Tanah pertanian tidak hanya menentukan tingkat kesuburan dan kelangsungan hidup tanaman yang diusahakan akan tetapi juga merupakan media tumbuh bagi berbagai macam mikroorganisme baik yang bermanfaat maupun yang merugikan tanaman yang diusahakan. Salah satu mikroorganisme yang berperan penting dan dapat menyebabkan penyakit tanaman adalah mikroorganisme yang termasuk dalam kelompok patogen tular tanah (soil-borne pathogen). Patogen tular tanah adalah kelompok mikroorganisme yang sebagian siklus hidupnya berada di dalam tanah dan mempunyai kemampuan untuk menginfeksi dan menimbulkan penyakit pada tanaman. Umumnya patogen tular tanah memiliki kemampuan pemencaran dan bertahan dalam tanah dan hanya sedikit yang mempunyai kemampuan membentuk spora udara sehingga dapat memencar ke areal yang lebih luas (Garrett, 1970). Tanah sebagai media tumbuh bagi banyak mikroorganisme termasuk patogen tular tanah, memegang peranan sangat penting bagi pertumbuhan dan perkembangan mikroorganisme tersebut. Faktor-faktor tanah yang paling berperan dan mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan patogen tanah tersebut antara lain adalah temperatur, kelembaban, pH, tekstur tanah dan bahan organik tanah (Nurhayati, 2013). Patogen tular tanah pada tanaman kedelai yang disebabkan oleh jamur Rhizoctonia solani dikenal dengan nama penyakit Rebah Kecambah, Busuk Daun, Batang, dan Polong. Sedangkan yang disebabkan jamur Sclerotium rolfsii dikenal dengan nama penyakit Hawar Batang Kedelai. Gejala dan cara pengendalian penyakit tersebut seperti berikut:Gejala penyakit Rebah Kecambah, Busuk Daun, Batang, dan Polong yang disebabkan oleh jamur Rhizoctonia solani adalah pada tanaman kedelai yang baru tumbuh, terjadi busuk (hawar) di dekat akar; kemudian menyebabkan tanaman mati karena rebah. Pada daun, batang, dan polong, timbul hawar dengan arah serangan dari bawah ke atas. Bagian tanaman terserang berat akan kering. Pada kondisi sangat lembab, timbul miselium yang menyebabkan daun-daun akan lengket satu sama lain, menyerupai sarang laba-laba (web blight). Jamur Rhizoctonia solani membentuk sklerotia berwarna coklat sampai hitam, bentuk tidak beraturan dengan ukuran sampai 0,5 mm. Jamur Rhizoctonia solani bersifat polifag, mempunyai banyak tanaman inang dari tanaman pangan, sayuran, buah-buahan, dan tanaman hias sehingga sulit dikendalikan. Jamur Rhizoctonia solani tinggal di dalam tanah, mempunyai kemampuan saprofit tinggi, mampu hidup 3 bulan pada kultur kering dan 4 bulan pada kultur cair. Rhizoctonia solani bertahan hidup tanpa inang, serta hidup saprofit pada semua jenis sisa tanaman. Rhizoctonia solani dapat menimbulkan epidemi di daerah dengan kelembaban tinggi dan cuaca hangat karena dapat bertahan lama hidup dalam tanah dan menjadi sumber inokulum yang penting.Penyakit tular tanah yang disebabkan oleh jamur Sclerotium rolfsii pada tanaman kedelai dikenal sebagai penyakit Hawar Batang atau Rebah Semai. Gejala awal serangan terjadi pada pangkal batang atau sedikit di bawah permukaan tanah berupa bercak coklat muda yang berubah cepat menjadi berwarna gelap, meluas sampai hipokotil. Gejala layu mendadak merupakan gejala pertama yang timbul. Daun-daun yang terinfeksi mula-mula berupa bercak bulat, berwarna merah sampai coklat dengan pinggir berwarna coklat tua, kemudian mengering dan sering menempel pada batang mati. Gejala khas patogen ini adalah miselium putih yang terbentuk pada pangkal batang, sisa daun, dan pada tanah di sekeliling tanaman sakit. Miselium tersebut menjalar ke atas batang sampai beberapa sentimeter.Tanaman kedelai peka terhadap jamur ini sejak mulai tumbuh sampai pengisian polong. Kondisi lembab dan panas memacu perkembangan miselium yang kemudian hilang bila keadaan berubah menjadi kering. Pada keadaan lembab sekali, akan terbentuk sklerotia yang berbentuk bulat seperti biji sawi dengan diameter 1-1,5 mm. Karena mempunyai lapisan dinding yang keras, sklerotium dapat dipakai untuk mempertahankan diri terhadap kekeringan, suhu tinggi, dan hal lain yang merugikan. Serangan penyakit ini biasa terjadi, tetapi jarang yang berakibat serius. Namun pernah mengakibatkan penuruna hasil cukup tinggi pada kedelai yang ditanam secara monokultur atau rotasi pendek dengan tanaman lain yang peka.Pengendalian penyakit tular tanah dapat dilakukan secara fisik dan mekanis, kimiawi serta hayati. Pengendalian secara fisik dan mekanis dapat dilakukan dengan cara pengolahan atau penggarapan tanah yang baik, perbaikan saluran drainase dan penanaman dengan jarak tanam lebih lebar dapat menekan penyakit layu Schlerotium. Mencabut tanaman yang sakit di lapang, mengumpulkannya dalam kantong, serta membakarnya merupakan cara untuk mengendalikan penyakit layu oleh jamur Schlerotium atau Rhizoctonia, serta penyakit-penyakit yang disebabkan oleh virus. Di lapang, sumber infeksi atau sumber inokulum virus tanaman kedelai selain benih terinfeksi, dapat berupa tanaman atau budidaya sejenis, lain jenis, maupun tumbuhan liar. Oleh sebab itu, untuk memutus daur dan mengurangi sumber inokulum di lapang, pertanaman kedelai sebaiknya digilirkan dengan tanaman serealia atau umbi-umbian yang bukan inang virus kedelai (Nasir Saleh dan Sri Hardaningsih, 2013).Pengendalian secara kimiawi untuk menekan pekembangan penyakit layu Schlerotium atau Rhizoctonia dapat ditekan dengan perlakuan benih menggunakan fungisida, dan aplikasi fungisida sistemik berbahan aktif Dithane, Delsene, Manzale, dan Benlate. Penggunaan Benlate dengan konsentrasi 2-4 g/l paling efektif menekan penyakit layu yang disebabkan Schlerotium (Wahab et al. 1995) Pengendalian secara hayati pada penyakit busuk batang yang disebabkan oleh jamur Rhizoctonia solani dan layu oleh Sclerotium rolfsii dapat dikendalikan dengan beberapa jamur yang bersifat antagonis. Jamur antagonis Trichoderma harzianum dan Gliocladiumi roseurn, efektif menekan perkembangan jamur Rhizoctonia solani, Sclerotium rolfsii, Aspergillus neger, Fusarium sp, dan Colletotrichum dermatium (Hardaningsih, 1997). Penggunaan Biotric dengan bahan aktif Trichoderma harzianum masing-masing sebanyak 2,87 ku/ha dan 5,75 ku/ha pada daerah rhizosfer efektif menekan intensisat serangan penyakit layu Sclerotium rolfsii dari 52% turun menjadi 8 hingga 8,4% dan mempertahankan hasil 2 t/ha dibandingkan hanya 0,8 t/ha pada perlakuan kontrol (Sudantha, 2000).Penulis: Ir. Jamhari Hadipurwanta, MP (Penyuluh Pertanian Supervisor, BPTP Lampung)Sumber: 1) Nasir Saleh dan Sri Hardaningsih. 2013. Pengendalian Penyakit Terpadu Pada Tanaman Kedelai. Buku Kedelai Teknik Produksi dan Pengembangan. Badan Litbang Pertanian. 2) Nurhayati. 2013. Tanah dan Perkembangan Patogen Tular Tanah. Prosiding Seminar Nasional MKTI. Palembang. 3) Sumber bacaan lainnya.Sumber Gambar:https://www.google.co.id/search?q=gambar+busuk+batang+kedelai&tbm