Perubahan metode budidaya dan cara tanam petani di lahan gambut paska bencana kebakaran hebat tahun 2015, mulai memetik hasil. Petani gambut di Riau banyak menanam nanas menjadi salah satu buah yang dibudidayakan di lahan gambut tipis. Bahkan hasilnya sekarang menjadi komoditas ekspor buah menjanjikan. Kelompok tani di Desa Tanjung Leban, Kecamatan Bandar Laksamana yang sudah lama bertanam nanas sudah mampu menjual hasil budidaya nanas mereka ke Wilayah Sumatera Utara dan Sumatera Barat. Sebagaimana diketahui, Desa Tanjung Leban tadinya merupakan salah satu desa yang rawan karhutla di Provinsi Riau. Tahun 2017, Kelompok Tani Tani jaya Desa Tanjung Leban mampu menginpirasi petani sekitarnya untuk ikut menanam nanas pada lahan-lahan tidur. Hingga tahun 2019 hamparan tanaman nanas di desa tersebut terus dikembangkan hingga mencapai luas sekitar 180 hektar, yang juga efektif menekan kebakaran lahan gambut. Kemudian hasil panen nanas juga diolah menjadi produk turunan seperti dodol nanas, keripik nanas yang dikemas sehingga layak di jual-belikan pada pasar tradisional maupun modern. Namun kini dengan keberhasilan memasok hingga pasar Provinsi tetangga, kelompok tani ikut senang. Hutagalung, petani nanas dari kelompok tani desa Tanjung Leban mengatakan:” Buah nanas ini mampu mendongkrak ekonomi petani nanas disini. Potensi penamanan nanas di lahan gambut itu luar biasa besar, sebab nanas budidaya paling efisien.” “Berkat bantuan Badan Restorasi Gambut (BRG) untuk pertanian nanas di lahan kita bisa berkali-kali panen dan menikmati manisnya lahan gambut yang terbasahi dan terawasi dengan baik,” ungkap Legimin. Indra Gunawan selaku Penyuluh Pertanian Desa Tanjung Leban Kecamatan Bandar Laksamana, menambahkan, perawatan nanas sangat cocok di lahan gambut tipis. Hasil dari budi daya nanas di lahan gambut ini sudah dijual ke beberapa wilayah di Indonesia. “Kami sudah membuka link antarprovinsi juga di pertengahan 2020, salah satunya,” ucap nya. Indra Gunawan menyebut, saat ini harga nanas per gandeng, berisi dua buah nanas besar, dihargai Rp 7.000 hingga Rp. 9.000. Selain pasar lokal, mereka juga sudah bisa mengirim sampai Provinsi tetangga sebanyak 12.000 butir per bulan. “ tutupnya. (Hlmi)