Loading...

Mengenal Kemiri Sunan (Reutealis trisperma)

Mengenal   Kemiri  Sunan (Reutealis trisperma)
Setelah perang dunia kedua berakhir, terjadi perkembangan terhadap usaha pengeboran (eksplorasi) minyak yang sangat pesat yang berasal dari fosil, walaupun investasinya sangat mahal tetapi keuntungannya sangat besar, sehingga dapat mengembalikan modal dalam waktu relatif sangat singkat. Perusahaan perminyakan bisa meraih laba sangat besar, jauh lebih besar dari pada jenis usaha lain. Pada tahun 1970-1980an, terjadi lonjakan produksi yang sangat melimpah, Indonesia dan negara di Kawasan Timur Tengah ikut menikmati "rezeki" berlimpah dari eksplorasi minyak tersebut. Setelah dieksplorasi, selama lebih dari tiga dasawarsa, cadangan minyak mentah yang terus dipompa dari perut bumi tersebut kini semakin menipis jumlahnya. Cadangan yang ada kini sudah tidak mampu memenuhi kebutuhan yang terus meningkat. Biaya untuk mengekploitasi cadangan yang ada juga (Reutealis trisperma (Blanco) Airy Shaw) semakin meningkat. Seiring dengan itu, permintaan global terhadap energi kini meningkat tiga kali lipat sejak tahun 1950 hingga setara dengan 10.000 juta ton minyak setiap tahun. Pada tahun 2020 an, pemakaian minyak cenderung naik 50%. Cadangan minyak dan gas bumi Indonesia diperkirakan tidak akan berumur lebih dari 25 tahun. Tanpa adanya penemuan cadangan baru, cadangan yang ada hanya akan cukup untuk memenuhi konsumsi 18 tahun saja untuk minyak bumi, 50 tahun untuk gas bumi, dan sekitar 150 tahun untuk batu bara. Produksi Minyak Indonesia, saat ini diperkirakan produksi minyak hanya mencapai 410.000 barel per hari, sedangkan jumlah kebutuhan terus meningkat, diperkirakan pada tahun 2015 kebutuhan akan mencapai 1 juta barel per hari dan pada tahun 2025 mencapai 1,5 juta barel per hari. Bila dihitung dari pertumbuhan otomotif dimana terjadi penjualan lebih dari 5.000.000 unit motor dan 500.000 unit mobil pertahun, maka kebutuhan bahan bakar minyak akan mencapai 2,4 juta barrel per hari pada tahun 2014 dan 3,4 juta barel per hari pada tahun 2019. Potensi Minyak Indonesia, bahan baku minyak Indonesia di peroleh dari berbagai jenis tanaman yang dapat dijadikan sebagai sumber minyak nabati pengganti minyak fosil yang sudah mulai berkurang tersebut. Singkong (Manihot utilisima) dan tebu (Saccharum officanarum L.) dapat dijadikan sumber bahan baku Bioetanol pengganti bensin, kelapa sawit (Elaeis oleifera), kelapa (Cocos nucifera), jarak pagar (Jatropha curcas L.) dan kemiri minyak sebagai sumber bahan baku biodiesel pengganti solar. Kemiri minyak (R. trisperma), di Indonesia banyak tumbuh di daerah Majalengka, Sumedang dan Garut di Jawa Barat. Kemiri minyak pernah ditanam sebagai perkebunan di daerah Tangerang, Banten sekitar abad ke 18 untuk memenuhi permintaan pasar dunia terhadap Tung oil, namun tidak berkembang. Nama lain dari kemiri minyak adalah kemiri china, jarak bandung, muncang leuweung, jarak kebo, kemiri sunan, dan kaliki banten. Kemiri minyak berasal dari Philipina dan menyebar ke Asia Selatan termasuk Indonesia. Kemiri minyak merupakan tanaman tahunan, termasuk tanaman binaan Direktorat Jenderal Perkebunan sesuai Surat Keputusan Mentan No: 3599/Kpts/PD.310 /10/2009 tanggal: 19 Oktober 2009. Tanaman kemiri minyak mampu menghasilkan biji sebanyak 5-11 ton biji kering per hektar per tahun setara dengan 2,5-5,5 ton minyak kasar per hektar per tahun. Biji kemiri minyak, apabila diekstrak akan menghasilkan minyak nabati yang tidak hanya dapat digunakan sebagai sumber bahan baku pembuatan biodiesel, juga sebagai bahan baku industri cat, pernis, tinta, pengawet kayu, kosmetik, dan farmasi. Minyak nabati ini termasuk minyak yang cepat mengering, sehingga termasuk bahan dasar cat dan pernis berkualitas tinggi. Memperhatikan keragaman kegunaan, begitu banyaknya manfaat kemiri minyak sangat berpotensi untuk dikembangka di indonesia. Makin meningkatnya lahan kritis, gencarnya usaha untuk memperoleh bahan bakar alternatif terbarukan dan berkesinambungan, meningkatnya industri oleo-kimia, dan besarnya potensi pendapatan pekebun yang dapat diperoleh dari usaha tani kemiri minyak, pengembangan jenis tanaman ini akan menjadi sangat penting dan strategis. Oleh karena itu diperlukan standar teknis budidaya yang baku yang dapat dipedomani untuk semua pihak yang berkepentingan. Penulis : AGUS SUTARMAN., Penyuluh Pertanian Madya Pusluhtan. Sumber: Pedoman Teknis Budidaya Keniri Sunan Direktorat Jenderal Perkebunan. Tahun 2010.