Kambing adalah satu dari sekian banyak ternak peliharaan yang terkenal dan banyak dibudidayakan oleh masyarakat Indonesia. Hal ini tidaklah mengherankan, karena banyak keunggulan yang dimiliki hewan yang terkenal takut dengan air ini. Selain dapat menghasilkan susu yang penuh khasiat dan bergizi tinggi, kambing juga menghasilkan kulit yang sering digunakan sebagai bahan baku perlengkapan sehari-hari. Misalnya saja, jaket, tas, sepatu, ikat pinggang dan sebagainya. Limbahnya berupa kotoran, kompos atau sisa pakan pun tidak kalah manfaatnya. Limbah ini dapat digunakan para petani sebagai pupuk organik bagi tanaman. Dan, yang paling penting dari semua hasil produksinya adalah daging. Daging kambing terkenal dengan rasanya yang khas. Sehingga, tidaklah berlebihan kalau di berbagai acara pesta pada umumnya, aneka kuliner yang berbahan baku daging kambing selalu diserbu karena dianggap termasuk sajian menu yang bergengsi. Cara pemeliharaannya pun sebenarnya relatif tidak sulit. Disamping mudah beradaptasi dengan kondisi lingkungan yang serba terbatas, kambing juga tidak membutuhkan pakan yang khusus. Dan, seperti halnya ternak ruminansia pada umumnya, yang paling penting dalam pemeliharaan kambing ini adalah penanganannya yang serius serta mengikuti tahapan dan metode yang benar. Salah satu di antaranya yaitu saat menentukan masa perkawinannya. MENENTUKAN MASA PERKAWINAN Secara umum, kambing betina mulai dewasa pada umur 6-8 bulan. Pada usia tersebut kambing sudah bisa dikawinkan. Namun, tidak semua kambing mengalami hal yang sama. Untuk kambing PE misalnya, perkawinan pada usia tersebut harus dihindari karena alat reproduksinya belum berkembang secara sempurna. Sebaiknya masa perkawinannya ditangguhkan hingga mencapai umur antara 15-18 bulan. Untuk menghindari perkawinan pada muda usia, pemeliharaan kambing betina dipisahkan sejak usia 5 bulan. Di dalam kandang maupun di tempat penggembalaan, kambing betina sebaiknya juga dipisahkan dari kambing jantan. Kandang kambing jantan diupayakan cukup luas sehingga kambing dapat bergerak lebih leluasa, tetap kuat dan aktif. Kambing sebaiknya dimandikan satu kali dalam seminggu, terutama jika hari panas. Pakannya juga harus diperhatikan, jangan sampai tubuhnya berkembang terlalu gemuk. Kambing jantan yang gemuk tidak bisa dijadikan pejantan yang baik karena akan menjadi pemalas dan nafsu kawinnya kurang. Kambing jantan siap dikawinkan pada usia 6-8 bulan. Sejak saat itu, kambing jantan telah mampu mengawini kambing betina dewasa. Khusus untuk kambing PE baru menjadi pejantan yang baik jika usianya telah mencapai antara 10-18 bulan. Perkawinan kambing jantan dan betina harus diatur agar tidak terlalu lelah. Satu ekor pejantan dapat mengawini 20-25 ekor betina. Dalam sehari pejantan dapat melakukan perkawinan hingga 4-5 kali, dengan frekuensinya sebanyak 2-3 hari dalam seminggu. Pejantan yang baik selalu dalam keadaan birahi. Siap menerima rangsangan atau apabila mencium bau kambing betina yang berada tidak jauh darinya maka birahinya akan langsung bangkit. Kambing jantan yang digunakan sebagai pejantan harus dirawat dengan baik dan diberi pakan bermutu yang mencukupi jumlahnya. Pejantan hanya dapat memberikan keturunan yang baik sampai umur 8 tahun. Lewat dari usia itu, pejantan dianggap sudah tua, sehingga harus diapkir dan diganti pejantan lain yang usiannya lebih muda. Masa perkawinannya harus diperhatikan. Sebaiknya tidak mengawinkan kambing tepat 5 bulan sebelum musim hujan. Hal ini dimaksudkan agar anak tidak dilahirkan pada musim hujan yang sangat lebat. Kalau kambing jantan tidak mau mengawini betina pasangannya, sebaiknya kambing betina yang tidak disukai itu dicarikan pejantan lain untuk mengawininya. Perkawinan antara kambing jantan dan betina bisa diatur sehingga dapat diramalkan saatnya produksi ternak dapat diperoleh. Kambing betina yang sudah dewasa dan siap kawin selalu menunjukan tanda-tanda birahi. Tanda itu berupa sering mengembik tanpa sebab, menggosok-gosokkan pada dinding kandang atau kayu, gelisah, nafsu makannya berkurang, ekornya dikibas-kibaskan, sering berkemih, bibir kemaluan agak membengkak, selaput bagian dalam agak kemerah-merahan, dan keluar lendir yang jernih. Masa birahi itu berlangsung sekitar 16-20 jam dan berulang setiap 3 minggu. Jika tanda-tanda birahi sudah terlihat, sebaiknya kambing betina segera dikawinkan. Kambing yang birahi segera dimaksukan ke dalam kandang pejantannya. Induk betian yang benar-benar birahi kalau dilepas dekat pejantan tidak akan menghindar. Sebaiknya tali pengikat jantan dipegangi, agar proses perkawinannya berlangsung aman. Ukuran pejantan sebaiknya lebih besar dari betina yang dikawini sehingga proses perkawinan tidak sulit. Usahakan pejantan mengawini pasangannya dua kali berturut-turut. Setelah kawin, betinanya diajak berjalan-jalan agar sperma yang diterimanya tidak tumpah keluar. Untuk mengetahui berhasil tidaknya perkawinan, dapat dilihat dari tingkah laku betinanya. Apabila betina masih menyimpan birahi biasanya ia akan membiarkan dirinya didekati. Namun, jika pada hari berikutnya setelah perkawinan terjadi perubahan dimana betina menjauhi pejantan yang mendekatinya maka kemungkinan kambing betina tersebut sudah bunting. (Inang Sariati). Sumber Informasi: 1. Tony Setiawan dan Arsa Tanius, Beternak Kambing Perah Peranakan Ettawa, Penebar Swadaya, 2007 2. Petunjuk Teknis, Potensi Beberapa Plasma Nutfah Kambing Lokal Indonesia, Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Departemen Pertanian, 2009