Cara menanam padiuntuk produksi benih secara mandiri tentunya harus baik dan benar dan sangat penting untuk diketahui oleh para petani penangkar benih guna meningkatkan hasil produksi benih padi setiap masa panen datang karena permintaan benih yang tidak pernah menurun. Hal ini membuat para petani penangkar harus dapat melakukan berbagai hal untuk menghasilkan benih padi yang baik. Tujuannya tentu saja demi terpenuhinya seluruh kebutuhan benih dalam negeri. Untuk itu, para petani penangkar seharusnya memiliki pengetahuan dasar terkait cara penanaman padi yang baik dan benar agar hasil benihpun sesuai yang diharapkan. Berikut cara menanam padi untuk produksi benih yang baik dan benar Penanaman Pada Sawah Irigasi.Bibit yang ditanam berjumlah 1 – 3 bibit per tancap dengan menggunakan bibit muda berumur antara 10 – 15 hari. Penggunaan bibit muda dapat menekan stres bibit pada saat dipindah dan dapat menghasilkan jumlah anakan yang lebih banyak sehingga penggunaan benih dapat dihemat. Pengaturan tanaman dilahan pertanaman dapat dilakukan dengan berjajar atau segi empat yang selanjutnya dikenal dengan istilah legowo dan tegel. Legowo; Cara tanam jajar legowo untuk padi sawah secara umum bisa dilakukan dengan berbagai tipe yaitu: legowo (2:1), (3:1), (4:1), (5:1), (6:1) atau tipe lainnya. Namun dari hasil penelitian, tipe terbaik untuk mendapatkan produksi gabah tertinggi dicapai oleh legowo 4:1, dan untuk mendapat bulir gabah berkualitas benih dicapai oleh legowo 2:1. Pengertian jajar legowo 4 : 1 adalah cara tanam yang memiliki 4 barisan kemudian diselingi oleh 1 barisan kosong dimana pada setiap baris pinggir mempunyai jarak tanam >2 kali jarak tanam pada barisan tengah. Dengan demikian, jarak tanam pada tipe legowo 4 : 1 adalah 20 cm (antar barisan dan pada barisan tengah) x 10 cm (barisan pinggir) x 40 cm (barisan kosong). Pengertian jajar legowo 2 : 1 adalah cara tanam yang memiliki 2 barisan kemudian diselingi oleh 1 barisan kosong dimana pada setiap baris pinggir mempunyai jarak tanam 1/2 kali jarak tanam antar barisan. Dengan demikian, jarak tanam pada tipe legowo 2 : 1 adalah 20 cm (antar barisan) x 10 cm (barisan pinggir) x 40 cm (barisan kosong). Modifikasi jarak tanam pada cara tanam legowo bisa dilakukan dengan berbagai pertimbangan. Secara umum, jarak tanam yang dipakai adalah 20 cm dan bisa dimodifikasi menjadi 22,5 cm atau 25 cm sesuai pertimbangan varietas padi yang akan ditanam atau tingkat kesuburan tanahnya seperti contoh dibawah ini. Tujuan cara tanam legowo adalah : a. Memanfaatkan sinar matahari bagi tanaman yang berada pada bagian pinggir barisan. b. Mengurangi kemungkinan serangan hama, terutama tikus. c.Menekan serangan penyakit. d.. Mempermudah pelaksanaan pemupukan dan pengendalian hama / penyakit. e. Menambah populasi tanaman. Teknik Penerapan : a. Pembuatan Baris Tanam ;Persiapkan alat garis tanam dengan ukuran jarak tanam yang dikehendaki. Bahan untuk alat garis tanam bisa digunakan kayu atau bahan lain yang tersedia serta biaya terjangkau. Lahan sawah yang telah siap ditanami, 1-2 hari sebelumnya dilakukan pembuangan air sehingga lahan dalam keadaan macak-macak. Ratakan dan datarkan sebaik mungkin. Selanjutnya dilakukan pembentukan garis tanam yang lurus dan jelas dengan cara menarik alat garis tanam yang sudah dipersiapkan sebelumnya serta dibantu dengan tali yang dibentang dari ujung ke ujung lahan. b. Tanam; Penanaman dilakukan pada perpotongan garis yang sudah terbentuk. Cara tanam sebaiknya maju agar perpotongan garis untuk lubang tanam bisa terlihat dengan jelas. Namun apabila kebiasaan tanam mundur juga tidak menjadi masalah, yang penting populasi tanaman yang ditanam dapat terpenuhi. Pada alur pinggir kiri dan kanan dari setiap barisan legowo, populasi tanaman ditambah dengan cara menyisipkan tanaman di antara 2 lubang tanam yang tersedia Tegel; Disebut “tegel” karena penempatan tanaman kelihatan seperti susun tegel rumah dimana jarak sisinya sama misalnya 20 X 20 cm atau 25 X 25 cm. Untuk varietas padi yang memiliki jumlah anakan relative sedikit atau pada lahan yang kurang subur bisa menggunakan jarak tanam yang lebih rapat (20 X 20 cm), sebaliknya untuk varietas yang memiliki jumlah anakan relative lebih banyak atau pada lahan yang subur dapat digunakan jarak tanam yang lebih longgar. Pada jarak tanam ini total populasi per satuan luas lebih rendah dibandingkan dengan legowo. Bibit dipindahkan ke pertanaman pada saat berumur 10-15 hari setelah semai (bila lokasi tanam tidak ada gangguan keong emas) atau antara umur 15-21 hari setelah semai. Bibit yang ditanam sebaiknya mempunyai umur fisiologi bibit yang sama. Jarak tanam 25 x 25 cm atau 20 x 20 cm,tersebut tergantung juga varietas yang ditanam, dengan 1 bibit/lubang. Setelah tanam pertanaman diairi sekitar 2-3 cm selama 3 hari untuk mendorong pertumbuhan anakan baru, kemudian air pada petakan dibuang sampai kondisi macak-macak dan dipertahankan selama 10 hari. Penyulaman dilakukan pada 7 hari setelah tanam dengan menggunakan bibit dari varietas dan umur yang sama. Tanam Benih Langsung (Tabela) Penanaman padi secara langsung (Tabela) membutuhkan benih sekitar satu setengah kali lebih banyak dibandingkan dengan cara tanam pindah, kebutuhan benih mencapai 30-40 kg/ha. Oleh karenanya, benih yang akan ditanam harus bermutu baik. Sebelum benih disebar terlebih dahulu diredam air selama + 12 jam dan dianginkan selama + 12 jam. Kemudian benih dapat disebar di petak sawah dengan menggunakan Atabela (Alat tanam benih lansung) dan jarak tanam 20 X 30 X 20 cm. Keuntungan dan kelemahan sistem Tabela 1.Keuntungan a. . Masa produksi lebih pendek, 7-10 hari lebih cepat dari tanam pindah (Tapin).b.Menghemat tenaga kerja;c. Menghemat penggunaan air; d. Meningkatkan hasil persatuan luas; e. Jumlah anakan tidak produktif menurun2.Kerugian; a.Resiko kerebahan tanaman tinggi; b. Tingkat kerusakan tanaman oleh hama tikus cukup tinggi; 3. Kebutuhan benih relatif banyak; c. Pengolahan tanah harus sempurna. Penanaman Padi Gogo Penanaman: Penanaman padi gogo pada dasarnya dapat dilakukan dengan tiga macam cara yaitu : Cara tanam disebar; Cara tanam ini dilakukan dengan menyebar rata diatas permukaan tanah atau lahan yang telah dipersiapkan terlebih dahulu. Kebutuhan benih pada cara ini biasanya lebih banyak dibandingkan cara yang lain, yaitu berkisar 60 – 70 kg/ha. Cara tanam ini mempunyai keuntungan tenaga kerja tanam yang dibutuhkan sedikit. Kelemahan dari cara ini antara lain: a.Memerlukan benih lebih banyak;b. Resiko benih dimakan hama lebih tinggi, karena di permukaan;c.Tanaman lebih peka terhadap kekeringan atau kekurangan air.d.Resiko benih hanyut jika terjadi hujan lebat lebih tinggi d. Lebih sulit dalam perawatan, termasuk pengendalian gulma. Untuk mengurangi resiko atau kelemahan tersebut maka perlu dilakukan antisipasi seperti: pembuatan saluran drainase atau parit-parit sehingga terbentuk bedeng-bedeng untuk mencegah genangan air. Guna mengendalikan rumput sebaiknya diaplikasikan herbisida pra tumbuh sebelum sebar benih. Penggunaan seed treatment untuk menanggulangi hama. Cara tanam alur: Lahan yang telah dipersiapkan dibuat alur-alur sedalam 3 – 4 cm, dengan jarak antar alur 20 – 25 cm. Kemudian dalam alur tersebut disebarkan benih padi secara iciran, artinya benih padi dijatuhkan secara manual dengan tangan dan diatur sedemikian rupa sehingga benih jatuh dalam alur tersebut secara merata. Setelah itu benih dalam alur ditutup kembali dengan tanah. Kebutuhan benih cara tanam alur ini berkisar antara 40 – 50 kg/ha, jadi lebih sedikit dibandingkan dengan sistem sebar. Cara tanam tugal: Pada cara tanam ini lahan yang sudah siap dibuat lubang-lubang tanam dengan menggunakan tugal. Pada umumnya untuk pertanaman padi gogo menggunakan jarak tanam 20 x 20 cm. Setelah lubang bekas tugal terbentuk kemudian 2 – 3 butir benih dimasukkan ke dalam setiap lubang tanam dan selanjutnya ditutup kembali dengan tanah. Sebaiknya sebelum ditanam benih direndam sekitar 6 – 12 jam, kemudian dikeringanginkan sekitar 6 – 12 jam. Pada cara tanam dengan tugal ini kebutuhan benihnya ± 30 kg/ha, dan perawatan tanaman akan lebih mudah. Oleh karena itu cara ini yang paling banyak dipraktekkan oleh petani meskipun memerlukan tenaga kerja tanam lebih banyak dibandingkan cara sebat atau alur. Jarak tanam atau jarak antar larik dan jumlah benih/lubang/ha sangat tergantung pada tingkat kesuburan tanah dan kualitas benih yang ditanam. Semakin subur tanah, jarak tanam dapat semakin rapat. Demikian pula, semakin baik kualitas benih, maka semakin sedikit jumlah benih yang diperlukan. Jarak tanam, jumlah benih dan cara tanam dapat berpengaruh terhadap hasil padi gogo di lahan kering Waktu tanam yang baik ialah bila curah hujan sudah mencapai 200 mm/bulan atau sekitar 60 mm/dekade dengan 2 - 3 hari hujan. Penentuan waktu tanam dapat juga didasarkan pada kedalaman basah tanah, yaitu bila tanah telah basah pada kedalaman 10 -20 cm dari permukaan tanah, maka sudah dapat dilakukan tanam padi gogo. Tanam padi gogo dapat dilakukan dalam larikan, terutama untuk daerah yang datar. kedalaman larikan hendaknya 3 - 5 cm. bila hujannya tetap dan hari hujan merata, maka benih yang ditanamkan akan cepat tumbuh. Pada daerah berlereng, cara tanam padi gogo yang aman adalah dengan sistem tugal, karena benih dapat berada di kedalaman 4 - 5 cm dengan kelembaban tanah yang cukup setelah itu lubang tugalan di timbun. Tanam tugal dapat mengantisipasi hilangnya benih akibat run off saat ada hujan. Alat dan Bahan; Alat yang digunakan yaitua) Tugal, c) Caplak roda, e) Tali rafiab) Rice transplanter,d) Garet, d) Sarung tangan. Bahan yang digunakan yaitu : Bibit/benih tanaman yang mau ditanam. Yulia T S. yuliatrisedyowati@gmail.com Daftar Pustaka: I Ketut Siadi I Gusti Ngurah Raka, 2017, Penataan Sistem Perbenihan Untuk Menunjang Revitalisasi Perbenihan Tanaman Pangan Di Bali, Fakultas Pertanian Universitas Udayana Denpasar Bali https://media.neliti.com/media/publications/55241-ID-sistem-perbenihan-padi-dan-karakteristik.pdf Modul Produksi Benih Secara Mandiri, 2021, Program IPDMIP