Tanaman jahe (Zingiber officinale) merupakan tanaman herba tahunan yang bernilai ekonomi tinggi. Tanaman herbal ini menjadi komoditas yang banyak dicari masyarakat pasca-merebaknya virus corona (covid-19) di Indonesia. Jahe merupakan salah satu tanaman rempah yang dipercaya dapat meningkatkan daya tahan tubuh dalam menghadapi wabah pandemi virus corona (covid-19). Komoditas jahe ini bisa menjadi bahan dasar minuman alami yang dapat dikonsumsi sehari-hari oleh warga, untuk mempertahankan daya tahan tubuh supaya tetap stabil. Dikenal tiga jenis tanaman jahe yang dibudidayakan di Indonesia, yaitu jahe merah, jahe putih besar dan jahe putih kecil yang merupakan hasil dari pengembangan varietas lokal dan bukan hasil dari pemuliaan yang terprogram (Devy dan Sastra, 2006). Informasi mengenai keragaman sangat diperlukan dalam program pemuliaan tanaman, karena dengan semakin tersedianya informasi tersebut, semakin mudah dalam menentukan kedudukan atau kekerabatan antar varietas yang dapat dijadikan sebagai dasar seleksi tanaman. Reinwain et al. (1994) menyatakan keberhasilan program pemuliaan tanaman untuk memperbaiki karakter suatu tanaman sangat ditentukan oleh ketersediaan sumber genetik. Permasalahan pengembangan budidaya dan produktivitas jahe adalah terbatasnya bibit yang unggul dan kurangnya informasi mengenai varietas-varietas jahe lainnya, sehingga petani hanya menggunakan bibit yang bersumber dari pertanaman sebelumnya yang produktivitasnya masih belum memberikan keuntungan yang besar terhadap petani. Selain itu juga, tanaman jahe sulit melakukan pembungaan dan pembentukan biji. Oleh karena itu, jahe selalu diperbanyak secara vegetatif melalui rimpangnya, sehingga menyebabkan keanekaragaman (keragaman genetik) yang sangat kecil. Pengumpulan informasi keragaman dilakukan melalui kegiatan pengkayaan seperti eksplorasi. Dengan kegiatan ini peluang munculnya potensi genetik yang diinginkan dapat tersedia (Puslitbanbun, 2007). Oleh karena itu, perlu dilakukannya identifikasi terhadap suatu tanaman. Karakterisasi terhadap koleksi (aksesi) yang dilakukan, bertujuan untuk mendapatkan data sifat atau karakter morfologi agronomis (deskripsi morfologi dasar) sehingga dapat dibedakan fenotip dari setiap aksesi dengan cepat dan mudah, dengan menduga seberapa besar keragaman genetik yang dimiliki (Bermawie, 2005). Karateristik morfologi tanaman jahe dapat dilihat berdasarkan ciri vegetatif maupun ciri generatifnya yang berguna untuk mendapatkan deskripsi dan klasifikasi tanaman jahe sehingga dapat mempermudah dalam menentukan varietas tanaman jahe tersebut. Jahe Simemangan merupakan salah satu jahe lokal yang masih ditemukan di Desa Pussui, Kecamatan Luyo, Kabupaten Polman Provinsi Sulbar. Jahe Simemangan ini telah dikenal dan dikembangkan secara turun temurun kurang lebih 150 tahun yang lalu. Jahe simemangan memiliki karakteristik morfologis diantaranya rata-rata tinggi tanaman 67,5 cm, batang semunya berwarna hijau (Green Group 138 Moderate Yellow Green B), rata-rata jumlah batang semu per rumpun 4, rata-rata tinggi batang semu 98,5 cm, panjang ruas pertama batang 1 cm, warna ruas pertama hijau muda, rata-rata panjang daun 32,6 cm, rata-rata lebar daun 3,2 cm, Warna daun atas Green Group 139 Dark Yellowish Green A, aroma daun tajam, warna daun bawah green Group 137 moderate Olive Green B, daun berbentuk pita, Ujung daun Runcing, jumlah helai daun 22,33, Tinggi tangkai bunga 26,33 cm, Bentuk Bunga Mahkota tersusun, jumlah kelopak bunga 20, bungan berbentuk pita, warna kulit rimpang Grey Brown Group 199, Light Yellow Brown C, warna daging rimpang Grey Brown group199, Dark Greys Yellow D, rata-rata panjang rimpang 9 cm, Jumlah Ruas per rumpun 5,66, Lebar Rimpang 6,5, rata-rata berat rimpang 30,37 gram, akar berwarna coklat, dan rata-rata panjang akar 8,9 cm. Jahe simemangan ini hampir memiliki kesamaan dengan jahe merah pada umumnnya. Kelebihannya adalah aromanya lebih tajam dibandingkan dengan jahe lainnya. Jahe merah merupakan tanaman asli yang ditanam oleh petani Indonesia, dan juga sudah digunakan turun temurun untuk berbagai penyakit. Berbagai penelitian menyebutkan bahwa jahe merah memiliki fungsi sebagai antiinflamasi dan antioksidan, sehingga dapat membantu memperkuat sistem kekebalan tubuh dari serangan virus maupun bakteri. Jahe merah tersebar hampir di seluruh daerah di Indonesia, seperti di daerah Jawa, Sumatra dan Sulawesi. Berdasarkan penelitian Dugasani pada 2010 dalam Comparative antioxidant and anti-inflammatory effects of gingerol dan shogaol, Jahe Merah mengandung gingerol dan shogaol yang terbukti memiliki kemampuan meningkatkan kekebalan tubuh supaya tidak terserang penyakit, bakteri dan virus berbahaya termasuk virus corona. Selain berfungsi sebagai antioksidan, tanaman rimpang bernama latin Zingiber officinale ini juga berfungsi sebagai antiemetik hingga antibakteri dan peradangan. Kadar gingerol pada jahe merah lebih tinggi dibanding jahe gajah yang ternyata paling sering digunakan masyarakat saat ini. Kadar gingerol yang lebih tinggi, berat per rimpang yang lebih berat, dan kandungan minyak atsiri yang lebih banyak membuat jahe merah lebih efektif buat kesehatan masyarakat dibanding jahe gajah dan juga jahe emprit. Jahe yang banyak digunakan sebagai penyedap masakan atau penambah rasa dalam minuman, baik untuk kesehatan terutama di tengah merebaknya pandemi corona ini. Jahe memilki sifat anti-inflamasi, antibakteri, antivirus sehingga baik untuk menjaga daya tahan tubuh Jahe Simemangan merupakan salah satu sumber daya genetik yang harus dimanfaatkan pengembangannya dan peletariannya harus dijaga. Untuk itu pemerintah maupun semua elemen masyarakat perlu segera menerapkan langkah-langkah konservasi baik secara insitu maupun exitu untuk menghindari kepunahan. Penyusun: Religius Heryanto, S.ST (Penyuluh BPTP Balitbangtan sulawesi Barat)