Hijauan segar adalah semua bahan pakan yang diberikan kepada ternak dalam bentuk segar, baik yang dipotong terlebih dahulu (oleh manusia) maupun yang tidak (disengut langsung oleh ternak). Hijauan segar umumnya terdiri atas daun-daunan yang berasal dari rumput-rumputan, tanaman biji-bijian atau jenis kacang-kacangan. Rumput-rumputan merupakan hijauan segar yang sangat disukai ternak, mudah diperoleh karena memiliki kemampuan tumbuh tinggi, terutama di daerah tropis meskipun sering dipotong/disengut langsung oleh ternak sehingga menguntungkan para peternak/pengelola ternak. Hijauan banyak mengandung karbohidrat dalam bentuk gula sederhana, pati, dan fruktosa yang sangat berperan dalam menghasilkan energi. Rumput-rumputan Rumput Gajah (Pennisetum purpureum), rumput Benggala (Penicum maximum), rumput Setaria (Setaria sphacelata), rumput Brachiaria (Brachiaria decumbens), rumput Mexico (Euchlaena mexicana), dan rumput lapangan yang tumbuh secara liar. Kacang-kacangan Stylo (Stylosantes guyanensis), centro (Centrocema pubescens), lamtoro (Leucaena leucocephala), Pueraria phaseoloides, Calopogonium muconoides, dan jenis kacang-kacangan lain. Daun-daunan Daun nangka, daun pisang, daun turi, daun petai cina. Pada dasarnya perbedaan mutu hijauan dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu sifat genetis (pembawaan), dan lingkungan. Faktor Pembawaan Disini bisa dikemukakan suatu contoh, bahwa bangsa gramineae (keluarga rerumputan) mempunyai pembawaan yang berbeda dengan bangsa leguminose (keluarga kekacangan). Rumput memerlukan nitrogen yang diperoleh dari dalam tanah dengan jalan menghisap nitrat atau amonia yang larut dalam air. Sebaliknya leguminose menambahkan nitrogen ke dalam tanah, karena adanya bakteri-bakteri pada bintil-bintil akar. Leguminose umumnya kaya akan protein, Ca, dan P; bila dibandingkan dengan gramineae atau hijauan lain. Sesama leguminose sendiri tidak akan memiliki kualitas yang sama, masing-masing memiliki nilai gizi yang berbeda. Misalnya hijauan daun lamtoro lebih kaya akan unsur protein bila dibandingkan dengan daun turi, demikian selanjutnya. Faktor lingkungan Faktor lingkungan mempunyai peranan sangat penting. Kualitas yang ada pada setiap jenis hijauan yang diwariskan oleh sifat genetis, hanya mungkin bisa dipertahankan atau ditingkatkan apabila faktor lingkungan seperti keadaan tanah, iklim, dan perlakuan manusia sendiri memadai. Keadaan tanah atau daerah Mutu hijauan makanan ternak, pada setiap tempat, akan berbeda menurut daerah atau jenis tanahnya. Hal ini masing-masing dipengaruhi oleh subur tidaknya tanah, kaya tidaknya unsur hara yang terdapat di dalamnya. Semakin tanah kaya akan unsur hara, semakin tanaman hijauan akan menjadi subur, bermutu dan ber-produksi tinggi. Sebab zat-zat makanan yang diperlukan untuk pertumbuhan bisa terpenuhi. Kesuburan tanah dapat dipelihara atau ditingkatkan dengan cara pengelolaan yang baik, termasuk pemberian pupuk hijau, kompos, pupuk kandang dan pupuk buatan. Pengaruh iklim Indonesia terletak di daerah tropis, sehingga pada garis besarnya tak begitu banyak dipengaruhi oleh perubahan iklim, seperti halnya di daerah sub-tropis. Namun demikian, karena luasnya negara kita dan terdiri dari banyak pulau, maka dalam kenyataannya timbul perbedaan-perbedaan kondisi. Misalnya di daerah pantai dan pegunungan, bagian Timur (NTT) lebih kering daripada bagian Barat. Hal ini mengakibatkan pula perbedaan kondisi tanah serta vegetasinya. Sehubungan dengan keadaan iklim yang berbeda-beda ini dapat dicatat adanya: Iklim yang sangat basah Daerah ini kurang baik bagi ternak. Hijauan yang dihasilkan kurang mengandung protein dan mineral, serta lebih banyak kadar seratnya, tetapi bahan keringnya rendah. Apalagi bila tanaman ini pertumbuhannya lambat. Daerah yang tak begitu basah Di daerah ini terdapat banyak padang rumput yang luas, rumput tumbuh tinggi dan pepohonan kurang. Daerah semacam ini dikenal sebagai daerah sabana. Daerah inilah yang baik untuk mengusahakan peternakan. Daerah kering Daerah yang beriklim kering hanya ditumbuhi oleh rumput pendek-pendek. Daerah ini dikenal sebagai daerah stepa atau hutan belukar. Di daerah yang beriklim kering ini matahari bersinar sangat terik, udara kering, cuaca terang, perbedaan suhu dalam sehari sangat menyolok, curah hujan kurang, walaupun kadang-kadang terdapat hujan lebat. Disini ternak sering menghadapi kesulitan mendapatkan makanan dan air. Di daerah semacam ini usaha ternak akan lebih cocok daripada pertanian khusus, misalnya di Madura dan Nusa Tenggara. Jika daerahnya kering lebih baik dipelihara sapi, atau daerah yang sangat kering kambing masih bisa bertahan. Dengan demikian, secara tidak langsung, iklim dapat pula mempengaruhi kehidupan ternak. Iklim bisa menentukan jumlah serta mutu bahan pakan. Di daerah basah, tanaman hijauan dewasa cepat menjadi mundur kualitasnya. Kadar air hijauan terlalu tinggi, sehingga ternak tak cukup lanyak mencari makanan yang kandungan bahan keringnya tinggi. Agar bisa diperoleh produksi optimal, maka perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut: Jarak tanam bervariasi: 60 x 75 cm, 60 x 100 cm, 50 x 100 cm, 75 x 100 cm, dan lain sebagainya. Hal ini juga sangat ditentukan oleh kesuburan tanah. Pada tanah yang subur, lebih baik dipakai jarak tanaman yang lebar, sebab pada umur beberapa bulan saja, tanaman akan banyak anakan dan cepat menutup tanah. Pennisetum dapat ditanam bersama jenis leguminose seperti Centrosema pubescens dan lain sebagainya. Ingatlah bahwa jenis leguminose bisa menambahkan nitrogen ke dalam tanah, karena adanya bakteri dalam bintil-bintil Sedangkan rumput itu sendiri memerlukan nitrogen dari dalam tanah dengan jalan menghisap nitrat atau amonia yang larut dalam air. Pendangiran: pendangiran dilakukan pada saat tanaman masih muda, sekitar umur 1 bulan, dan dibumbun pada setiap tanaman habis dipanen. Pemupukan: satu atau dua minggu sebelum dilakukan pena naman, bisa diberikan pupuk kandang atau kompos ataupun posfor dan kalium. Pupuk kandang sebagai pupuk dasar bisa diberikan 30 – 40 ton/Ha. Kalau tanaman telah berumur 2 minggu bisa diberikan pupuk nitrogen berupa Urea 150 Kg/Ha yang dibenamkan ± 4 cm di setiap sisi deretan ta Hal ini dilakukan demikian, karena tanaman pada umur dua minggu itu akarnya sudah mulai aktif. Pemotongan: pemotongan pertama dilakukan setelah tanam an berumur 50 – 60 hari, setelah tanaman mencapai tinggi 1 Di dalam kondisi tertentu walaupun tanaman belum mencapai 1 m (60 – 90 cm) bila sudah mencapai umur 50 – 60 hari harus dipotong paksa dengan maksud agar tanaman itu tumbuh anakan baru. Sedangkan pemotongan selanjutnya dilakukan setiap 40 hari di musim penghujan dan 60 hari sekali di musim kemarau dengan meninggalkan batang setinggi 10 – 15 cm dari tanah. Pemotongan yang baik, atau optimal dilakukan apabila tanaman itu mencapai tinggi ± 1 m menjelang berbunga. Admin-blora: Sri Endah M. SP.