Loading...

MEMBANDINGKAN HASIL PADI VARIETAS INPARI 39 TADAH HUJAN AGRITAN DAN INPARI 41 TADAH HUJAN

MEMBANDINGKAN HASIL PADI VARIETAS INPARI 39 TADAH HUJAN AGRITAN DAN INPARI 41 TADAH HUJAN
Padi merupakan komoditas strategis ditinjau dari aspek ekonomi, sosial dan politik. Oleh karena itu untuk setiap pengambilan kebijakan, tolok ukur yang digunakan adalah keamanan dan kecukupan pangan, terutama beras. Strategi peningkatan produksi padi dapat dilakukan melalui peningkatan produktivitas padi, perluasan areal padi sawah dan pengelolaan lahan. Saat ini, menambah luas areal lahan pertanian untuk tanaman padi sangat sulit dilakukan karena terbatasnya lahan yang dapat dijadikan lahan sawah bukaan baru. Salah satu cara untuk meningkatkan produksi padi dapat ditempuh melalui peningkatan indeks pertanaman padi. Pada lahan sawah tadah hujan padi, biasa ditanam pada musim tanam pertama atau saat awal musim hujan. Sedangkan pada musim tanam ke dua biasanya dilakukan penanaman palawija atau diberokan. Peningkatan indeks pertanaman padi dapat dilakukan pada musim tanam ke dua dengan memanfaatkan curah hujan yang masih ada dan tambahan irigasi dari pompa air sumur dalam, sumur dangkal, air sungai atau dam parit. Varietas unggul dan komponen teknologi produksi padi yang sesuai dengan karakteristik lokasi akan mendukung keberhasilan peningkatan indeks pertanaman padi pada musim tanam ke dua. Penanaman varietas unggul berdaya hasil tinggi sangat diandalkan dalam peningkatan produktivitas. Penggunaan varietas unggul bersifat mudah dan murah, karena dapat dilakukan tanpa mengubah komponen teknologi lainnya serta tidak memerlukan tambahan biaya serta mudah diadopsi oleh petani. Peningkatan kuantitas dan kualitas produk pertanian berperan penting dalam peningkatan kuantitas dan kualitas produk pertanian adalah varietas unggul, karena varietas unggul memberikan kontribusi 56,1% pada peningkatan produksi padi nasional. Beragam varietas unggul menjadi alternatif bagi petani sesuai dengan kondisi agroklimat, namun potensi maksimal varietas unggul baru tercapai pada kondisi lingkungan tumbuh yang sesuai. Hal ini karena hasil yang dicapai selain ditentukan oleh faktor genetik, juga ditentukan oleh faktor lingkungan. Beberapa varietas unggul baru untuk lahan tadah hujan yang memiliki potensi hasil relatiF tinggi yaitu Inpari 39 Tadah Hujan Agritan dan Inpari 41 Tadah Hujan Agritan. Kedua varietas ini merupakan varietas yang dapat tumbuh baik bila ditanam pada lahan tadah hujan. Oleh karena itu perlu diketahui informasi perbandingan hasil antara varietas Inpari 39 Tadah Hujan Agritan dan Inpari 41 Tadah Hujan Agritan Hasil penelitian yang dilakukan oleh Hikmah dengan kawan-kawan pada tahun 2017 menunjukkan bahwa: 1) gabah isi yang dihasilkan oleh varietas Inpari 39 Tadah Hujan Agritan sebesar 68,79%. Hasil ini lebih rendah dibandingkan dengan varietas Inpari 41 Tadah Hujan Agritan yang 81,35%, 2) bobot 1.000 butir gabah dari varietas Inpari 39 Tadah Hujan Agritan sebesar 26,49 gram. Hasil ini lebih rendah dibandingkan dengan varietas Inpari 41 Tadah Hujan Agritan yang 27,82 gram, 3) hasil gabah kering giling varietas Inpari 39 Tadah Hujan Agritan terendah 2,92 ton/ha dan tertinggi 4,62 ton/ha. Hasil ini juga lebih rendah dibandingkan dengan varietas Inpari 41 Tadah Hujan Agritan yang terendah 4,31 ton/ha dan tertinggi 5,70 ton/ha (Ahmad Damiri). Sumber: Hikmah ZM, Agustiani N, Sriyana, Hayashi K. 2017. Karakterisasi Keragaan Agronomis Varietas Padi Sawah Tadah Hujan pada Pemupukan Nitrogen dan Perlakuan Air. http://www.jlsuboptimal.unsri.ac.id/index.php/jlso/article/view/291/319[17 Mei 2021]