Sejak tahun 1998 sampai dengan tahun 2004, pemerintah telah melepas 10 varietas tebu unggul baru. Dan pada tahun 2008, Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia (P3GI) Pasuruan telah melepas lagi beberapa varietas baru yang mempunyai keunggulan dan mempunyai sifat adaptif tinggi. Karakteristik dari varietas yang dihasilkan pada tahun 2008 sebagai berikut: 1. Varietas PS 865 Varietas tebu PS 865 menunjukkan keragaan tanaman yang memuaskan pada lahan Aluvial, Latosol, Podsolik dan Grumosol di Subang yang sepenuhnya mengandalkan tadah hujan. Tingkat ketersediaan air yang terbatas dan jeluk tanah terbatas untuk perakaran, tampaknya pertumbuhan tanaman PS 865 sangat baik. Sementara varietas utama lainnya tampak mulai terhambat pertumbuhannya pada kondisi lengas tanah yang semakin terbatas. Pada kondisi serangan hama penggerek batang dan penggerek pucuk yang sangat tinggi, terlihat bahwa PS 865 sangat toleran terhadap serangan tersebut sehingga mampu memberikan produksi tebu yang paling memuaskan. Hasil pengamatan secara deskriptif terlihat bahwa pada jenis lahan berat (liat) seperti di Jatitujuh, terlihat keragaan tanaman seragam pertumbuhannya dengan rata-rata 8-10 batang per meter juring. Pertunasan terjadi secara serempak, berbatang tegak, diameter sedang sampai besar. Ketahanan terhadap kekeringan tampak pada tingkat perkecambahan pada keprasannya yang tidak terganggu pertumbuhannya. Tampaknya PS 865 sangat cocok untuk dikembangkan pada lahan tegalan dengan tingkat kesuburan yang terbatas. 2. Varietas PS 881 Varietas PS 881 sebelumnya dengan nama seri PSBM 88-113, merupakan keturunan hasil persilangan polycross BQ 33 pada tahun 1988. Setelah diseleksi sejak dini di wilayah Bungamayang, dan diuji adaptasi di wilayah Jawa Timur ternyata cocok dikembangkan pada lahan dengan spesifik lokasi Inceptisol, Vertisol dan Ultisol dengan tipe iklim C2 (Oldeman). Potensi rendemen yang tinggi dengan kategori kemasakan awal giling, dengan pertumbuhan cepat dengan kadar sabut sekitar 13-14%. Secara nyata kemasakan varietas PS 881 lebih cepat dari pada PS 851, dan sedikit lebih awal dari PS 862. Sebagai varietas masak awal,yang penting bahwa selama tanaman telah berumur 8 bulan atau lebih, maka pada bulan Mei-Juni harus sudah ditebang. Sifat pembungaan adalah sedang, oleh karena itu jadwal tebang terhadap varietas ini harus lebih pasti. 3. Varietas PS 882 Varietas PS 882 sebelumnya dengan nama seri PSBM 88-144, merupakan keturunan hasil persilangan polycross BU 794 pada tahun 1988. Setelah diseleksi sejak dini di wilayah Bungamayang, dan diuji adaptasi di wilayah Jawa Timur ternyata cocok dikembangkan pada lahan dengan spesifik lokasi Inceptisol, Vertisol dan Ultisol dengan tipe iklim C2 (Oldeman). PS 882 menunjukkan puncak rendemen pada pertengahan Juni dimana lebih lambat kemasakannya dibandingkan PS 881, tetapi lebih cepat masak dibanding BL. Peningkatan rendemen varietas uji BL, baru dimulai pada pertengahan Juli, hingga Agustus masih ada peningkatan yang mulai melambat. Oleh karena itu klon PS 881 masuk kategori kemasakan awal, PS 882 masuk kategori kemasakan awal-tengah dan varietas uji BL masuk kategori kemasakan lambat. 4. Varietas KENTUNG (KT) Varietas Kentung (KT) sebelumnya banyak dikenal sebagai PL 54 di wilayah PTPN X, atau SS 57 di Lampung, dan beberapa wilayah lainnya, pada awalnya beradaptasi baik di Kediri dan sekitarnya. Khususnya pada lahan bertekstur ringan (geluh-pasiran), dengan tipologi kelengasan lahan cucukp, tampaknya KT berkembang baik. Pada kondisi lahan terganggu drainasenya dan pada lahan kering tanpa pengairan kurang memuaskan pertumbuhannya. Potensi rendemen tinggi dengan tipe kemasakan awal, berbunga sporadis, kadar sabut sekitar 12-13%. Oleh : Ir.Sri Puji Rahayu, MM/ yayuk_edi@yahoo.com Sumber : Eka Sugiyarta, 2008, Peranan Varietas Dalam Peningkatan Produksi dan Produktivitas Gula, P3GI, Pasuruan.