Kacang Hijau (Vigna radiata) termasuk ke dalam kelompok tanaman kacang-kacangan (leguminose) yang memiliki kandungan protein yang tinggi, asam lemak essensial, antioksidan dan mineral. Dalam 100 gr kacang hijau mengandung 23 gr protein. Nilai tersebut ternyata jauh lebih tinggi bila dibandingkan dengan kandungan protein pada beras, jagung, dan gandum. Ketiga bahan makanan pokok tersebut hanya berisi protein sebesar 7,6 gram, 9,8 gram, dan 7,3 gram protein per 100 gram-nya. Hal inilah yang diyakini kalau kacang hijau bisa menjadi solusi mengatasi ketahanan pangan dan diversifikasi pangan. Selain itu, kacang hijau tersedia cukup banyak di Indonesia, sehingga mudah diperoleh dan harganya pun terjangkau. Kacang hijau umumnya dikonsumsi dalam bentuk kecambah. Ada pula yang mengolahnya menjadi berbagai macam produk pangan seperti bubur kacang hijau, bahan isian onde-onde dan pia, serta diolah lebih lanjut menjadi tepung hunkue yang digunakan untuk membuat kue dan soun. Sampai saat ini, produksi kacang hijau nasional hanya 207.169 ton sedangkan kebutuhan kacang hijau mencapai 304.000 ton, sehingga untuk memenuhi kebutuhan kacang hijau dilakukan impor. Belum mencukupinya produksi kacang hijau, disebabkan masih rendahnya produktivitas kacang hijau di tingkat petani hanya 10,79 ku/ha. Salah satu faktor rendahnya produktivitas kacang hijau adalah adanya serangan organisme pengganggu tanaman (OPT) terutama penyakit bercak daun yang merupakan penyakit utama pada tanaman kacang hijau. Diseluruh sentra produksi kacang hijau di Indonesia, penyakit bercak daun ini telah menyebar, demikain juga di Asia seperti Filipina, Malaysia, Thailand, India, Bangladesh, dan Pakistan. Kehilangan hasil akibat penyakit bercak daun dapat mencapai 60%. Untuk itu diperlukan pengendalian secara dini agar penurunan produksi akaibat penyakit bercak daun tidak terjadi. PENYEBAB DAN GEJALA PENYAKIT BERCAK DAUN Penyakit bercak daun disebabkan oleh cendawan Cercospora canescens dan Cercospora cruenta, tetapi C. canescens lebih banyak ditemukan di lapangan. Gejala penyakit yaitu daun terdapat bercak berwarna coklat, atau coklat kemerahan, berbentuk bulat, atau tidak teratur yang pusatnya kelabu atau putih, ukuran bervariasi tergantung pada jenis isolate jamur dan tanaman inangnya. Bercak-bercak ini dapat bertambah besar dan kemudian menyatu sehingga bercak menjadi lebih besar dan mengakibatkan daun mengering dan rontok. Defoliasi awal ini akan menyebabkan penyusutan ukuran polong dan biji. Seluruh fase pertumbuhankacang hijau peka terhadap serangan jamurini. Dilapangan, umumnya gejala penyakit timbul pada umur 30 - 35 hari setelah tanam. PENGENDALIAN PENYAKIT BERCAK DAUN Pengendalian penyakit ini dapat dilakukan dengan : Menanam varietas tahan Beberapa varietas yang agak tahan bercak daun (Kenari, Perkutut, Vima 4 dan Vima 5) dan tahan bercak daun (Merpati, Sriti). Pemberian pupuk sesuai rekomendasi Pergiliran tanaman dengan tanaman bukan inangnya, Sisa-sisa tanaman saat panen digunakan sebagai kompos supaya tidak berperan sebagai sumber inokulum, Penyemprotan fungisida nabati dapat menggunakan larutan lengkuas, dan Menggunakan fungisida : tepung belerang 3 kg/ha dengan interval 10 hari dimulai pada waktu gejala muncul atau Benlate 50 WP dengan interval 10 hari pada umur 30 – 50 hari sebanyak 0,5 gr/liter air. Dapat juga Benlate 50 WP sebanyak 1 cc/liter air disemprotkan pada tanaman pada waktu berumur kira-kira 3 minggu (Quebral, 1978 dalam Sri Hardiningsih et al., 1993). Perpaduan dari beberapa cara pengendalian tersebut di atas. Pestisida Nabati Lengkuas Lengkuas (Alpinia galanga L.) merupakan anggota familia Zingiberaceae. Rimpang lengkuas memiliki berbagai khasiat di antaranya sebagai anti jamur dan anti bakteri. Lengkuas mengandung bahan aktif Sineol, Pipena, Kamfor, dan Metil Cinamat yang berperan sebagai antibiotic Pestisida Lengkuas memiliki beberapa kelebihan yaitu: Bahan baku lengkuas mudah diperoleh, Mudah dan sederhana pembuatannya, Tidak mencemari lingkungan, Tidak meninggalkan residu di dalam tanaman, dan Tidak menimbulkan resistensi terhadap cendawan penyebab bercak daun Cara Pembuatan dan Aplikasi Pestisida Lengkuas Rimpang lengkuas dibersihkan dan dikupas, 400 gram (4 ons) lengkuas diiris-iris dan diblender kemudian disaring. Ditambahkan air hingga mencapai 4 liter ke dalam filtrat larutan, volume tersebut ditambah hingga mencapai satu tangki alat semprot 12 liter. Penyemprotan ekstrak lengkuas pada umur 4, 5, 6, dan 7 minggu setelah tanam. Aplikasi pestisida nabati ini dapat menekan intensitas penyakit bercak daun pada kacang hijau sebesar 60%. DAFTAR PUSTAKA. Anonim, 2019. Permintaan Tinggi, produksi Kacang Hijau nasional terus Digenjot. https://www.tribunnews.com/bisnis/2019/11/13/permintaan-tinggi-produksi-kacang-hijau-nasional-terus-digenjot Balitkabi, 2019. Penyakit Bercak Daun Pada Tanaman Kacang Hijau (Vigna radiata). http://balitkabi.litbang.pertanian.go.id/infotek/penyakit-bercak-daun-pada-kacang-hijau-vigna-radiata/ Hardiningsih, S., Y. Baliadi dan Nasir S., 1993. Penyakit Kacang Hijau dan Penanggulangannya. Monograf Balittan Malang No. 9, Kacang Hijau. ISSN 0215 – 1650. Balai Penelitian Tanaman Pangan Malang. Kementerian Pertanian, 2019. Statistik Pertanian 2019. Jakarta Penyusun : Ir. Sari Nurita (Penyuluh BPTP Kalimantan Barat)