Loading...

MEMPERKENALKAN INPAGO 13 FORTIZ MELALUI PRODUKSI BENIH SEBAR PADI DI KALIMANTAN BARAT

MEMPERKENALKAN INPAGO 13 FORTIZ MELALUI PRODUKSI BENIH SEBAR PADI DI KALIMANTAN BARAT
Permasalahan utama di lahan kering adalah ketersediaan air yang minim. Kebutuhan air untuk usahatani umumnya hanya mengandalkan air hujan. Masalah lainnya adalan lahan kering memiliki kesuburan tanah yang rendah, kandungan Al yang tinggi, kandungan Fe dan Mn yang hampir mencapai ambang batas yang dapat meracuni tanaman. Kondisi ini mengakibatkan produktivitas lahan dan tanaman di lahan kering rendah. Salah satu inovasi teknologi yang dapat dilakukan adalah varietas unggul baru yang toleran terhadap kekeringan dan toleran terhadap keracunan Al dan Mn. Varietas unggul merupakan salah satu komponen teknologi budidaya dalam usaha meningkatkan produksi dan produktivitas serta ketahanan terhadap hama penyakit utama. Badan Litbang Pertanian telah cukup banyak melepas varietas unggul baru, salah satunya Inpago 13 Fortiz yang dilepas tahun 2020. Inpago 13 Fortiz merupakan padi lahan kering yang memiliki keunggulan khusus yaitu memiliki kandungan Zinc 34 ppm pada beras pecah kulit dan kandungan protein 9.83% yang lebih tinggi dari protein beras pada umumnya. Beras yang memiliki protein tinggi (8-9%) rasanya lebih enak. Varietas ini juga memiliki rata-rata hasil 6,53 t/ha GKG dengan potensi hasil 8,11 t/ha GKG, agak tahan terhadap wereng batang coklat biotipe 1, agak rentan terhadap biotipe 2 dan 3, agak tahan sampai tahan terhadap delapan ras blas. Varietas ini agak toleran keracunan Aluminium (Al) 40 ppm dan agak toleran kekeringan pada fase vegetative serta adaptif di lahan kering, juga dapat di tanam di lahan sawah tadah hujan dengan sistem pengairan yang terbatas. Produktivitas padi lahan kering di Kalimantan Barat sampai saat ini masih rendah < 2,5 ton/ha, karena sebagian besar masih menggunakan varietas lokal. Disisi lain, Kalimantan Barat juga termasuk salah satu dari 10 provinsi yang memiliki angka prevalensi stunting tertinggi. Dengan adanya VUB padi Inpari Inpago 13 Fortiz yang memiliki potensi produktivitas tinggi di lahan kering diharapkan dapat mendongkrak produktivitas padi di lahan kering. Selain itu kandungan sengnya yang tinggi diharapkan dapat membantu untuk pengentasan stunting melalui biofortifikasi padi, karena padi/beras merupakan makanan pokok umum masyarakat di Indonesia, begitu juga di Kalimantan Barat. Varietas Inpago 13 Fortiz baru diperkenalkan di Kalimantan Barat pada musim rendengan tahun 2022 melalui kegiatan produksi benih sebar padi. Kegiatan ini dilaksanakan di dua kabupaten, salah satunya di Kabupaten Sambas, kelompoktani Dare Nandung desa Semparuk Kecamatan Semparuk. Kegiatan ini dilaksanakan dilaksanakan di lahan sawah pasang surut menggunakan teknologi pengelolaan tanaman terpadu (PTT) dengan komponen teknologi penggunaan varietas unggul baru, benih bermutu label ungu (SS), pengolahan tanah dengan traktor, penggunaan bahan organik, penyemaian dengan sistem dapok, tanam dengan rice transplanter jajar legowo 2:1, jarak tanam 30x25x50 cm, pemupukan berdasarkan hasil perangkat uji tanah sawah (PUTS), roguing (membuang atau menghilangkan tanaman yang menyimpang atau berbeda dengan tanaman utama), pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT) serta panen dengan combine harvester. Dengan menggunakan teknologi PTT, diperoleh hasil riil Inpago 13 Fortiz 2,505 kg GKP/0,5 Ha. Hasil ini belum optimal dan dapat ditingkatkan lagi dengan memperapat jarak tanam agar populasi tanamannya lebih banyak dan diharapkan produksi dapat meningkat. Dari hasil gabah kering panen tersebut, dihasilkan benih sebar ±2.100 kg. Benih yang dihasilkan akan disebarluaskan ke petani agar Inpago 13 Fortis dapat dikenal dan tersebar di Kalimantan Barat serta dapat mempercepat proses tanam pada musim tanam Gadu 2023. Penyusun : Ir. Sari Nurita (Penyuluh Pertanian BPSIP Kalimantan Barat) Sumber informasi : diolah dari berbagai sumber