Loading...

MENANAM MATOA SEBAGAI TANAMAN PEKARANGAN

MENANAM MATOA SEBAGAI TANAMAN PEKARANGAN
Buah matoa adalah buah yang berasal dari tanah Papua, tetapi sudah banyak dibudidayakan di Desa Wedarijaksa, Pati. Buah ini mempunyai nama latin Pometia pinnata. Penampakan buahnya sedikit lebih besar dari buah anggur serta sedikit lebih pipih, kulitnya keras, dan bergelombol, dalam satu batang dan warna kulit luarnya jika matang merah tua kecoklatan. Pohon Matoa tergolong besar, dengan diameter yang bisa mencapai 100 cm dan tinggi yang bisa mencapai lebih dari 20 meter.Selain itu buah matoa dapat dipanen hanya dua kali dalam setahun. Buah matoa kaya akan vitamin A dan vitamin E. Buah matoa juga mengandung glukosa jenuh, jadi sebaiknya tidak dimakan terlalu banyak. Dapat meningkatkan daya tahan tubuh, meringankan stress, meningkatkan kesuburan, sebagai antioksidan penangkal radikal bebas, menjaga kesehatan kulit, mengurangi resiko terkena penyakit kanker dan resiko terkena sakit jantung koroner.Budidaya pohon matoa bisa dikembangkan dengan dua cara;1. Generatif / menanam biji2. Vegetatif / pencangkokanBudidaya matoa dari biji (generatif), maka semailah biji matoa yang berasal dari buah matoa yang sudah tua. Biarkan sampai bibit sampai memiliki tinggi batang sekitar 10-15 cm, kemudian pindahkan ke polybag. Rawat bibit sampai tinggi batang sekitar 40-50 cm sebelum ditanam di lahan tanam permanen.Bibit dari hasil cangkokan (vegetatif), maka pilihlah pohon induk yang sudah terbukti menghasilkan buah dengan kualitas buah super, baik rasa maupun ketahanan terhadap penyakit. Pilih salah satu cabang pohon yang tidak terlalu tua dan tidak terlalu muda dan setelah itu mulailah mencangkok dengan cara yang benar yaitu dengan menyayat kulit untuk menghilangkan kambiumnya, kemudian tutup dengan tanah yang dibungkus dengan plastik atau sabut kelapa. Biarkan cangkokan sampai mengeluarkan akar. Setelah cangkokan mengeluarkan akar, potong dan lalu pindahkan ke polybag yang telah diisi dengan campuran tanah gembur dan pupuk kandang, kemudian rawat bibit sampai mengeluarkan banyak akar dan terlihat tanda-tanda bibit tumbuh.Penanaman, setelah bibit matoa hasil cangkokan yang ditanam ke polybag atau bibit matoa hasil semai biji sudah mencapai ketinggian 50 cm, maka bibit dapat dipindahkan ke lahan tanam permanen baik berupa pot maupun ke tanah secara langsung, dengan cara membuka polybag tempat bersemainya binih terlebih dahulu secara perlahan. Selanjutnya tanam ke lubang tanam dan tutup dengan tanah sisa galian, padatkan secara perlahan. Lakukan penyiraman setelah penanaman selesai dilakukan.Pemupukan atau pupuk dasar diberikan saat tanam. Pupuk yang digunakan adalah pupuk :¢ Pupuk Organik 5 Kg¢ NPK 1 Kg¢ Kapur 0,5 KgSemua pupuk dicampur menjadi satu dengan tanah galian, bagian atas dibiarkan selama seminggu kemudian ditanami dengan bibit matoa.Pemangkasan, dilakukan pada saat tanaman matoa berumur mencapai 3 tahun dari penanaman, hal ini bertujuan agar pohon matoa menghasilkan banyak cabang, sehingga peluang setiap cabang menghasilkan buah akan lebih besar.Pengendalian Hama dan Penyakit Tanaman, hama tanaman matoa yang sering menyerang tanaman muda ialah lalat daun, dan hama tikus kelelawar sering memakan buah yang sudah matang, serta penggerak batang yang sering ranting tanaman matoa.Penyiangan, dilakukan dengan bertujuan untuk menghilangkan herba dan rumput kecil yang dapat mengganggu pertumbuhan tanaman matoa.Pemanenan, dapat dilakukan pada umur 4 tahun dari hasil cangkokan, namun untuk budidaya matoa dari biji akan memerlukan waktu 6 tahun untuk berbuah. Buah matoa siap dipanen setelah berumur 2 bulan dari mulainya proses pembungaan. Untuk memanen dapat dilakukan dengan memotong tangkai buah matoa mengunakan gunting panen buah atau pisau tajam. Oleh : Yayuk Supriyani, SP Sumber : https://medium.com/@bantalsilikon/langkah-jitu-budidaya-tanaman-matoa-agar-berbuah-lebat-b9e67a8c7ca2https://ilmubudidaya.com/cara-menanam-pohon-matoa