Loading...

MENAKAR EMISI GAS RUMAH KACA DI BUMI MAKMUR

MENAKAR EMISI GAS RUMAH KACA DI BUMI MAKMUR
Isue tentang pemanasan global akibat dari efek emisi rumah kaca dari tahun ke tahun intensitasnya semakin meningkat. Pada awal munculnya issue pemanasan global adalah oleh akibat pembakaran bahan bakar yang berasal dari fosil oleh kegiatan industry dan sejenisnya, namun belakangan tudingan itu merambah oleh sebab efek rumah kaca karena ulah aktifitas manusia di sektor pertanian. Menanggapi kegerahan akan issue tersebut Kementrian Pertanian membentuk sebuah tim guna Menakar Emisi Gas Rumah Kaca pada kegiatan pertanian Hortikultura. Upaya ini menjadi bentuk tanggung jawab pemerintah untuk turut andil didalam menyelamatkan lingkungan dari kerusakan. Emisi yang dimaksud disisni adalah pancaran / pemancaran cahaya, panas, atau elektron dari suatu permukaan benda padat atau cair. Sedangkan Gas rumah kaca adalah gas-gas yang ada di atmosfer yang menyebabkan efek rumah kaca. Gas-gas tersebut sebenarnya muncul secara alami di lingkungan, tetapi dapat juga timbul akibat aktivitas manusia. Efek rumah kaca, yang pertama kali diusulkan oleh Joseph Fourier pada tahun 1824, merupakan proses pemanasan permukaan suatu benda langit (terutama planet atau satelit) yang disebabkan oleh komposisi dan keadaan atmosfernya. Atmosfer adalah lapisan gas yang melingkupi sebuah planet, termasuk bumi. dari permukaan planet tersebut sampai jauh di luar angkasa. Di Bumi, atmosfer terdapat dari ketinggian 0 km di atas permukaan tanah, sampai dengan sekitar 560 km dari atas permukaan Bumi. Atmosfer tersusun atas beberapa lapisan, yang dinamai menurut fenomena yang terjadi di lapisan tersebut. Transisi antara lapisan yang satu dengan yang lain berlangsung bertahap. Studi tentang atmosfer mula-mula dilakukan untuk memecahkan masalah cuaca, fenomena pembiasan sinar matahari saat terbit dan tenggelam, serta kelap-kelipnya bintang. Dengan peralatan sensitif yang dipasang di wahana luar angkasa, kita dapat memperoleh pemahaman yang lebih baik mengenai atmosfer termasuk fenomena-fenomena yang terjadi di dalamnya. Atmosfer melindungi kehidupan di bumi dengan menyerap radiasi sinar ultraviolet dari Matahari dan mengurangi suhu ekstrem antara siang dan malam. 75% dari atmosfer ada dalam 11 km dari permukaan planet. Atmosfer tidak memiliki batas mendadak, tetapi agak menipis lambat laun dengan menambah ketinggian, tidak ada batas pasti antara atmosfer dan angkasa luar. Efek rumah kaca dapat digunakan untuk menunjuk dua hal berbeda: efek rumah kaca alami yang terjadi secara alami di bumi, dan efek rumah kaca ditingkatkan yang terjadi akibat kegiatan manusia. Efek rumah kaca disebabkan karena meningkatnya konsentrasi gas karbon dioksida (CO2) dan gas-gas lainnya di atmosfer. Dimana energi yang masuk ke Bumi 25% dipantulkan oleh awan atau partikel lain di atmosfer, 25% diserap awan, 45% diserap permukaan bumi, 10% dipantulkan kembali oleh permukaan bumi. Energi yang diserap dipantulkan kembali dalam bentuk radiasi inframerah oleh awan dan permukaan bumi. Namun sebagian besar inframerah yang dipancarkan bumi tertahan oleh awan dan gas CO2 dan gas lainnya, untuk dikembalikan ke permukaan bumi. Selain gas CO2, yang dapat menimbulkan efek rumah kaca adalah belerang dioksida, nitrogen monoksida (NO) dan nitrogen dioksida (NO2) serta beberapa senyawa organik seperti gas metana dan klorofluorokarbon (CFC). Gas-gas tersebut memegang peranan penting dalam meningkatkan efek rumah kaca. Meningkatnya suhu permukaan bumi akan mengakibatkan adanya perubahan iklim yang sangat ekstrem di bumi. Hal ini dapat mengakibatkan terganggunya hutan dan ekosistem lainnya, sehingga mengurangi kemampuannya untuk menyerap karbon dioksida di atmosfer. Menurut perhitungan simulasi, efek rumah kaca telah meningkatkan suhu rata-rata bumi 1-5 °C. Bila kecenderungan peningkatan gas rumah kaca tetap seperti sekarang akan menyebabkan peningkatan pemanasan global antara 1,5-4,5 °C sekitar tahun 2030. Dengan meningkatnya konsentrasi gas CO2 di atmosfer, maka akan semakin banyak gelombang panas yang dipantulkan dari permukaan bumi diserap atmosfer. Hal ini akan mengakibatkan suhu permukaan bumi menjadi meningkat. Konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer setiap tahun mengalami peningkatan dengan kenaikan rerata tahunan sebesar 2,1 ppm. Dalam keadaan normal, efek rumah kaca diperlukan, dengan adanya efek rumah kaca perbedaan suhu antara siang dan malam di bumi tidak terlalu jauh berbeda. Namun dalam keadaan upnormal efek rumah kaca akan mebahayakan kehidupan dan lingkungan. Jenis Gas Rumah Kaca yang keberadaannya di atmosfer berpotensi menyebabkan perubahan iklim global adalah CO2, CH4, N2O, HFCs, PFCs dan SF6. Adapun sumber emisi utama Gas Rumah Kaca di sektor pertanian adalah CO2, CH4, dan N2O. Dalam hal ini Indonesia diharapkan dapat menyumbang penurunan Gas Rumah Kaca sebesar 21 persen di berbagai sektor termasuk pertanian. Tim Kementrian Pertanian telah melakukan pengambilan sampel Emisi Gas Rumah Kaca, khususnya CO2 dan N2O, oleh Ditjen Hortikultura bersama Balai Penelitian Lingkungan Pertanian (Balingtan) merupakan salah satu bentuk dukungan Kementerian Pertanian untuk mengurangi Emisi Gas Rumah Kaca. Pengambilan sampel ini dilakukan di lahan tanaman cabai yang dibudidayakan secara organik dan konvensional. Pengambilan sampel di lokasi melibatkan tenaga-tenaga lapang dari Ditjen Holtikultura Jakarta, Balingtan Pati, Laboratorium Pengamatan Hama Penyakit (LPHP) Temanggung dan Dinas Pertanian Tanaman Pangan Temanggung yang dalam hal ini dilakukan oleh para penyuluh BPP Kecamatan Selopampang termasuk penulis terlibat didalamnya. Lokasi pengambilan sampel di lahan budidaya cabai konvensional bertempat di sawah Nurodin dan di lahan budidaya cabai organic bertempat disawah Rohmadi keduanya anggota Kelompok Tani Bumi Makmur, dusun Kemloko Desa Bumiayu, Kecamatan Selopampang, Kabupaten Temanggung, Provinsi Jawa Tengah. Pengambilan sampel emisi gas rumah kaca menggunakan alat berupa sungkup (chamber) yang dilengkapi peralatan pendukung. Seperti termometer, syringe atau injektor, vial atau ampul, dan timer atau stopwatch. Emisi GRK yang terperangkap dalam sungkup diambil dengan menggunakan injektor lalu disuntikkan ke dalam vial untuk disimpan dan dianalisa di Laboratorium. Petugas POPT, Andi Abdurahim dan Muhammad Roy, bersama tim dari Balingbangtan dan POPT setempat melakukan simulasi pengambilan sampel terlebih dahulu agar sesuai prosedur dan meminimalisasi kesalahan pengambilan sampel. Berikutnya masing-masing lahan yang terdiri dari tiga unit sungkup ini kembali dilakukan pengulangan sampel sebanyak lima kali dengan interval waktu 10 menit, oleh Bambang Sukusna salah seorang penyuluh BPP Kecamatan Selopampang, Faizin petugas POPT LPHP Temanggung dan petugas lapang lainnya. Kegiatan pengambilan sample demikian dilakukan secara berkala selama lima kali dengan interval waktu berselang tiga minggu yang dimulai pada bulan Juni 2019 yang lalu dan berakhir pada hari Kamis tanggal 22 Agustus 2019. Pengukuran sampel setiap periode dilakukan pada jam 07.00 pagi hari sampai dengan selesai untuk pengambilan 5 sample interval waktu 10 menit dan jam 13.00 siang hari sampai selesai untuk pengambilan 5 sample interval waktu 10 menit juga. Selanjutnya sample gas yang disimpan didalam vial dibawa ke laboratorium Balingtan untuk dilakukan serangkaian pengujian dan analisa. Retno Dyah Rahmawati, Kepala LPHP Temanggung menuturkan bahwa Temanggung, daerah ini dipilih karena memiliki keunggulan dalam usaha menggerakkan budidaya organic "Temanggung unggul dalam budidaya organik terutama cabai. Oleh karena itu pengambilan sampel emisi gas rumah kaca ini akan terus dipantau secara bersama pusat dan daerah," ujarnya pada Kamis tanggal 27 Juni 2019 yang lalu saat kegiatan ini dimulai. Langkah demikian dapat diterapkan di daerah lainnya sebagai bentuk dukungan pemerintah dalam upaya menurunkan emisi gas rumah kaca di atmosfer, Diharapkan kedepan Penerapan prinsip budidaya tanaman secara ramah lingkungan merupakan langkah awal untuk menurunkan tingkat emisi Gas Rumah Kaca di lahan pertanian. OLEH BAMBANG SUKUSNA, ThL-TBPP. BPP kec. Selopampang (Temanggung)