Sabut kelapa dalam perdagangan internasional disebut cocopeat yang dapat digunakan sebagai media tanaman hias dan sebagai sumber hara yang mampu mengemburkan tanah sawah walau dalam musim kemarau sehingga pertumbuhan tanam padi dapat tumbuh baik.Pertanian dengan sistem organik lebih murah dan mudah didapat. Sabut kelapa merupakan hasil sampingan dari buah kelapa dan berpotensi cukup besar karena mengandung seperti lignin 45,8%, selulosa 43,4%, hemisilolosa 10,25%, pektin 3%, dan kalium sebesar 10,25%. P,Ca,Mg, dan tricoderma molds.Sabut kelapa juga digunakan sebagai media tanam dan pembuatan agar-agar kertas. Sabut kelapa sebagai media tanam mampu mengikat dan menyimpan air yang kuat. Debu sabut kelapa juga dapat digunakan sebagai pupuk organik melalui pengomposan untuk menurunkan kadar fenolik dan tanin yang kurang baik untuk pertumbuhan tanaman. Sabut kelapa merupakan bahan pupuk organik cair yang ramah lingkungan dan lebih mudah. Cara membuat POC dari sabut kelapa adalah 1 kg sabut kelapa, 100 g gula merah, 100 ml EM4 atau MOL bongol pisang, dan 10 l air. Cincang atau potong sabut kelapa masukan kedalam wadah, larutkan EM 4 atau MOL bongol pisang dan gula, tutup rapat buka tutup setiap pagi untuk membuang gas yang timbul, simpan tempat sejuk biarkan 2 minggu. Aplikasinya dengan cara campur 1 bagian POC dengan 3 bagian air bersih, kocor pada tanaman dengan dosis 250 ml/tanaman. Aplikasi 1 minggu 1 kali untuk aplikasi akar sedangkan untuk aplikasi daun 1 bagian POC dengan 5 bagian air bersih semprot pada daun dan batang 1 minggu sekali.Pupuk organik dapat memperbaiki sifat fisik dan kimia tanah, meningkatkan produksi tanaman. Sabut kelapa dalam media tanam berfungsi mengikat dan menyimpan air dengan kuat, sebagai drainase dan aerase yang baik. Bisa untuk pupuk organik cair dan padat. Sabut kelapa jika diolah menjadi cocopeat dapat menahan unsur kimia air dan menetralkan tanah, umumnya digunakan untuk tanaman hias seperti anggrek. Penulis : Nur Aflamara, S.P, M.Si (THL-TBPP BPP Kec. Talangpadang)