Loading...

Mengenal Hawar Daun Bakteri dan Pengendaliannya Menggunakan Agensi Hayati

Mengenal Hawar Daun Bakteri dan Pengendaliannya Menggunakan Agensi Hayati
Penyakit hawar daun bakteri (HDB) merupakan salah satu penyakit padi utama yang tersebar di berbagai ekosistem padi di negara-negara penghasil padi, termasuk di Indonesia. Penyakit disebabkan oleh bakteri Xanthomonas oryzae pv. oryzae (Xoo). Patogen ini dapat mengenfeksi tanaman padi pada semua fase pertumbuhan tanaman dari mulai pesemaian sampai menjelang panen. Penyebab penyakit (patogen) menginfeksi tanaman padi pada bagian daun melalui luka daun atau lobang alami berupa stomata dan merusak klorofil daun. Hal tersebut menyebabkan menurunnya kemampuan tanaman untuk melakukan fotosintesis yang apabila terjadi pada tanaman muda mengakibatkan mati dan pada tanaman fase generative mengakibatkan pengisian gabah menjadi kurang sempurna. Bila serangan terjadi pada awal pertumbuhan, tanaman menjadi layu dan mati, gejala ini disebut kresek. Gejala kresek sangat mirip dengan gejala sundep yang timbul akibat serangan penggerek batang pada fase tenaman vegetatif. Pada tanaman dewasa penyakit hawar daun bakteri menimbulkan gejala hawa (blight). Baik gejala kresek maupun hawar, gejala dimulai dari tepi daun, berwarna keabu-abuan dan lama-lama daun menjadi kering (Gambar 1). Bila serangan terjadi saat berbunga, proses pengisian gabah menjadi tidak sempurna, menyebabkan gabah tidak terisi penuh atau bahkan hampa. Xanthomonas sp biasanya menyerang pada saat tanaman mulai memasuki masa generatif atau pada usia 50 hari ke atas. Serangan patogen ini ditandai dengan terjadinya matinya jaringan tanaman yang ada di pinggir daun sehingga daun tampak kering di bagian pinggirnya. Pada tahap lanjut, bagian yang kering ini akan semakin meluas ke arah tulang daun hingga seluruh daun akan tampak mengering. Penyakit biasanya menyerang tanaman melalui luka “ luka yang ada pada jaringan daun seperti luka akibat mekanis seperti pemotongan daun pada saat akan tanam ataupun terkena angin kencang sehingga banyak daun yang pecah.Tanaman yang terserang oleh Xanthomonas sp tetap akan mengeluarkan malai secara normal. Namun pengisian malai akan mengalami gangguan yang diakibatkan oleh rusaknya daun bendera yang merupakan alat vital bagi tanaman padi selama proses ini. Pengisian malai hanya akan sampai pada ujungnya saja, sedangkan pangkal malai akan hampa. Kerugian akibat rusaknya daun bendera sangat besar, yaitu berkisar antara 30-50 %.Untuk mengendalikan penyakit ini, petani biasanya menggunakan bakterisida baik yang berbahan aktif tembaga, ataupun yang yg berbahan aktif antibiotik streptomycyn. Pada hamparan yang luas, penggunaan berlebihan bahan aktif di atas sangat sulit dikontrol dan hanya akan menyebabkan kekebalan OPT terhadap bahan aktif bersangkutan. Selain itu juga dapat membunuh musuh alami dari Xanthomonas sp, dalam hal ini adalah Coryne bacteriumPencegahan dan pengobatan :1. Menggunakan benih yang sehat.2. Perendaman benih menggunakan larutan Corynebacterium dosis 5-10 cc/liter air selama kurang lebih 30 menit.3. Tidak memotong ujung daun pada bibit yang ditanam.4. Penggunaan pupuk organik dan pupuk berimbang.5. Mengurangi dosis pupuk N, terutama dari golongan amida (UREA).6. Tidak menggunakan benih dari tanaman yang terserang.7. Penyemprotan menggunakan Corynebacterium secara berkala sebelum terjadinya serangan.8. Penyemprotan menggunakan Corynebacterium secara berkala pada tahap awal terjadinya serangan. (diolah dari berbagai sumber)