Dengan makin meningkatnya kesejahteraan dan tingkat kesadaran masyarakat akan pentingnya gizi, serta meningkatnya jumlah penduduk, kebutuhan daging semakin meningkat. Berdasarkan data Kementerian Pertanian dalam hal ini Direktorat Jenderal Peternakan, kebutuhan daging sapi saat ini sebesar 6,5 kg/kapita/tahun. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, 30% -35%-nya kita masih impor berupa sapi bakalan, daging sapi beku. Hal ini cukup menguras devisa Negara yang tercatat oleh Ditjen Peternakan mencapai 5,1 triliun per tahunnya. Dan ini akan terus berlanjut meningkat seiring dengan meningkatnya kesejahteraan dan kesadaran masyarakat akan gizi serta meningkatnya jumlah penduduk. Untuk itu, perlu dilakukan upaya-upaya agar ada peningkatan populasi sapi dan produksi daging lokal melalui kebijakan pemerintah yang kondusif, baik bagi perkembangan usaha peternakan sapi skala besar /industri, menengah maupun skala kecil. Sehubungan dengan hal tersebut, pemerintah telah mengeluarkan kebijakan program "Pencapaian Swasembada Daging Sapi (PSDS)" dengan lima kegiatan utama yaitu : 1) penyediaan bakalan/daging local; 2) peningkatan produksi dan produktivitas; 3) pencegahan pemotongan betina produktif; 4) penyediaan bibit; dan 5) pengendalian distribusi pemasaran. Salah satu langkah nyata untuk memenuhi swasembada daging tahun 2014, adalah penyediaan bibit sapi. Untuk mendapatkan daging sapi yang berkualitas, tentunya harus berasal dari sapi yang berkualitas pula. Kementerian Pertanian c.q Direktorat Jenderal Peternakan mengembangkan bibit sapi unggul, baik lokal maupun impor. Salah satu sapi lokal yang dikembangkan di Indonesia adalah "sapi Madura". Untuk mendapatkan sapi Madura yang sehat dan layak potong, tentunya harus dipilih bibit yang baik dan sehat pula. Sesuai standar mutu bibit sapi Madura yang dikeluarkan oleh Departemen Pertanian c.q. Direktorat Jenderal Peternakan (SPI-Nak/01/43/1988), standar umum sapi Madura yang harus dipenuhi sebagai bibit sapi potong adalah : 1. Sapi bibit bebas dari segala cacat fisik seperti : cacat mata (kebutaan), tanduk patah, pincang, lumpuh, kaki dan kuku abnormal serta tidak terdapat kelainan tulang punggung atau cacat tubuh lainnya; 2. Sapi bibit betina harus bebas dari cacat alat reproduksi , abnormal ambing, serta tidak menunjukkan gejala kemandulan; 3. Sapi bibit jantan, siap sebagai pejantan serta tidak cacat pada alat kelaminnya; 4. Sapi bibit harus sehat yaitu bebas dari penyakit menular seperti mulut dan kuku (foot and mouth disease); penyakit ngorok; rinde pest; brucellosis (keluron); anthrax (radang limpa); blue tangue (lidah biru). Sedangkan standar khusus yang harus dipenuhi adalah, adanya sifat-sifat kualitataif dan kuantitatif sapi bibit yang baik antara lain : Sifat Kualitatif : 1. Warna : merah bata atau merah coklat bercampur putih dengan batas yang tidak jelas pada bagian pantat; 2. Tanduk : kecil, pendek serta mengarah ke sebelah luar 3. Bentuk badan : tubuh kecil dan kaki pendek ; Betina : tidak berpunuk ; Jantan : punuk berkembang baik dan jelas. Sifat Kuantitatif : 1. Tinggi gumba : a) Betina : minimal 105 cm dan maksimal 108 cm; b) Jantan : minimal 115 cm dan maksimal 121 cm; 2. Umur ternak : a) Betina : 18 - 24 bulan (maksimal ganti gigi satu pasang); b) Jantan : 24 - 36 bulan (minimal ganti gigi satu pasang dan maksimal dua pasang). Dengan diperolehnya bibit yang unggul dan berkualitas, akan mempengaruhi tigkat produktivitas sapi. Tingkat produktivitas ternak secara umum ditentukan oleh faktor genetic, faktor lingkungan dan interaksi antar kedua faktor tersebut. Menurut Hardjosubroto dalam bukunya yag berjudul "Aplikasi Pemuliabiakan Ternak di Lapangan", bahwa secara matematis, gabungan faktor genetic dan lingkungan yang mempengaruhi performans dari seekor ternak, dapat ditentukan dengan rumus sebagai berikut : P = G + E P = performans G = genetic E = environment Pengaruh iklim terhadap performans sapi Madura Seperti kita ketahui, yang disebut iklim adalah faktor lingkungan yang meliputi. temperatur, kelembaban, curah hujan, dan musim (musim hujan dan musim kemarau). Pada musim kemarau, dimana curah hujan kurang dan kelembaban udara kurang, akan mempengaruhi ketersediaan pakan sehingga aktivitas reproduksi dan fertilitas sapi turun. Selain itu, iklim juga berpengaruh pada berat badan dan ukuran bibit sapi, hal ini disebabkan pada musim hujan pakan sapi cukup tersedia (banyak rumput/ tanaman hijauan yang tumbuh), sehingga ketersediaan pakan tercukupi baik jumlah maupun nilai gizinya. Meskipun demikian, sapi Madura mempunyai kelebihan bila dibandingkan dengan sapi impor, yaitu mempunyai daya tahan dan adaptasi yang cukup tinggi terhadap perubahan lingkungan. Hal ini menunjukkan bahwa sapi Madura masih dapat ditingkatkan produktivitasnya terutama dengan memberikan pakan yang baik. Selanjutnya agar memperoleh sapi yang berproduktivitas tinggi, tentunya harus melalui pemilihan bibit yang berkualitas pula. Untuk itu bagi para peminat usaha peternakan sapi potong (sapi Madura) yang mengadakan pembibitan, adalah wajib hukumnya mengikuti petunjuk, pengarahan serta pengawasan dari instansi yang berwenang, seperti Dinas Peternakan setempat. Oleh : Sri Puji Rahayu, Penyuluh Pertanian Sumber : 1) Pedoman Standar Bibit Ternak di Indonesia, Ditjen Peternakan (1991) 2) Pedoman Budidaya Ternak Sapi Potong Yang Baik (Good Farming Practice, 2007) 3) Performans Produksi dan Reproduksi Sapi Madura (2007)