Loading...

Mengenal Pepaya Carvita / California

Mengenal Pepaya Carvita / California
Varietas Unggul Pepaya Carvita Agrihorti atau yang juga disebut Calivornia ini adalah pepaya hibrida yang buahnya berukuran kecil, rasa manis, warna daging merah orange, dan kandungan vitamin C tinggi. Pepaya Carvita Agrihorti merupakan hasil persilangan antara tetua betina pepaya BT-2 dan tetua jantan BT-4. Varietas ini telah terdaftar sebagai varietas unggul baru dan diizinkan untuk dikembangkan berdasarkan SK Menteri Pertanian No.030/2015. Umur panen pepaya ini tergolong genjah,sekitar 7 bulan setelah panen. Jumlah buah per tanaman mencapai 70 buah/pohon/4 bulan dengan hasil buah antara 40-7-ton/ha/4 bulan. Saat ini, Upaya perbaikan varietas pepaya terus dilakukan untuk dapat menghasilkan varietas unggul baru yang sesuai dengan keinginan konsumen. Tiga buah pepaya yang diinginkan konsumen yaitu buah kecil hingga sedang (bobot 500-1.500 gr/buah), rasa manis, warna daging buah merah dan aroma wangi. Semua keinginan konsumen terdapat di pepaya Carvita Agrihorti. Pepaya ini dengan keunggulan tersebut akan dapat berkembang di Indonesia karena pasar moderen lebih menghendaki buah pepaya berukuran kecil. Harga buah pepaya berukuran kecil lebih mahal dibandingkan dengan pepaya yang berukuran besar. Saat ini harga buah pepaya hawai di tingkat petani mencapai Rp 5.000/kg sedangkan pepaya besar (Dampit, Jingga, Cibinong) harganya hanya Rp 2.000/kg. Selisih harga yang cukup besar ini dapat menjadi daya tarik petani untuk menanam pepaya yang berukuran kecil. Pepaya Carvita Agrihorti mempunyai keunggulan kandungan vitamin C yang tinggi, pepaya Carvita Agrihorti mempunyai kandungan vitamin C tinggi antara 90-139 mg/100 gram daging buah segar. Kandungan vitamin C pepaya pada umumnya berkisar antara 60-70 mg/100 gram. Sedangkan pepaya Calina dan Merah Delima mempunyai kandungan vitamin C 80 mg/100 gram daging buah. Sehingga pepaya ini dapat menjadi salah satu pilihan dalam memenuhi kebutuhan gizi masyarakat. Kekurangan pepaya varietas ini adalah daging buahnya lunak, masa simpan buah pendek, dan rentan terhadap hama Thrips dan Apid. Kelemahan tersebut dapat diatasi dengan menerapkan teknik budidaya yang intensif dan penanganan pascapanen yang tepat sehingga buah sampai ke konsumen dalam keadaan prima. Cara budidaya pepaya ini sama dengan jenis pepaya lainnya. 1. Benih direndam dalam air semalam lalu disemai dalam polibag yang berisi campuran tanah, pupuk kandang, dan pasir (perbandingan 1:1:1). Setiap polibag ditanam dua biji. 2. Lahan dibuat bedengan dengan lebar 2,5 m, tinggi 20 cm dan panjang disesuaikan dengan kondisi lahan atau kebutuhan. Antarbedengan dipisahkan parit dengan lebar 50 cm dan dalam 30 cm. 3. Pada bedengan lalu dibuat lubang tanam dengan ukuran 50 cm x 50 cm x 50 cm dan jarak antar lubang 2 m x 2 m. 4. Lubang tanam diisi pupuk kandang 10 kg/lubang tanam, sebaiknya pupuk kandang dicampur dengan pupuk hayati Trichoderma. 5. Bibit pepaya dipindahkan ke lapangan setelah berumur 45 hari sejak ditanam di polibag. 6. Pemeliharaan tanaman meliputi penyiangan, penyiraman, pemupukan, penjarangan,serta pengendalian hama dan penyakit. 7. Pupuk yang digunakan yaitu NPK 16-16-16 atau campuran pupuk tunggal. Dosis pupuk NPK untuk tanaman berumur kurang dari satu bulan adalah 100 gram/tanaman/bulan. Setelah tanaman berumur lebih dari 1 bulan, dosis pupuk ditingkatkan menjadi 150-300 gram/tanaman/bulan. 8. Setelah mulai berbuah, selain NPK, tanaman perlu dipupuk KCL 50-100 gram / tanaman / bulan. Pupuk diletakkan pada lubang yang dibuat di sekeliling tanaman lalu ditutup tanah. 9. Penyiraman dilakukan setelah pemupukan, terutama bila tidak turun hujan 10. Pengendalian serangan Organisme Pengganggu tanaman, bagian tanaman yang terserang penyakit dibuang. Dapat pula dilakukan penyemprotan pestisida/fungisida dengan dosis sesuai anjuran. 11. Tunas-tunas samping yang tumbuh dibuang setiap kali tunas muncul. Penulis : Akhmad Ansyor, SP, M.Sc Sumber Bacaan : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura dan Balai Penelitian dan Pengembangan Buah Tropika Sumber Gambar : Koleksi TSP Natar, BPTP Lampung