Loading...

Membangun Partisipasi dan Kemandirian Petani Melalui SL-PTT

Membangun Partisipasi dan Kemandirian Petani Melalui SL-PTT
Pengelolaan Tanaman dan Sumberdaya Terpadu (PTT) telah teruji kemampuannya meningkatkan produktivitas. Sehubungan dengan itu untuk dapat mempercepat penyebaran PTT dari peneliti ke petani perlu dilakukan Sekolah Lapang Pengelolaan Tanaman dan Sumberdaya Terpadu (SL-PTT). Pengalaman menunjukkan bahwa varietas unggul padi yang dibudidayakan dengan pendekatan PTT dapat meningkatkan produktivitas dan efisiensi input produksi. Demikian juga sekolah lapang pengendalian hama terpadu (SL-PHT) dengan sistem belajar langsung di lahan petani dapat mempercepat alih teknologi dan meredam serangan hama penyakit padi. Keberhasilan SL-PTT yang ditindaklanjuti oleh pengembangan SL-Iklim (SL-I) memberi inspirasi bagi pengembangan PTT melalui Sekolah Lapang Pengelolaan Tanaman dan Sumberdaya Terpadu (SL-PTT). Apa SL-PTT dan Apa Tujuannya? SL-PTT adalah sekolah yang diselenggarakan di lapangan, seperti sekolah pada umumnya, SL-PTT tersebut mempunyai kurikulum, evaluasi belajar dan sertifikat kelulusan. Pada SL-PTT ini tidak ada murid dan guru, tetapi yang ada adalah peserta dan pemandu lapangan, karena dalam proses belajarnya peserta dipandu untuk mengetahui, memahami dan menerapkan PTT bersama dengan salah satu atau dua pemandu lapangan. Sarana belajar SL-PTT adalah lahan usahataninya. Membangun Partisipasi dan Kemandirian Petani Melalui SL-PTT Tujuan Umum : agar petani peserta dan pemandu lapangan dapat memahami dan memasyarakatkan PTT di pedesaan dengan dukungan penyuluh pertanian, POPT dan aparat pemerintah setempat.Tujuan khusus SL-PTT padi untuk penyuluh dan POPT : Diharapkan Penyuluh Pertanian dan POPT dapat membantu petani dalam melaksanakan teknologi PTT dengan baik dan benar, sehingga bisa membangun kelompoktani yang kuat dan kelompok tersebut dapat membantu dan melatih petani lainnya di dalam dan di luar desanya. SL-PTT juga merupakan sarana belajar dan untuk meningkatkan kemampuan Penyuluh Pertanian dan POPT. Tujuan khusus SL-PTT padi untuk Petani dan Masyarakat Desa: Dalam kegiatan SL-PTT, petani dan masyarakat desa mempunyai kesempatan untuk mengembangkan keahliannya melalui proses belajar selama satu siklus perkembangan tanaman padi. Kelompok pelaksanaan SL-PTT diharapkan dapat membuat rencana kerja kelompok dan pemasyarakatan teknologi PTT tersebut. Bagaimana ciri dan Pola SL-PTT ? Pada Sekolah lapang, selain sudah mempunyai kurikulum, evaluasi pra dan pasca kegiatan. Petani peserta diberi kebebasan memformulasikan ide, rencana dan keputusan bagi usahataninya sendiri. Karena itu petani diberi kebebasan untuk menganalisis, menyimpulkan, menganalisis dan menindaklanjutinya dalam penggunaan teknologi. Dalam hal ini pemandu dituntut untuk mampu berkomunikasi dengan petani secara baik. Adapun ciri dari sekolah lapang antara lain :1. Peserta dan pemandu saling memberi dan menghargai. 2. Perencanaan dan pengambilan keputusan dilakukan bersama dengan kelompoktani dan gabungan kelompoktani .3. Komponen teknologi yang akan diterapkan berdasarkan hasil PRA yang dilakukan petani peserta.4. Pemandu tidak mengajari petani, tetapi petani belajar dengan inisiatif sendiri, pemandu sebagai fasilitator memberi bimbingan. 5. Materi latihan, praktek dan sarana belajar ada di lapangan. 6. Kurikulum dirancang untuk satu musim tanam. Untuk tahun 2013, SL-PTT padi terdiri dari : (1) SL-PTT padi non hibrida, (2) SL-PTT padi non hibrida spesifik lokasi, (3) SL-PTT padi hibrida peningkatan IP, (4) SL-PTT pengembangan padi hibrida, (5) Dem Farm padi hibrida masing-masing dengan luas 1.000 ha/kawasan; (6) SL-PTT padi non hibrida lahan rawa terdiri dari SL-PTT padi rawa lebak dengan luas 500 ha/kawasan dan SL-PTT padi rawa pasang surut dengan luas 1.000/kawasan, dan (7) SL-PTT padi lahan kering dengan luas 1.000 ha per kawasan. SL-PTT jagung baik di lahan kering maupun di lahan sawah terdiri dari : (1) SL-PTT jagung hibrida, (2) SL-PTT jagung komposit, dan (3) Optimasi jagung hibrida masing-masing dengan luas 1.000 ha/kawasan. SL-PTT kedelai terdiri dari : (1) SL-PTT kedelai dengan luas 500 ha/kawasan dan (2) pengembangan model kedelai dengan luasan 5.000 ha/kawasan. SL-PTT dilaksanakan pada tiga tipe kawasan yaitu : (1) kawasan pertumbuhan, (2) kawasan pengembangan, dan (3) kawasan pemantapan. Kawasan pertumbuhan dengan kriteria produktivitas lebih rendah dari rata-rata provinsi, pemanfaatan lahan belum optimal, dan tingkat kehilangan hasil masih tinggi. Kawasan pengembangan dengan kriteria produktivitas hampir sama dengan produktivitas rata-rata provinsi, pemanfaatan lahan hampir optimal, tingkat kehilangan hasil sedang, dan mutu hasil belum optimal. Kawasan pemantapan dengan kriteria produktivitas sudah lebih tinggi dari produktivitas rata-rata provinsi, mutu hasil belum optimal, efisiensi usaha belum berkembang, optimalisasi pendapatan melalui produksi subsektor tanaman sudah maksimal (kecuali ada introduksi teknologi baru). Luas SL-PTT pertumbuhan adalah 270.800 ha dengan rataan biaya LL dan SL Rp. 1.070/ha; SL-PTT pengembangan seluas 589.700 ha dengan rataan biaya LL dan SL Rp. 786.000/ha; dan SL-PTT pemantapan seluas 3.737.400 ha dengan rataan biaya LL dan SL Rp. 72.000/ha. Total luas kegiatan SL-PTT padi, jagung, dan kedelai tahun 2013 direncanakan seluas 4.625.000 ha. Penyunting : Yulia Tri S (Penyuluh Pertanian) Email : yuliatrisedyowati@yahoo.co.id Sumber: 1. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 2. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanan