MENGEMBANGKAN AGRIBISNIS BELAJAR DARI NEGERI TIONGKOK Rasullah SAW, berpesan " Tuntutlah ilmu hingga ke negeri china, " bukankah ketika beliau menyampakan hal ini berarti memang ada banyak ilmu yang kita pelajari dari China dan orang-orang China. Negeri China, yang dulu disebut Tiongkok, dirubah bentuk kerajaannya oleh Dokter Sun Yat Sen menjadi Republik (1911). Seluruh wilayah China berhasil disatukan oleh Jenderal Chiang Kai Shek (1928). Sejak tahun 1928, Mao Ze Dong tak ketinggalan melakukan kebijakan radikal dengan menggalang pemuda dan petani sebagai kekuatan revolusi nasional China. Puncaknya, adalah dengan proklamasi Republik Rakyat China (RRC) tanggal 1 Oktober 1949. Menarik sekali ternyata ilmu banyak lahir dari negeri Panda ini, pada tahun 1990, Kementerian China menggagas dan memperkenalkan konsep Green Agriculture and Green food atau Teknologi Pertanian Hijau, yang dimatangkan pada tahun 1992. Hanya dalam waktu 15 tahun produksinya green food sudah mencapai 75 juta ton. Ketentuan Green Agriculture tidak serumit GAP (Good Agriculture Practice. Petani tidak perlu mencatat segala kegiatan proses produksi, produk Green Food tidak mempersyaratkan dapat ditelusuri asal usul produk yang telah dibeli, tetapi Green Food memberikan jaminan aman konsumsi, dan sistem produksinya ramah lingkungan dan berkelanjutan. Pokok ketentuan Green Agriculture di China, antara lain; 1) Menggunakan varietas yang dianjurkan; 2) Sistem produksi mengikuti ketentuan baku/SOP; 3) Penggunaan Agrokimia dilakukan secara rasional, dan tepat, dengan residu minimal; 4) Mengutamakan daur ulang limbah pertanian dan penggunaan pupuk organik; 5) Mencegah polusi, cemaran, paparan residu agrokimia terhadap lingkungan, biota dan pelaku usahatani; 6) Melakukan tindakan konservasi tanah, sumber air, dan air; 7) Hemat energi, mengutamakan energi terbarukan; 8) Memelihara keanekaragaman hayati dan keragaman genetik tanaman; dan 9) Mempraktekan rotasi tanaman (Sumarno, Puslitbang Tanaman Pangan, Bogor, Sinta; 11-17 Agustus 2010, No.3367, Tahun XL). Disamping itu masih ada Konsep yang diluncurkan oleh Prof. Bao Jianzhong kepada Deng Xiaoping yang merupakan pemimpin rakyat China pada tahun 1986, yaitu White Agriculture adalah konsep di bidang pertanian di RRC yang memanfaatkan mikroorganisme dalam meningkatkan produksi pertanian, baik di tanaman, peternakan, maupun perikanan. Pada Abad ke-21 ini negara China merupakan negara besar dunia yang memiliki jumlah penduduk terbesar didunia menghadapi permasalahan besar, karena harus memberi makan 1,6 milyar penduduknya dan pada saat yang bersamaan juga harus meningkatkan kehidupan mereka . China memiliki wilayah luas, tetapi tidak semua wilayah dapat ditanami di semua musim, dibagian utara termasuk daerah Sub-tropis yang memiliki 4 musim, pada saat musim dingin tidak dapat ditanami. China sebagian besar penduduknya petani, dimana lahan yang dimiliki rata-rata tidak terlalu luas, dan mereka harus menyediakan bahan makanan bagi penduduk yang banyak, tentu harus dilakukan intensifikasi agar produktivitas tinggi (RR Suharyati, POPT Ahli Madya Subdit Pengendalian Hama pada Direktorat Perlintanbun, Ditjenbun, Sinta Edisi, 20-26 April 2005,No. 3095, Tahun XXXV). Jika kini bangsa China sukses dalam meraup kekayaan materi, sejatinya kita jangan hanya melihat sekarang tetapi lihatlah proses awal dan perjuangan hidup mereka yang selalu diwarnai kerja keras, tangguh, dan pantang meyerah. Yang menarik, ekonomi......ekonomi....... ekonomi......Itulah yang menjadi perhatian, pembicaraan dan kegiatan masyarakat Negeri Tirai Bambu tersebut. Jadi bukan politik, apalagi politik praktis. Wakil Presiden RI Boediono,yang baru-baru ini melakukan muhibah ke negeri RRC, beliau menyatakan kagum terhadap sikap disiplin, kerja keras, dan cinta tanah air yang kuat dimiliki rakyat Tiongkok. Menurut beliau, sikap itu menjadi motor utama kamajuan industri Negeri Panda tersebut saat ini. Kombinasi faktor-faktor itu telah membuat Negeri berpenduduk lebih 1,3 milyar tersebut, menikmati pertumbuhan ekonomi yang mengundang kekaguman Negara-negara manapun didunia, hal tersebut disampaikan dalam Acara Pembukaan Seminar Dialog Bisnis Strategi Indonesia -China/ Jawa Pos 1 Mei 2011). Disamping itu, prihatin sebagai motivasi perjuangannya, apabila anak-anak kita menjadi seorang yang ingin sukses kondisikan hidupnya dengan keprihatinan agar anak-anak merasakan perjuangan hidup yang berat dan mereka memiliki daya juang yang tinggi. Terdapat kesan pada umumnya orang tua kita kurang mendorong dan menumbuhkan perilaku hidup mandiri pada kita. Ada sifat lain yang dimiliki mereka, yaitu menjaga kepercayaam, karena kepercayaan adalah asset yang sangat berharga dalam beragribisnis, dan sekaligus menunjukkan nilai kepribadian seseorang, serta ditopang oleh kejujuran yang merupakan syarat mutlak lahirnya kepercayaan. Selalu berkata, bersikap, dan berbuat jujur berarti menjaga kepercayaan dapat terjaga. Dengan menjaga kepercayaan berarti sama dengan merintis masa depan yang gemilang. Jangan lupa, mereka saling mendukung, orang-orang China mempunyai orientasi kelompok yang kuat. Artinya, individu tidak bekerja semata-mata untuk mencari keuntungan pribadi, melainkan untuk mecari peningkatan kesejahteraan keluarga dan kelompoknya. Sikap indiviualistis merupakan pelanggaran atas orientasi bisnis mereka. Ikatan sebagai sesama orang-orang China begitu kental terjalin. Mereka juga pernah tertekan dan bangkrut, dulu etnis China pernah mengalami masa sulit, mencari pekerjaan sulit, mereka tidak boleh menjadi pegawai negeri. Kondisi demikian telah mendorong mereka Survive dan bangkit menjadi pribadi-pribadi kreatif untuk bertahan hidup. Selain itu, mereka memiliki mentalitas kaum perantauan, dan mereka juga memiliki percaya diri, orang -orang China memiliki rasa percaya diri yang tinggi. Hal ini,terbukti dengan keberanian mereka merantau di negeri orang yang belum pasti ada jaminan kehidupan yang lebih baik. Meskipun mereka kelompok minoritas dinegeri ini, mereka percaya diri terhadap apa yang mereka miliki. Siapa yang berusaha pasti berhasil, terlepas hasilnya kecil ataupun besar. Ada 12 Strategi China dalam Menerapkan Kearifan China Kuno pada Dunia Usaha Strategi 1, antara lain; (1) Mengelabui langit agar mau menyeberang laut; strategi ini bertolak dari asumsi bahwa orang-orang sangat berhati-hati apabila dihadapkan dengan situasi baru atau sukar, tetapi cenderung menjadi lengah dalam situasi-situasi yang lebih familiar. Contoh kasus ini berhasil diterapkan di Singapura, yakni; 1) Komunikasi, sangatlah penting untuk memperlancar perubahan,apa, kapan, dan mengapa-nya dari perubahan itu harus dijelaskan; 2) Para anggota/karyawan harus dilibatkan dalam rencana perubahanitu, antara lain dengan mendorong mereka untuk mengemukakan gagasan dan saran; 3) Mekanisme umpan balik yang memadai harus dibangun untuk melawan rasa takut dan memadamkan rumor; 4) Perubahan-perubahan yang dsilakukan haruslah sesuatu yang bisa diterima. Perubahan yang dikembangkan secara bertahap dirasakan kurang menyakitkan dan lebih bisa diterima terutama sekali dalam situasi-situasi dimana waktu tidak merupakan kendala; dan 5) Iklim kepercayaan amatlah penting. Disinilah tempatnya, dalam konteks organisasi bisnis,dimana diperlukan kepemimpinan yang sensitif dan peduli, yang disertai hubungan-hubungan internal yang baik juga mempermudah pengembangan iklim kepercayaan. (2) Adopsi produk dan Jasa, antara lain; 1) Masa percobaan gratis dengan jaminan uang kembali. Semakin banyak pemasar yang mengiklankan produk-produk mereka melalui media massa menggunakan teknik ini; 2) Pelajaran-pelajaran gratis atau berbiaya rendah tentang penggunaan produk/jasa; 3) Memperbolehkan produk dibeli sepotong-potong, sehingga pelanggan/konsumen dapat membeli produk secara bertahap sesuai kemampuan keuangan mereka. Strategi 2. Mengepung Wei untuk menyelematkan Zhao. Stretgi ini menyarankan bahwa untuk memenangkan persaingan kita tidak perlu berhadap-hadapan muka dengan pesaing kita, antara lain; 1) Merubah titik-titik kontak yang lemah pada kompetitor; 2) Memilih wilayah-wilayah yang diabaikan kompetitor; dan contoh yang cukup menarik dari Mr. Heng Presiden Real Estate Singapura, dengan " Strategi Mengepung Wei (mendorong naik harga-harga penjualan lahan baru) untuk menyelamatkan Zhao (mencegah terjadinya penyesuaian-penyesuaian harga proferti kebawah) telah berjalan dengan baik demi keuntungan para pengembang. Strategi 3. Membunuh dengan sebilah pisau pinjaman,pada hakekatnya, ia menganjurkan digunakannya orang atau pihak lain untuk memperoleh keuntungan buat usahanya. Strategi ini digunakan apabila seseorang kekurangan akan sumber-sumber daya untuk mencapai tujuan. Maka iapun memanipulasi pihak yang lebih kuat, dengan tanpa disadarinya, untuk menjalankan rencananya. Strategi 4, Menyimpan tenaga, sementara musuh menguras tenaga. Strategi ini menggunakan teori " Memanfaatkan Si lembut (lemah) untuk mengendalikan Si kuat " untuk memperlambat dan melelahkan musuh dan memperkuat posisi kita. Strategi ini menganjurkan diperolehnya suatu kemenangan dengan cara menunggu sabar sampai musuh terkuras tenaganya. Beberapa siasat jitu, antara lain " Pukul pada waktu yang tepat. Orang-orang Jepang ahlinya dalam teori ini. Pada tahun 1960-an dan 1970-an, banyak perusahaan Jepang lemah dibanding raksasa-raksasa Barat. Ketimbang melawan para saingan itu secara berhadap-hadapan muka, pengusaha-pengusaha manufaktur Jepang menunggu dan memilih untuk berkompetisi dalam wilayah-wilayah produk dimana para pesaingnya lemah atau dimana tidak terjadi persaingan. Strategi 5. Menjarah rumah yang sedang terbakar. Strategi ini menganjurkan agar seseorang mengambil keuntungan dari pesaing pada saat mereka berada dalam bahaya. Waktu yang terbaik untuk menghabiskan pesaing adalah pada saat mereka mengalami kekalutan. Strategi 6. Gayanya seperti hendak ke timur tahu-tahunya menyerang ke barat. Menyembunyikan maksud sebenarnya. Dalam dunia usaha desas -desus sering dipakai untuk mengalihkan perhatian dan menyesatkan para pesaing dan pasar. Strategi 7. Menciptakan sesuatu yang berharga dari sesuatu yang tak berarti. Skema menciptkan sesuatu berharga dari sesuatu yang tak berarti dasarnya adalah pengelabuhannya. Walaupun pengelabuhannya bersifat sementara dan ia bukanlah suatu langkah jangka panjang, ia masih tetap merupakan rencana yang baik apabila kita sudah kehabisan akal. Salah satu strategi ini yang paling menarik dalam bisnis Asia tidak salah lagi adalah penawaran untuk mendapatkan nomor-nomor beruntung untuk plat nomor mobil, nomor-nomor telepon, dan produk-produk lain. Padahal, nomor-nomor tersebut,bagaimanapun nantinya akan disalurkan. Tetapi, dengan memanfaatkan kepelikan budaya Asia, pihak-pihak yang berwenang dan instansi-instansi terkait berhasil meraih keuntungan besar dengan menggunakan strategi ini untuk menciptakan " Sesuatu yang berharga dari sesuatu yang tak berarti. Strategi 8. Jalan keluar rahasia melalui Cheng Cang. Inti strategi ini adalah memukul musuh di titik yang paling sedikit dijaganya, yaitu punggungnya. Penggunaan dalam bisnis dapat disamakan dengan perencanaan untuk hal-hal yang tak terduga. Dalam perencanaan, seseorang berharap bahwa rencana semula akan berhasil dengan gemilang. Namun seandainya gagal, alternatif sama efektifnya sudah harus dipersiapkan, bahkan alternatifnya bisa terbukti lebih efektif. Strategi 9. Mengamati kebakaran dari seberang sungai. Strategi ini tidak menganjurkan semata-mata menanti pesaing memusnahkan dirinya sendiri tetapi juga untuk menunggu waktu yang tepat untuk menyerang. Strategi ini dapat digunakan bersama-sama dengan Strategi 3, 5 dan 6. Dapat juga diartikan menjauhkan diri dari situasi-situasi yang tak menentu. Strategi 10. Sebilah pisau belati yang tersarung dalam sebuah senyum. Strategi ini menyarankan agar seseorang itu berusaha memenangkan kepercayaan musuh dan menyerangnya selagi mereka lengah. Seni tersenyum dalam memenangkan bisnis, sebenarnya para salesman yang trampil itu mungkin saja sudah menyempurnakan strategi ini menjadi seni. Tentu saja," Belati " tak dapat ditafsirkan secara harfiah dalam penerapannya dalam bisnis. Namun dalam konteks menjual, dibelakang senyuman yang trampil terdapat niat untuk melakukan penjualan terbesar dari pelanggan. Sesungguhnyalah, salesman yang lihai menggunakan senyumannya untuk mendapatkan keuntungan maksimal, dengan memikat dan mempesona pelanggan. Strategi 11. Pohon prem mati menggantikan pohon persik. Strategi ini mengisyaratkan bahwa apabila kedua belah pihak kekuatannya seimbang, maka pihak yang satu perlu dengan sengaja mencederai dirinya sedikit untuk mengalihkan perhatian musuh dan memenangkan persaingan. Dalam bisnis mungkin saja sesorang itu tak akan terus-menerus menang sebagai akibat hambatan-hambatan sumberdaya finansiil, manusia dan teknologi. Oleh karena itu tukar menukar tak terhindarkan untuk memperoleh posisi diatas angin. Berkorban dalam bisnis sama perlunya; 1) Mengadakan obralan untuk menghabiskan stok lama guna mendapatkan uang untuk produk-produk baru; 2) Membagi-bagikan sampel-sampel produk secara gratis untuk memikat pelanggan bertindak sebagai " umpan" untuk memancing pembelian-pembelian produk-produk sesungguhnya; 3) " Beli satu, dapat gratis satu " merupakan siasat bisnis lainnya untuk memperoleh volume penjualan yang lebih besar dan melindungi bagian pasar. Strategi 12. Mencuri kambing sambil berlalu. Strategi ini mengisyaratkan seseorang tak boleh melewatkan kesempatan, tak perduli betapa kecilnya atau tidak berartinya ia itu. Strategi ini menganjurkan suatu sikap untuk selalu bersiaga agar seseorang bisa memanfaatkan peluang-peluang kapan saja dan dimana mereka muncul. Dari 12 strategi dari RRC ini, masih sangat relevan untuk kita terapkan dalam mengembangkan agribisnis di pedesaan, karena sektor ini masih dapat diandalkan, terbukti pada saat krisis ekonomi di Indonesia 1997-an, yang merupakan pemicu awal jatuhnya pak Harto pada era reformasi saat itu. Tinggal bagaimana kita menggali potensi, menjalin komunikasi, memperluas jaringan pemasaran, dan memanfaatkan setiap peluang dan kesempatan, serta mengoptimalkan sumberdaya alam, manusia, dan sumberdaya lainnya secara berdayaguna dan berhasilguna. Penulis : Masrukin, SP (Penyuluh Pertanian Madya, Dinas Pertanian daerah Kabupaten Nganjuk) Normal 0 false false false IN X-NONE X-NONE MicrosoftInternetExplorer4 /* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:"Table Normal"; mso-tstyle-rowband-size:0; mso-tstyle-colband-size:0; mso-style-noshow:yes; mso-style-priority:99; mso-style-qformat:yes; mso-style-parent:""; mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; mso-para-margin:0cm; mso-para-margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:10.0pt; font-family:"Calibri","sans-serif"; mso-bidi-font-family:"Times New Roman";}