Loading...

Menanggulangi Patek Pada Tanaman Cabai

Menanggulangi Patek Pada Tanaman Cabai
Pendahuluan Cerita sukses petani cabai sering kita dengar dari seantero penjuru negeri termasuk di Desa Balunijuk Kecamatan Merawang Kabupaten Bangka Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Cabai kerap menjadi “tanaman emas” yang secara cepat dapat merubah keringatpetani yang menanamnya menjadi pundi-pundi kekayaan yang secara cepat pula dapat meningkatkan kesejahteraannya. Indahnya akhir cerita petani yang sukses dalam membudidayakan tanaman cabai, ternyata tidaklah seindah fakta dilapangan yang sehari-hari mereka harus hadapi. Terbentang tantangan yang siap menghadang dan siap pula untuk menggagalkan cerita indah petani cabai mulai dari garis start hingga menjelang garis finish, mulai dari persiapan lahan hingga pasca panen cabai. Penyakit Patek Yang Merajalela Salah satu tantangan terbesar bagi petani cabai yang saat ini sangat dirasakan adalah serangan patek. Tidak ada yang dapat menyangkal bahwa antraknose atau yang lebih dikenal dengan istilah “patek” adalah penyakit yang hingga saat ini masih menjadi momok bagi petani cabai, karena bisa menyebabkan kegagalan panen cabai. Sudah banyak petani yang menjadi korban keganasan penyakit ini. Hal itu menyebabkan tanaman cabai siap panen banyak yang membusuk. Akibat penurunan produksi itu, petani mengalami kerugian karena tidak bisa mencapai panen yang optimal. Jika tanaman cabe sudah mulai terkena antraknose, maka pengendaliannya akan sulit dilakukan. Penyakit patek merupakan salah satu penyakit penting pada tanaman cabai keriting, cabai besar dan cabai rawit karena banyak mendatangkan kerugian bagi para petani. Kehilangan hasil cabai diperkirakan berkisar antara 20-90 % terutama pada saat musim penghujan. Patogen utama penyakit antraknosa pada cabai di Indonesia paling banyak disebabkan oleh jamur Colletotrichum acutatum Simmon. Penyakit antraknose yang disebabkan oleh jamur C. acutatum dapat menyerang semua fase buah cabai baik yang masak maupun yang masih muda, tetapi tidak menyerang daun dan batang tanaman cabai. Selanjutnya penyakit antraknose yang disebabkan oleh jamur C. coccodes dapat menyerang tanaman cabai di persemaian pertama kali ditemukan di Korea. Pengendalian Patek Pengendalian Penyakit Antraknosa atau Patek antara lain dapat menggunakan benih sehat, biasanya rawit lokal lebih tahan terhadap penyakit patek. Lakukan penyemprotan dengan fungisida atau agens hayati yang tepat terutama tanaman berumur 20 hari di persemaian atau 5 hari sebelum dipindahkan ke lapangan. Perawatan di lingkungan sekitar tanaman mutlak dilakukan, terutama cabang air (wiwilan), penyiangan gulma dan pengaliran air yang tergenang. Semua faktor tersebut di atas merupakan bagian dari tindakan pencegahan, yang ditujukan agar lingkungan sekitar tanaman tidak lembab, mengingat Patek (antracnose)disebabkan oleh jamur yang perkembangannya sangat didukung oleh lingkungan yang lembab. Penggunaan mulsa hitam perak, karena dengan menggunakan mulsa hitam perak sinar matahari dapat dipantulkan pada bagian bawah permukaan daun/tanaman sehingga kelembaban tidak begitu tinggi. Disamping itu penggunaan mulsa plastik untuk menghidari penyebaran spora melalui percikan air hujan. Gunakan jarak tanam yang agak lebar yaitu sekitar 65-70 cm (lebih baik yang 70 cm) dan ditanam secara zig-zag ini bertujuan untuk mengurangi kelembaban dan sirkulasi udara cukup lancar karena jarak antar tanaman semakin lebar, keuntungan lain buah akan tumbuh lebih besar. Gunakan agensia hayati antagonis atau memanfaatkan mikroba Pseudomonas fluorescens dan Bacillus subtilis. Salah satu agensia antagonis adalah dengan memanfaatkan Trichoderma spp. Hasil penelitian di laboratorium menunjukkan bahwa Trichoderma dapat menghambat laju perkembangan jamur C. acutatum penyebab penyakit antraknos. Lakukan perendaman biji dalam air panas (sekitar 55°C) selama 30 menit atau perlakuan dengan fungisida sistemik yaitu golongan triazole dan pyrimidin (0,05–0,1%) sebelum ditanam atau menggunakan agens hayati. Memusnahkan bagian tanaman, baik daun, batang atau buah yang terinfeksi. Lakukan penggiliran (rotasi) tanaman dengan tanaman lain yang bukan famili solanaceae (terong, tomat dll.) atau tanaman inang lainnya. Tambahkan unsur Kalium dan Kalsium untuk membantu pengerasan buah cabai. Jangan gunakan pupuk nitrogen (N) terlalu tinggi, misal pupuk Urea, Za, ataupun pupuk daun dengan kandungan N yang Sebaiknya gunakan pupuk dasar NPK yang rendah Kandungan nitrogennya dengan kocoran karena unsur N akan membuat tanaman menjadi rimbun yang akan meningkatkan kelembaban di sekitar tanaman. Pengelolaan drainase yang baik terutama di musim penghujan, dengan cara meninggikan guludan tanah. Penggunaan fungisida secara bijaksana dengan memilih fungisida yang berbahan aktif Prokloraz mangan klorida kompleks 50%, Mankozeb, Propineb, Fenarimol, Triazole, Klorotalonil atau yang lainnya. Diaplikasikan sesuai dosis khususnya pada periode pematangan buah dan terutama saat curah hujan cukup tinggi. Fungisida diberikan secara bergilir untuk satu penyemprotan dengan penyemprotan berikutnya, baik yang menggunakan fungisida sistemik atau kontak atau bisa juga gabungan keduanya. Ditulis Oleh : Feriadi, S.P. (BPTP Kep. Bangka Belitung) Sumber Bacaan : Hasyim, A, Setiawati, W, dan Liferdi. 2014. Teknologi Pengendalian Penyakit Antraknos Pada Tanaman Cabai. Balai Penelitian Tanaman Sayuran Jl. Tangkuban Parahu No. 517, Lembang-Bandung Barat Pengendalian Penyakit Antraknose Pada Tanaman Cabai http://www.litbang.pertanian.go.id/info-teknologi/2630/. Sumber Gambar : Koleksi Feriadi, SP