Loading...

Mengenal Biosaka

Mengenal Biosaka

1. Apa itu Biosaka?

Biosaka bukan merupakan pupuk ataupun pestisida dalam arti kimiawi. Biosaka adalah Elisitor, yaitu senyawa yang mengandung "sinyal" biokimia yang mampu memicu respon fisiologis pada tanaman untuk tumbuh lebih kuat, tahan hama, dan lebih produktif.

Etimologi: Berasal dari kata "Bio" (biologi/hidup) dan "Saka" (singkatan dari Soko Alam yang berarti "Dari Alam Kembali ke Alam").

Asal: Dipelopori oleh Bapak Muhamad Ansar dari Blitar, Jawa Timur.

2. Manfaat Biosaka

Penggunaan Biosaka secara rutin dapat memberikan dampak positif bagi petani, di antaranya:

Efisiensi Biaya: Mengurangi penggunaan pupuk kimia (Urea, NPK, dll) hingga 50-90%.

Ketahanan Tanaman: Meningkatkan imunitas tanaman terhadap serangan hama dan penyakit.

Kualitas Tanah: Memperbaiki struktur tanah dan menjaga mikroorganisme lokal.

Ramah Lingkungan: Aman bagi manusia dan ekosistem karena tidak menggunakan bahan kimia sintetis.

3. Kriteria Bahan (Rerumputan/Daun)

Kunci keberhasilan Biosaka terletak pada pemilihan bahan. Tidak semua tanaman bisa digunakan. Syaratnya adalah:

Sehat dan Sempurna: Daun tidak terkena hama, tidak berlubang, dan tidak jamuran.

Segar: Daun harus baru dipetik, tidak boleh layu atau disimpan lama.

Warna Konsisten: Tidak bercak-bercak atau berubah warna.

Minimal 5 Jenis: Gunakan minimal 5 jenis tanaman/rumput yang berbeda dari lingkungan sekitar lahan.

Tanaman yang Beradaptasi Baik: Pilih tanaman yang tumbuh subur di tempat yang keras atau jarang dimakan serangga.

4. Cara Membuat Biosaka (Proses Peremasan)

Proses pembuatan dilakukan dengan tangan (manual) untuk menjaga energi dan sinyal dari tanaman tetap utuh.

Alat dan Bahan:

Wadah (ember/baskom).

Air bersih (sekitar 2–5 liter). Hindari air kaporit.

Satu genggam campuran minimal 5 jenis daun terpilih.

Langkah-langkah:

Masukkan air ke dalam wadah.

Masukkan genggaman daun ke dalam air.

Remas perlahan di dalam air. Pastikan posisi tangan dan daun selalu berada di bawah permukaan air.

Jangan berhenti: Lakukan peremasan secara konsisten selama sekitar 15–30 menit.

Perhatikan perubahan: Air akan berubah warna (menjadi gelap/cokelat/hijau pekat) dan akan muncul sedikit busa halus. Jika sudah homogen dan terasa berminyak saat diraba, proses selesai.

Penyaringan: Saring larutan dan masukkan ke dalam botol.

Catatan Penting: Proses peremasan harus dilakukan dengan sabar dan tidak boleh menggunakan mesin/blender, karena tujuannya adalah mengeluarkan "sinyal" sel, bukan menghancurkan serat kasar tanaman.

5. Dosis dan Cara Aplikasi

Biosaka diaplikasikan dengan cara disemprotkan ke tanaman dalam bentuk kabut

Jenis Tanaman Dosis per Tangki (15-16 Liter) Frekuensi

Padi/Palawija 40 ml (sekitar 3-4 tutup botol) Setiap 10-14 hari sekali

Sayuran 20 - 30 ml Setiap 7 hari sekali

Tanaman Keras 50 ml Setiap 1 bulan sekali

Teknik Penyemprotan:

Gunakan nozzle semprot yang paling halus (bentuk kabut).

Arahkan semprotan ke atas agar embunnya jatuh mengenai daun secara merata.

Penyemprotan sebaiknya dilakukan pada sore hari (saat stomata daun terbuka).

6. Ciri Biosaka yang Berhasil

Warna homogen (tidak mengendap secara drastis).

Tidak berbau busuk (bau segar khas daun).

Dapat disimpan dalam waktu lama (bisa berbulan-bulan hingga bertahun-tahun jika diletakkan di tempat teduh).

Penyuluh pertanian BPP kecamatan Amonggedo telah melakukan penyuluhan tentang cara pembuatan biosaka di kantor BPP yang di hadiri oleh petani terlebih dahulu penyuluh menyampaikan materi mulai dari penyiapan bahan dan alat setelah selesai materi penyuluh dan petani bersama-sama melakukan pembuatan biosaka mulai dari proses awal sampai selesai tahap dan setelah di simpan beberapa hari biosaka yang di buat menunjukan bahwa biosaka jadi sesuai dengan kriteria