PENDAHULUAN Hama dan penyakit merupakan masalah utama yang dihadapi petani dalam usahatani kedelai. Serangan hama dan penyakit pada tanaman kedelai terjadi mulai dari fase perkecambahan, pertumbuhan vegetatif dan generatif sampai menjelang panen. Serangan hama dan penyakit dapat menurunkan produksi serta berpotensi menurunkan kualitas hasil. Gejala serangan beberapa hama dan penyakit tertentu seringkali serupa atau mirip sehingga petani sering salah melakukan pengendaliannya. Oleh karena itu, gejala tersebut perlu diidentifikasi dengan tepat untuk menentukan cara pengendalian yang efektif dan efisien. Meskipun hama dan penyakit kedelai cukup banyak, namun berikut ini adalah beberapa hama dan penyakit utama pada tanaman kedelai berikut cara pengendaliannya. HAMA Lalat bibit kacang (Ophiomya phaseoli) Lalat bibit kacang menyerang sejak tanaman muda muncul hingga tanaman berumur 10 hari. Lalat betina meletakan telur pada tanaman muda yang baru tumbuh. Telur diletakan di dalam lubang tusukan antara epidermis atas dan bawah keping biji atau disisipkan dalam jaringan mesofil dekat pangkal keping biji atau pangkal helai daun pertama dan kedua. Telur berwarna putih seperti mutiara dan berbentuk lonjong berukuran panjang 0,31 mm dan lebar 0,15 mm. Setelah dua hari, telur menetas kemudian larva masuk ke dalam keping biji atau pangkal helai daun pertama dan kedua, kemudian membuat lubang gerekan. Selanjutnya larva menggerek batang melalui kulit sampai ke pangkal batang, dan berubah bentuk menjadi kepompong. Panjang larva bisa mencapai 3,75 mm. Kepompong mula-mula berwarna kuning kemudian berubah menjadi kecoklat-coklatan. Gejala serangan: Lalat kacang ditandai adanya bintik-bintik putih pada keping biji, daun pertama atau kedua yang merupakan bekas tusukan alat peletak telur (ovipositor) dari lalat kacang betina. Pengendalian Mulsa jerami Perlakuan benih (pada daerah endemik) Semprot insektisida saat tanaman berumur 7 hari, bila popuasi mencapai ambang kendali (1 imago/50 rumpun). Lalat Batang (Melanagromyza sojae) Imago berwarna hitam, bentuk tubuhnya serupa dengan lalat bibit kacang, dengan sayap transparan. Ukuran tubuh serangga betina 1,88 mm dan serangga jantan 3,90 mm. Telur diletakkan pada bagian bawah daun sekitar pangkal tulang daun di daun ketiga dan daun yang lebih muda. Telur berbentuk oval dengan ukuran panjang 0,36 mm dan lebar 0,13 mm. Setelah 2-7 hari telur menetas menjadi larva dan makan jaringan daun, kemudian menuju batang melalui tangkai daun dan masuk serta menggerek batang bagian dalam. Kepompong terbentuk di dalam batang dengan ukuran panjang 2,35 mm dan lebar 0,80 mm. Lalat batang kacang dapat juga menyerang kacang hiris, kacang uci, kacang hijau, Flemingia sp, Phaseolus sublobatur. Gejala Serangan: Pada daun muda, terdapat bintik-bintik bekas tusukan lalat peletak telur. Lubang gerekan larva pada batang dapat menyebabkan tanaman layu, mengering dan mati. Pengendalian Mulsa Jerami Perlakuan benih (pada daerah endemik) Semprot insektisida saat tanaman berumur 7 hari, bila popuasi mencapai ambang kendali (1 imago/50 rumpun). Aphis (Aphis glycines) Tubuh Aphis glycines berukuran kecil, lunak dan berwarna hijau agak kekuning-kuningan. Sebagian besar jenis serangga ini tidak bersayap, tetapi bila populasi meningkat, sebagian serangga dewasa membentuk sayap yang bening. Aphis dewasa yang bersayap ini kemudian berpindah ke tanaman lain untuk membentuk koloni yang baru. Aphis menyukai bagian muda dari tanaman inangnya. Panjang tubuh Aphis dewasa berkisar antara 1-1,6 mm. Nimfa Aphis dapat dibedakan dengan imagonya dari jumlah ruas antena. Jumlah antena nimfa instar pertama umumnya 4-5 ruas, instar kedua 5 ruas, instar ketiga 5-6 ruas dan instar keempat atau imago 6 ruas. Nimfa dan imago mengisap cairan tanaman. Aphis menyerang tanaman muda sampai tua. Cuaca yang panas pada musim kemarau sering menyebabkan populasi hama ini tinggi. Sampai saat ini, hama ini hanya menyerang tanaman kedelai. Gejala Serangan: Serangan pada pucuk tanaman muda menyebabkan pertumbuan tanaman kerdil. Hama ini juga bertindak sebagai vektor berbagai penyakit virus kacang-kacangan (Soybean Mosaic Virus, Soybean Yellow Mosaic Virus, Soybean Dwarf Virus dll). Pengendalian Tanam serempak Pemantauan secara rutin, apabila populasi tinggi semprot dengan insektisida. Ulat Grayak (Spodoptera litura) Serangga dewasa berupa ngengat abu-abu, meletakkan telur pada daun secara berkelompok. Ukuran tubuh ngengat betina 14 mm, sedangkan ngengat jantan 17 mm. Setiap kelompok telur terdiri dari 30-700 butir yang ditutupi oleh bulu-bulu berwarna merah kecoklatan. Telur akan menetas setelah 3 hari. Ulat yang baru keluar dari telur berkelompok di permukaan daun dan makan epidermis daun. Setelah beberapa hari, ulat mulai hidup berpencar. Panjang tubuh ulat yang telah tumbuh penuh 50 mm. Kepompong terbentuk didalam tanah. Setelah 9-10 hari, kepompong akan berubah menjadi ngengat dewasa. Ulat grayak aktif makan pada malam hari. Selain menyerang kedelai, ulat grayak menyerang jagung, tembakau, kacang hijau, bayam dan kubis. Gejala serangan: Ulat grayak makan meninggalkan epidermis atas dan tulang daun sehingga daun yang terserang dari jauh terlihat berwarna putih. Selain pada daun, ulat dewasa makan polong muda dan tulang daun muda, sedang pada daun yang tua, tulang-tulangnya akan tersisa. Pengendalian Tanam serempak Varietas Toleran (ijen) Spodoptera litura Nuclear polyhedrosis Virus (SINPV) Semprot dengan insektisida bila kerusakan daun 12,5%. Ulat helicoverpa (Heliothis) Telur diletakan secara terpencar satu per satu pada daun, pucuk atau bunga pada malam hari. Telur biasanya diletakan pada tanaman berumur 2 minggu setelah tanam. Telur berwarna kuning muda. Setelah 2-5 hari, telur menetas menjadi ulat. Ulat yang baru keluar kemudian makan kulit telur. Ulat muda makan jaringan daun, sedangkan ulat instar yang lebih tua sering dijumpai makan bunga, polong muda dan biji. Warna ulat tua bervariasi, hijau kekuning-kuningan, hijau, coklat atau agak hitam kecoklatan. Tubuh ulat sedikit berbulu. Panjang tubuh ulat pada pertumbuhan penuh 30 mm. Kepompong terbentuk di dalam tanah. Setelah 12 hari, menetas dan ngengat akan keluar. Warna tubuh ngengat kuning kecoklatan. Serangga ini banyak mempunyai tanaman inang (kacang hijau, kacang buncis, kacang tanah, gude, kentang, tomat, kapas, jagung, kubis, bawang merah,apel, jarak, tembakau, jeruk dan bunga matahari) Gejala Serangan: Ciri khusus cara makan ulat Helicoverpa adalah kepala dan sebagian tubuhnya masuk kedalam polong. Selain makan polong, ulat muda juga menyerang daun dan bunga. Pengendalian Tanam serempak Tanam tanaman perangkap (jagung) di pematang Semprot Helicoverpa armigera Nuclear Polyhedrosis Virus (HaNPV) Semprot dengan insektisida bila mencapai ambang kendali Kepik Hijau (Nezara viridula) Kepik hijau dewasa mulai datang di pertanaman menjelang fase berbunga. Telur diletakan secara berkelompok, rata-rata 80 butir, pada permukaan daun bagian bawah dan atas, polong dan batang tanaman. Bentuk telur seperti cangkir berwarna kuning dan berubah menjadi merah bata ketika akan menetas. Telur menetas setelah 5-7 hari. Kepik muda (nimfa) yang baru keluar tinggal bergerombol di atas kulit telur. Untuk menjadi serangga dewasa nimfa mengalami 5 instar yang berbeda warna dan ukurannya. Panjang tubuh nimfa instar 1-5 berturut-turut 1,2 mm, 2,0 mm, 3,6 mm, 6,9 mm, dan 10,2 mm. Pada pagi hari kepik biasanya tinggal dipermukaan daun bagian atas, tetapi pada siang hari akan turun ke bagian polong untuk makan dan berteduh. Tanaman inang adalah padi, kacang-kacangan, Crotalaria, kentang, wijen, jagung, tembakau, lombok, dan tephrosia. Gejala Serangan: Kepik muda dan dewasa merusak polong dan biji dengan menusukkan stiletnya pada kulit polong terus ke biji kemudian mengisap cairan biji. Kerusakan yang disebabkan kepik hijau ini menyebabkan penurunan hasil dan kualitas biji. Pengendalian Tanam serempak Pergiliran tanaman Tanam tanaman perangkap Sesbania rostrata Semprot insektisida Penggerek polong kedelai (Etiella zinckenella) Serangan E. zinckenella berwarna keabu-abuan dan mempunyai garis putih pada sayap depan, sedangkan E.hobsoni tidak ada garis putih di sayapnya. Telur diletakkan secara berkelompok 4-15 butir di bagian bawah daun, kelopak bunga atau pada polong. Telur berbentuk lonjong, diameter 0,6 mm. Pada saat diletakan telur berwarna putih mengkilap, kemudian berubah kemerahan dan berwarna jingga saat akan menetas. Setelah 3-4 hari telur menetas dan keluar ulat berwarna putih kekuningan, kemudian berubah menjadi hijau dengan garis merah memanjang. Ulat instar 1 dan 2 menggerek kulit polong, biji dan hidup di dalam biji. Ulat instar akhir mempunyai panjang 13-15 mm dengan lebar 2-3 mm. Kepompong berwarna coklat dengan panjang 8-10 mm dan lebar 2 mm, dibentuk dalam tanah. Setelah 9-15 hari kepompong berubah menjadi ngengat. Gejala Serangan: Tanda serangan berupa lubang gerek berbentuk bundar pada kulit polong. Apabila terdapat 2 lubang gerek pada polong berarti ulat sudah meninggalkan polong. Pengendalian Tanam Serempak Pelepasan parasitoid Trichogramma bactrae-bactrae Semprot insektisida PENYAKIT Karat Penyebab: Jamur Phakopsora pachyrhizi Gejala Serangan: Pada daun pertama berupa bercak-bercak berisi ureadia (badan buah yang memproduksi spora). Bercak ini berkembang ke daun-daun diatasnya dengan bertambahnya umur tanaman. Bercak terutama terdapat pada permukaan bawah daun. Warna bercak coklat kemerahan seperti warna karat, bentuk bercak umumnya bersudut banyak berukuran sampai 1 mm. Bercak juga terlihat pada bagian batang dan tangkai daun. Siklus Penyakit dan Epidemiologi: Epidemi didorong oleh panjangnya waktu daun dalam kondisi basah dengan temperatur kurang dari 28oC. Uredia muncul 9-10 hari setelah infeksi, dan urediniospora diproduksi setelah 3 minggu. Kondisi lembab yang panjang dan periode dingin dibutuhkan untuk menginfeksi daun-daun dan sporulasi. Penyebaran uredionspora dibantu hembusan angin pada waktu hujan. Patogen ini tidak ditularkan melalui benih. Pengendalian Menanam varietas tahan Aplikasi fungisida mancoseb, triadimefon, bitertanol, difenokonazol. Pustul Bakteri Penyebab: bakteri Xanthomonas axonopodis pv glycines Gejala Serangan: Gejala awal berupa bercak kecil berwarna hijau pucat, tampak pada kedua permukaan daun, menonjol pada bagian tengah lalu menjadi bisul warna coklat muda atau putih pada permukaan bawah daun. Gejala ini sering dikacaukan dengan penyakit karat kedelai. Tetapi bercak karat lebih kecil dan sporanya kelihatan jelas. Bercak bervariasi dari bintik kecil sampai besar tak beraturan, berwarna kecoklatan. Bercak kecil bersatu membentuk daerah nekrotik yang mudah robek oleh angin sehingga daun berlubang-lubang; pada infeksi berat menyebabkan daun gugur. Siklus Penyakit dan Epidemiologi: Bakteri bertahan pada biji, sisa-sisa tanaman, dan di daerah perakaran. Beberapa gulma, Dolichos biflorus, buncis subspesies tertentu, dan kacang tunggak bisa menjadi inang. Bakteri masuk ke tanaman melalui lubang-lubang alami dan luka pada tanaman Pengendalian Menanam benih bebas patogen Membenamkan sisa tanaman terinfeksi Hindari rotasi dengan buncis dan kacang tunggak Antraknose Penyebab: Jamur Colletotrichum dematium var truncatum dan C. destructivum Gejala Serangan: Penyakit Antraknose menyerang batang, polong dan tangkai daun. Akibat serangan adalah perkecambahan biji terganggu; kadang-kadang bagian-bagian yang terserang tidak menunjukkan gejala. Gejala hanya timbul bila kondisi menguntungkan perkembangan jamur. Tulang daun pada permukaan bawah tanaman terserang biasanya menebal dengan warna kecoklatan. Pada batang akan timbul bintik-bintik hitam berupa duri-duri jamur yang menjadi ciri khas Siklus Penyakit dan Epidemiologi: Patogen bertahan pada bentuk miselium pada residu tanaman atau pada biji terinfeksi. Miselium menjadi penyebab tanaman terinfeksi tanpa menimbulkan perkembangan gejala sampai tanaman menjelang masak. Infeksi batang dan polong terjadi selama fase reproduksi apabila cuaca lembab dan hangat. Pengendalian Menanam benih kualitas tinggi dan bebas patogen Perawatan benih terutama pada benih terinfeksi Membenamkan sisa tanaman terinfeksi Aplikasi fungisida benomil, klorotalonil,captan pada fase berbunga sampai pengisian polong. Rotasi dengan tanaman selain kacang-kacangan. Downey Mildew Penyebab: Jamur Peronospora manshurica Gejala Serangan: Pada permukaan bawah daun timbul bercak warna putih kekuningan, umumnya bulat dengan batas yang jelas, berukuran 1-2 mm. Kadang-kadang bercak menyatu membentuk bercak lebih lebar yang selanjutnya dapat menyebabkan bentuk daun abnormal, kaku dan mirip penyakit yang disebabkan oleh virus. Pada permukaan bawah daun terutaman di pagi hari yang dingin timbul miselium dan konidium. Siklus Penyakit dan Epidemiologi: manshurica mampu bertahan sampai beberapa musim dalam bentuk oospora pada daun atau biji, menginfeksi tanaman dalam kondisi dingin dengan gejala klorotik pada daun. Apabila terjadi embun maka sporangium akan terbentuk, dan selanjutnya tersebar pada daun baru dengan perantaraan udara. Perkembangan penyakit didukung oleh kelembaban tinggi dan suhu 20-22 oC. Sporulasi terjadi pada suhu 10-25 oC. Pada suhu di atas 30 oC atau di bawah 10 oC sporulasi tidak terjadi. Daun-daun lebih tahan terhadap infeksi dengan bertambahnya umur tanaman dan pada suhu tinggi. Apabila jumlah bercak kuning bertambah maka ukuran daun menyusut. Pengendalian Perawatan benih dengan fungisida Membenamkan tanaman terinfeksi Rotasi tanam selama 1 tahun atau lebih Virus Mosaik (SMV) Gejala Serangan: Tulang daun pada daun yang masih muda menjadi kurang jernih. Selanjutnya daun berkerut dan mempunyai gambaran mosaik dengan warna hijau gelap di sepanjang tulang daun. Tepi daun sering mengalami klorosis. Tanaman terinfeksi SMV ukurannya biji mengecil dan jumlah biji berkurang sehingga hasil biji berkurang. Bila penularan virus terjadi pada tanaman berumur muda, penurunan hasil berkisar antara 50-90%. Penurunan hasil sampai 93% telah dilaporkan pada lahan percobaan yang dilakukan inokulasi virus mosaik kedelai. Siklus penyakit dan Epidemiologi: SMV dapat menginfeksi tanaman kacang-kacangan:Kedelai, buncis, kacang panjang, kapri, (Pisum sativum), orok-orok (Crotalaria spp) dan berbagai jenis kara (Dolichos lablab, Canavalia enciformis, Mucuna sp). Virus SMV tidak aktif pada suhu 55-70°C dan tetap efektif pada daun kedelai kering selama 7 hari pada suhu 25-33°C. Partikel SMV suka dimurnikan karena cepat mengalami agregasi. Pengendalian Mengurangi sumber penularan virus Menekan populasi serangga vektor Menanam varietas toleran Penyusun: Fauziah Yulia Adriyani (Penyuluh BPTP Lampung) Sumber: Badan Litbang Pertanian, Departemen Pertanian. 2009. Pedoman Umum PTT Kedelai. Balai Penelitian Kacang-kacangan dan Umbi-umbian, Badan Litbang Pertanian, Departemen Pertanian. 2011. Laporan Tahun 2011 “Penelitian Aneka Kacang dan Umbi”. Balai Penelitian Kacang-kacangan dan Umbi-umbian, Badan Litbang Pertanian, Departemen Pertanian. 2011. Hama dan Penyakit pada Tanaman Kedelai.