Pendahuluan Lampung merupakan pemasok kopi robusta terbesar di Tanah Air dengan produksi rata-rata 100.000 - 120.000 ton pertahun dengan luas areal kopi mencapai 163.837 hektare (BPS, 2019), menyebar di 5 kabupaten yaitu Lampung Barat, Tanggamus, Way Kanan, Lampung Utara dan Pringsewu. Permasalahan sejumlah petani kopi di Lampung selain permasalahan harga jual yang rendah, saat panen kopi adalah serangan hama penyakit. Beberapa tahun terakhir hasil panen terus menurun, dengan produktivitas per ha hanya sekitar 7-9 kuintal, padahal dulu produktivitas kopi per ha bisa mencapai 2 ton lebih. Salah satu faktor penyebab turunnya produksi adalah serangan penyakit kanker batang, merupakan penyakit baru yang menyerang pertanaman kopi rakyat di Lampung sejak tahun 2010. Penyakit ini berpotensi meluas dan menimbulkan kerugian nyata sehingga dapat mengancam keberlanjutan produksi kopi. Penyebabnya belum diketahui secara pasti, Namun dari hasil penelitian menunjukkan patogen penyakit kanker batang ini disebabkan oleh cendawan Fusarium, Solani. Insidensi Penyakit pada Tanaman Kopi Gejala penyakit terlihat pada tanaman kopi yang meliputi gejala pada daun, keseluruhan tanaman, dan pada batang, sedangkan pada akar tidak ditemukan abnormalitas. Daun menguning selanjutnya layu dan rontok. Gejala ini dimulai dari pucuk sehingga tajuk menunjukkan gejala mati pucuk (dieback). Batang utama menunjukkan gejala kanker, yaitu kematian jaringan yang mengendap, pecah-pecah berwarna kehitaman, terutama dekat permukaan tanah hingga ketinggian 1 m). Bila kanker menggelangi sebagian besar batang maka tanaman akan mati. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Penyakit Kanker Batang Penggunaan herbisida berlebihan Umur tanaman kopi yang sudah tua Pemupukan kurang Bioekologi dan Gejala Penyakit Kanker Batang yang akhir ini banyak menyerang tanaman kopi di Lampung . gejala mirip dengan penyakit kanker belah ( kanker celah/penyakit sobek) disebabkan oleh jamur Armillaria sp, yang banyak terdapat di kebun kopi arabika di lereng utara dan barat dataran tinggi Ijen (kebun-kebun dengan ketinggian 1300-1600 m). Adapun gejala ditandai dengan: daun-daun menguning, layu dan akhirnya gugur serta terjadi kematian cabang-cabang. Pada pangkal batang dan akar tunggang terdapat celah-celah memanjang yang masuk dalam ke dalam kayu. Apabila celah dibuka, tampak dinding celah dilapisi jaringan jamur yang rapat , berwarna putih, seperti bulu dan berbau jamur yang khas. Kayu menjadi lunak, busuk kering dan terdapat banyak garis coklat kehitam-hitaman. Pada akar-akar tanaman terdapat rizomorf yang berwarna coklat tua sampai coklat kehitam-hitaman. Sebagian besar akar-akar busuk dan mati, sebelum mati seringkali pohon membentuk banyak akar adventif baru yang tampak sehat. Pengendalian Pengendalian dapat dilakukan dengan cara : (1) Tanaman sakit dibongkar sampai akar-akarnya kemudian dibakar agar tidak dapat menjadi sumber infeksi; (2) dibuat drainase antara tanaman sakit dengan tanaman sehat; (3) pada bagian kebun yang terinfeksi jamur Armillaria sp, setelah dibersihkan dari sisa akar, biarkan bera selama lebih kurang satu tahun; (4) gunakan fungisida tembaga dengan cara dioleskan pada batang yang sakit dengan konsentrasi 10 %; (5) Berikan belerang pada saat tanam, sebelum atau saat melakukan penyulaman dengan dosis 150-200 gr per lubang. Penyusun: Nasriati Sumber: Jurnal Institut Pertanian Bogor (IPB) dan Fakultas Pertanian Universitas Jember