Loading...

Mempertahankan Kualitas Produk Temulawak

Mempertahankan Kualitas Produk Temulawak
Temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) merupakan tanaman asli Indonesia yang banyak digunakan sebagai bahan baku obat-obatan, pewarna, industri kosmetik, dan minuman segar tradisional. Dengan demikian pasca panen temulawak perlu diperhatikan untuk memperoleh produk temulawak yang tahan simpan dan berkualitas dengan kandungan bahan aktif sesuai standar mutu secara konsisten. Pasca panen temulawak dilakukan melalui 5 (lima) tahapan, yaitu: 1) Penyiapan bahan baku; 2) Penyiapan peralatan dan bahan kemasan; 3) Pemrosesan; 4) Pengemasan dan pelabelan; dan 5) Penyimpanan. Kelima tahapan tersebut dapat diuraikan sebagai berikut: 1) Penyiapan bahan baku Bahan baku temulawak yang akan dikeringkan atau dibuat simplisia berupa rimpang yang mempunyai ciri-ciri: segar, besar, berasal dari tanaman berumur antara 10 - 12 bulan), tidak busuk, dan tidak rusak/cacat. 2) Penyiapan peralatan dan bahan kemasan Peralatan yang diperlukan untuk penanganan pasca panen temulawak terdiri dari: wadah/bak/ember, sikat plastik, label, keranjang plastik, pisau, alas perajang, alat perajang, alat pengering (tampi, solar dryer/sinar matahari), para-para, bahan rak, dan timbangan. 3) Pemrosesan Proses pasca panen temulawak melalui tahapan: penyortiran awal (basah), pencucian, penimbangan bahan, perajangan, pengeringan, dan penyortiran akhir (simplisia). Penyortiran awal (basah) merupakan tindakan penyortiran ini untuk memilih rimpang yang bagus dengan ciri-ciri: besar, tua (telah berumur 10 - 12 bulan), tidak busuk/rusak/cacat atau kena cemaran bahan asing lainnya. Lalu pisahkan rimpang yang bagus dan dibersihkan dari tanah serta kotoran lain nempel dengan cara dipukul perlahan-lahan. Selanjutnya potonglah daun-daun, batang dan akar dengan menggunakan pisau. Pencucian dan penimbangan khusus untuk rimpang temulawak yang bagus dan bersih dari kotoran, dengan cara menyikat perlahan-lahan dan teratur di bawah air mengalir, lalu dibilas pada air tidak mengalir dan ditiriskan dalam keranjang plastik. Setelah benar-benar tiris ditimbang untuk mengetahui berat bersih rimpang temulawak untuk dijadikan bahan membuat simplisia. Perajangan dilakukan untuk rimpang temulawak yang sudah siap sebagai bahan membuat simplisia, dirajang dengan menggunakan alat mesin perajang atau secara manual. Perajangan ini dilakukan untuk mempercepat pengeringan, oleh karena itu dirajang dengan arah membujur dan tebalnya kira-kira 5 mm atau sesuai keinginan pasar. Namun harus diperhatikan ukuran ketebalan perajangan sangat berpengaruh pada kualitas bahan simplisia. Jika terlalu tipis akan mengurangi kandungan bahan aktif dan jika terlalu tebal akan mempersulit proses pengeringan. Selanjutnya hasil rajangan ditampung ke dalam wadah. Pengeringan temulawak bertujuan untuk memperpanjang daya simpan dan mempertahankan kualitas simplisia. Pengeringan tersebut dapat dilakukan dengan: 1) Dijemur di bawah sinar matahari dengan naungan atau paranet; 2) Menggunakan alat pengering bertenaga sinar matahari (solar driyer); 3) Mesin pengering (tray driyer). Caranya, temulawak yang sudah dirajang diletakan pada tempat/alat pengering secara merata. Khusus pengeringan dengan mesin pengering, ketebalan tumpukan masimal 5 cm dan suhunya diatur sekitar 50°C - 60°C. Setelah rajangan temulawak kering dengan kadar air mencapai 10%, simplisia diangkat dari tempat/alat pengering. Penyortiran akhir (simplisia) dilakukan berdasarkan kualitas, dengan memisahkan simplisia dari benda asing dan kotoran lainnya yang masih tertinggal. Lalu simplisia ditimbang untuk menghitung rendemen hasil dari pemrosesan. 4) Pengemasan dan pelabelan Simplisia yang telah benar-benar kering dan bersih, segera dikemas untuk menghindari penyerapan kembali uap air. Kantong plastik kemasan diupayakan bersih dan dapat ditutup rapat. Simplisia yang telah masuk dalam kantong tidak terlalu padat dan diberi label nama serta jenisnya, lalu ditutup kemasan dengan rapat. 5) Penyimpanan Kemasan simplisia di ruang/gudang yang bersih dengan sirkulasi udara baik dan tidak lembab, suhu tidak melebihi 30°C, jauh bahan lain penyebab kontaminasi dan bebas hama gudang. Penyimpanan simplisia jangan ditumpuk-tumpuk tetapi harus ada sekat diantara tumpukan. Jika penyimpanan baik dan benar, simplisia dapat disimpan hingga 10 bulan. Penulis : SUSILO ASTUTI H. (Penyuluh Pertanian, Pusluhtan) Sumber informasi: 1. Mono Rahardjo dan Ekwasita Rini Pribadi. Standar Operasional Prosedur (SOP) Budidaya Temu Lawak. Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik, Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan. 2011. 2. Setiawan Dalimartha. Atlas Tumbuhan Obat Indonesia, Jilid 2. 2007. Jakarta, Trubus Agriwidya. 3. Atlas Tumbuhan Obat Indonesia, Jilid 2. 2007. Jakarta, Trubus Agriwidya.