Jika telur tetas masih akan disimpan, maka;

·         Tempat penyimpanan harus terlindung dari pengaruh panas dan angin langsung, bersih serta tidak berbau, karena tempat yang panas dapat menyebabkan kematian embrio yang sangat dini.

·         Lama penyimpanan tidak lebih dari 7 hari sebelum ditetaskan.

·         Suhu ruangan penyimpanan 12-15oC {55-60oF} dengan kelembaban 75-80%.

b.    Penyiapan mesin tetas

Persiapan Tempat, Tempat untuk penetasan diupayakan berada dalam ruangan yang tidak terkena panas matahari secara langsung dan tidak terkena angin yang dapat menyebabkan perubahan suhu secara mencolok. Selain itu diupayakan lingkungan tempat penetasan memiliki sanitasi yang bagus dan tidak mengandung bibit-bibit penyakit. Sanitasi yang buruk akan mempengaruhi prosentase penetasan.

1)    Siapkan alat dan bahan pendukung

2)    Lakukan sanitasi

·         Lakukan sanitasi mesin tetas setiap kali akan digunakan.

·         Pelaksanaan: awali dengan pencucian menggunakan air bersih atau air hangat, kemudian lap dengan menggunakan 2-3% larutan creosol/obat anti hama {desinfektan}.

3)    Lakukan fumigasi mesin

·         Tujuan: agar bibit penyakit yang masih hidup dan tersisa dalam mesin tetas menjadi mati.

·         Alat yang digunakan: wadah tahan panas/cawan porselen dan pengaduknya.

·         Bahan yang digunakan {fumigan}: campuran formalin dan kalium permanganat {KmnO4} dan diuapkan didalam mesin tetas selama 30 menit.

·         Cara penguapan: tuangkan formalin ke wadah yang berisi KmnO4, masukkan ke dalam mesin tetas, segera tutup mesin tetas dan diamkan selama 24-48 jam dengan kondisi pemanas tetap hidup/on.

·         Dosis fumigan untuk ruangan sebesar 2,83m2

Kekuatan     Formalin {cc}     KmnO4 {gr}

1 kali                  40                    20

2 kali                  80                    40

3 kali                120                    60

4 kali                160                    80

5 kali                180                  100

·         Gunakan sarung tangan serta penutup mulut dan hidung sebagai pelindung, karena jika kulit terkena larutan formalin akan terasa pedih dan mengelupas. Sedangkan jika terkena gas formaldehida, mata dan hidung yang akan terasa pedih.

4)    Pengoperasian mesin

·         Suhu diatur hingga berkisar 39-39,7 oC dan kelembaban 60-70%

Hari ke-

Suhu ideal

Tanpa kipas angin

Dengan kipas angin

oC

oF

oC

oF

1-18

39,0

102,0

37,5

99,5

19

39,7

103,5

37,0

98,5

20

40,0

104,0

37,0

98,5

21

40,5

105,0

37,0

98,5

·         Agar suhu dapat stabil, lakukan pengamatan dan pengontrolan suhu dengan menggunakan termometer dan termostat {terpasang pada mesin tetas}.

·         Cara mengatur suhu dan kelembaban:

a.          Hidupkan mesin tetas, kemudian isi bak air sebanyak 2/3 bagiannya.

b.         Untuk meningkatkan suhu, sekrup pengatur termostat diputar ke arah kiri sedangkan untuk menurunkan diputar ke kanan.

c.          Suhu dianggap stabil jika sudah dicoba selama 24 jam.

d.         Pengaturan ventilasi/sirkulasi udara

Hari ke

Pengaturan ventilasi

1-3

Tertutup seluruhnya

4

Terbuka ¼ bagian

5

Terbuka ½ bagian

6

Terbuka ¾ bagian

7-21

Terbuka seluruhnya

 

õ  Proses pegeraman dalam mesin:

1)    Penempatan telur dalam rak penetasan

·         Pemasukan Telur ke dalam mesin tetas setelah dipastikan mesin tetas benar-benar siap untuk dipergunakan, parameter kesiapan mesin tetas adalah suhu sudah sesuai dengan standard, kelembapan udara cukup ideal, tidak ada lubang yang akan mengurangi suhu dan kelembaban

·         Penempatan: posisi bagian tumpul berada di sebelah atas dengan kemiringan 450.

·         Posisi yang terbalik/tidak benar akan menyebabkan posisi embrio menjadi tidak normal bahkan embrio mati setelah kerabang telur retak.

2)    Peneropongan telur

·         Tujuan: untuk mengetahui keberadaan dan perkembangan embrio sejak dini.

·         Prinsip peneropongan: memeriksa bagian dalam telur dengan bantuan cahaya dengan menggunakan alat teropong telur/egg candler.

·         Dilakukan pada hari ke-4, ke-14

·         Ketentuan dari hasil peneropongan: jika pada hari ke-4 menunjukkan gejala infertil (kosong), telur dapat diafkir dan dikonsumsi. Jika pada hari ke-14 dan ke-18 tidak ada gejala kehidupan embrio maka telur tersebut sebaiknya dibuang.

3)    Pembalikan telur

·         Tujuan: meratakan panas yang diterima telur selama periode penetasan, dan mencegah agar embrio tidak lengket pada salah satu sisi kerabang.

·         Pembalikan dilakukan secara manual dengan menggunakan tangan, sebanyak 3 kali sehari yaitu pagi, siang dan sore/malam.

·         Pembalikan telur dimulai pada hari ke-4 hingga ke-18.

·         Teknik membalik telur:

a)        Lakukan pembalikan selama beberapa menit saja.

b)        Tandai tiga sisi bagian telur agar tidak keliru sehingga panasnya merata.

c)         Cara membalik : telur yang diletakkan dengan ujung tumpul di atas hanya digerakkan ke salah satu arah pada sumbunya, yaitu ke arah kanan dan ke kiri dari posisi semula.

d)        Yang harus diperhatikan: jangan membalik telur dengan pola lingkaran, yaitu bagian telur yang tumpul diputar hingga berada di bagian bawah. Hal ini menyebabkan kantung udara pecah sehingga menyebabkan embrio mati.

4)    Pengaturan kelembaban

·         Kelembaban ideal yang diperlukan dalam penetasan telur ayam;

Hari ke-                Kelembaban

1-18                     55-60%

19-21                   70%

·         Gunakan higrometer untuk mengukur kelembaban.

·         Untuk mencapai kondisi kelembaban yang diinginkan bisa juga menggunakan bak yang diisi air dengan patokan: jumlah air sebanyak 2/3 bagian bak dan diberi kain/lap.

õ  Proses penetasan lengkap

ÿ  Hari 1

Setelah sumber pemanas dihidupkan, pintu dan lubang ventilasi dari mesin penetas ditutup rapat, jangan sekali-kali mencoba membukanya dan suhu tetap dipertahankan 101°F (38,33°C). Aturan-aturan ini berlaku dalam jangka waktu tiga hari berturut-turut untuk menekan seminimal mungkin perubahan temperatur udara.

ÿ  Hari ke 2

Mesin tetas tetap dalam kondisi tertutup rapat, sementara suhu ruangan sama seperti pada hari pertama.

ÿ  Hari  ke 3

Mesin tetas tetap dalam kondisi tertutup rapat, sementara suhu ruangan sama seperti pada hari kedua.

ÿ  Hari ke 4

1.      Mulai dilakukan pemutaran telur, dan pembukaan lubang ventilasi selebar 1/4 bagian dan peningkatan suhu mesin penetas menjadi 102°F (38,8°C). Baki perlu diperiksa, apakah air yang ada di dalamnya masih cukup atau tidak.

Memutar telur dengan menggerakkan handle rak putar ke depan atau kebelakang. Atau secara manual menggunakan tangan.

Pemutaran telur dilakukan supaya seluruh bagian telur mendapatkan panas secara merata. Hal ini sangat berguna untuk meningkatkan daya tetas. Kegiatan pemutaran dikerjakan dua atau tiga kali dalam sehari, masing-masing pada pukul 07.00, dan 19.00, atau pukul 07.00, 12.00 dan 19.00. Pemutaran telur dilakukan secara rutin setiap hari mulai hari keempat sampai hari ke17 dengan frekuensi yang sama.

2.      Penoropongan telur (candling)

Pengamatan embrio dapat dilakukan dengan teropong lampu pijar atau dengan alat teropong telur,

Penoropongan sebaiknya dilakukan pada malam hari, Mengapa harus malam hari? Sebab, pada waktu itulah peneropongan dapat dilakukan secara maksimal dengan tingkat akurasi pengamatan yang tinggi

pada usia 4 hari embrio yang berkembang(fertile) akan nampak seperti akar-akar pohon berwarna merah, sedang embrio yang tidak berkembang atau telur tidak mengandung bibit ayam akan tampak bening.

Telur yang fertil dimasukkan kembali ke rak tetas, sedangkan telur yang embrionya mati harus segera disingkirkan. Telur kosong masih dapat dimanfaatkan sebagai telur konsumsi. Suhu dalam mesin penetas tetap dipertahankan 102°F (38,88°C),

ÿ  Hari ke 5

Kegiatan sama seperti hari ke-4, hanya saja lubang ventilasi dibuka selebar 1/2 bagian.

ÿ  Hari  ke 6

Lubang ventilasi dibuka 3/4 bagian. Mengenai kegiatan, semuanya masih sama seperti han ke-5.

ÿ  Hari ke 7

Pemutaran telur tetap diläkukan tiga kali sehari. namun lubang ventilasi dibuka seluruhnya.

ÿ  Hari ke 8

Kegiatan masih berkisar pada pemutaran, seperti yang dilakukan pada hari-hari sebelumnya. Demikian pula mengenai lubang ventilasi yang tetap dibuka seluruhnya.

Memasuki hari kedelapan, suhu penetasan ditingkatkan menjadi 103°F (39,44°C).

 

ÿ  Hari ke 9

Seluruh kegiatan sama dengari hari ke-8.

ÿ  Hari ke 10

Kegiatan masih sama dengan hari ke-9.

ÿ  Hari ke 11

Kegiatan masih sama dengan hari ke-10.

ÿ  Hari ke 12

Kegiatan masih sama dengan hari ke-11.

embrio semakin besar kelihatan tidak bergerak

ÿ  hari ke 13

Kegiatan masih sama dengan hari ke-12.

embrio semakin besar kelihatan tidak bergerak

ÿ  Hari ke 14

kembali dilakukan peneropongan telur untuk mengetahui keadaan embrio di dalamnya. Embrio yang mati di dalam telur langsung dikeluarkan, sehingga rak tetas hanya diisi telur dengan bibit yang masih hidup saja. Namun jika masih ragu-ragu sebaiknya telur tetap biarkan dalam mesin tetas sampai hari yang ke 21, karena pada hari ke 14 ini sulit membedakan embrio yang hidup dan tidak, karena sama-sama tidak bergerak. Selain peneropongan, semua kegiatan pada han ke- 14 ini sama dengan hari ke-13.

ÿ  Hari ke 15

ÿ  Telur-telur tetas tetap diputar 3 kali sehari. Suhu masih 103°F (39,44°C) dan lubang ventilasi juga tetap dibuka seluruhnya.

ÿ  Hari ke 16

Sama dengan kegiatan pada han ke-15.

ÿ  Hari  ke 17

Semua kegiatan masih sama dengan yang dilakukan pada hari ke- 16.

ÿ  Hari ke 18

dilakukan pemutaran hanya pada pagi hari saja selanjutnya telur didiamkan. Memasuki hari ke-18 sampai 21, telur mengalami masa kritis yang pada saat tersebut embrio mengalami perubahan yang sangat cepat untuk menjadi anak ayam. Beberapa organ tubuh mulai tumbuh sempurna, sehingga cukup peka terhadap perubahan temperatur udara luar. Suhu dalam ruangan mesin tetas ditingkatkan menjadi 104°F(40°C).

ÿ  Hari ke  19

Sebagian telur mulai retak. Pada saat seperti ini ruangan mesin penetas membutuhkan kelembaban yang lebih tinggi daripada hari- hari sebelumnya.Untuk menciptakan suasana tersebut, kita dapat menambah volume air pada baki. Suhu masih 104°F (40°C) dan lubang ventilasi tetap terbuka.

ÿ  Hari ke 20

Seperti hari ke- 18 dan 19, maka pada hari ke-20. Suhu dipertahankan pada skala 104°F (40°C). Proses pecahnya kulit telur terjadi pada hari ke-20 dan ke-2 1. Anak ayam melalui paruhnya menekan ujung tumpul yakni rongga udara, kemudian memperpanjang diri dan menggelembung. Akibatnya, kulit telur menjadi sobek dan lama-kelamaan akan pecah. Dengan kekuatan sedikit demi sedikit, ujung tumpul tadi akan terangkat dan kepala anak ayam tersebut menyembul keluar.

ÿ  Hari ke 21

Setelah hari ke 21 telur ayam sudah menetas, bahkan di hari ke 20 kemungkinan sudah ada yang menetas. Segera pindahkan anakan ayam yang menetas ke ruangan lain agar tidak mengganggu telur yang belum menetas.

Yang perlu diperhatikan anak ayam dipindahkan pada ruangan yang memiliki suhu hampir sama dengan suhu di dalam ruang penetas, seiring dengan bertambahnya usia suhu perlahan-lahan diturunkan.

Anak ayam yang baru menetas masih menggunakan energi dari makanan cadangan dari telur, sedikit demi sedikit dilatih makan dengan menaburkan makanan di bulu-bulunya. Setelah cukup kuat anakan ayam siap dijual atau dipelihara.